Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa salah satu tanda hati yang melekat kuat pada dunia adalah beratnya melangkah menuju ketaatan yang menuntut pengorbanan kenyamanan. Ketika seseorang berulang kali memilih urusan dunia di atas panggilan ibadah, maka yang sedang dibentuk bukan sekadar kebiasaan, tetapi karakter batin yang semakin berani meremehkan perintah Tuhan, dan sikap ini menjadi awal dari aktivitas ”menantang Tuhan”.... 
Hikmah Jum`at, 13 Pebruari 2026
Berikut Prof DR. H. Maimun Zubair M. Pd menjelaskan.
TAHUKAH kita tentang aktivitas yang ”menantang Tuhan?”. Yakni sikap mental dan pola perilaku yang secara sadar mengabaikan nilai dan perintah Ilahi yang diyakini kebenarannya. Ketika seseorang mengetahui panggilan ibadah, memahami maknanya, namun berulang kali memilih menunda atau mengabaikannya demi kenyamanan dan urusan dunia, atau dengan kata lain, terjadi inkonsistensi antara keyakinan dan tindakan.
Dalam logika psikologi dan etika, pengabaian yang terus diulang akan menumpulkan rasa bersalah dan menormalisasi kelalaian, sehingga manusia merasa aman walau menjauh dari nilai yang diakuinya sendiri.
Secara sosial, sikap ini juga melemahkan penghormatan terhadap simbol-simbol agama yang berfungsi menjaga kesadaran kolektif, sementara secara eksistensial ia mencerminkan ilusi otonomi, seolah manusia sepenuhnya berdaulat atas waktu dan hidupnya tanpa keterikatan pada otoritas moral transenden.
Inilah yang secara rasional disebut sebagai “menantang Tuhan”: bukan karena Tuhan dilemahkan, tetapi karena perintah-Nya kita keluarkan dari prioritas hidup kita, sehingga kelalaian terasa wajar dan ketaatan dianggap opsional.
Gambaran paling nyata dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Saat azan berkumandang misalnya, sebagian orang tetap tenggelam dalam pekerjaan, rapat, transaksi, atau tetap di depan layar gawai, seolah panggilan itu hanyalah suara latar yang tidak menuntut respons. Padahal, dalam tradisi Islam, azan adalah seruan suci yang memanggil manusia untuk berhenti sejenak dari dunia untuk segera menghadap Sang Pencipta.
Ketika seseorang mendengar panggilan tersebut namun memilih untuk terus sibuk, sebenarnya sedang terjadi dialog batin yang halus: ia tahu siapa yang memanggil, tetapi merasa ada urusan yang lebih penting untuk didahulukan. Inilah awal dari sikap ”menantang Tuhan” secara diam-diam, bukan dengan penolakan, melainkan dengan penundaan yang terus diulang.
Fenomena serupa juga tampak ketika shalat berjamaah ditegakkan, di mana banyak orang bergegas menuju masjid atau langgar, meninggalkan kenyamanan, melangkah dengan kesadaran bahwa ibadah kolektif memiliki nilai yang besar di sisi Allah. Namun ada pula yang tetap sibuk dengan urusan lain, duduk santai, atau merasa cukup, dengan alasan “nanti saja” dan “masih ada waktu”.
Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa salah satu tanda hati yang melekat kuat pada dunia adalah beratnya melangkah menuju ketaatan yang menuntut pengorbanan kenyamanan. Ketika seseorang berulang kali memilih urusan dunia di atas panggilan ibadah, yang sedang dibentuk bukan sekadar kebiasaan, tetapi karakter batin yang semakin berani meremehkan perintah Tuhan, sungguh sikap ini juga awal dari ”menantang Tuhan”. (Buka dan renungkan QS. Yunus ayat 7-8).
Dalam konteks yang lain, saat bulan puasa misalkan, sikap menantang Tuhan bisa terlihat lebih kasat mata. Puasa sejatinya adalah ibadah yang mengajarkan pengendalian diri dan empati sosial. Namun, ketika ada orang yang makan dan minum dengan santai di kedai-kedai yang tertutup setengah badan, maka yakinlah bahwa sikap yang demikian itu yang dipertaruhkan bukan hanya adab, melainkan penghormatan terhadap syiar agama.
Imam an-Nawawi menegaskan bahwa menghormati simbol-simbol ibadah adalah bagian dari ketakwaan, karena di sanalah nilai-nilai keimanan dijaga secara kolektif. Ketika sikap acuh ini dipelihara, puasa kehilangan makna sosialnya, dan ibadah direduksi menjadi urusan pribadi yang terlepas dari tanggung jawab moral terhadap sesama.
Pada bulan Ramadhan, potret lain pun sering terlihat. Saat malam dipenuhi dengan salat tarawih, ada sebagian orang justru larut dalam aktivitas yang tidak bernilai, larut dalam obrolan yang tidak perlu, asik dalam permainan serta senda gurau yang melalaikan. Mereka mungkin tidak merasa sedang melakukan suatu aktivitas tandingan, dan kelalaian semacam ini menunjukkan bahwa Ramadhan belum benar-benar dihayati sebagai momentum penyucian jiwa.
Hasan al-Bashri pernah mengingatkan bahwa ibadah yang berat bagi hati yang sakit adalah ibadah yang menuntut kesungguhan dan kehadiran batin. Ketika tarawih hanya dipandang sebagai rutinitas orang lain, sementara diri sendiri sibuk dengan hal-hal remeh, di situlah ibadah berubah menjadi cermin yang memperlihatkan jarak antara tubuh dan hati.
Sikap santai saat orang-orang bergegas menuju tempat salat juga menjadi simbol kuat dari pergeseran prioritas hidup. Bukan soal cepat atau lambatnya langkah, tetapi tentang kesiapan batin dalam menyambut panggilan Tuhan. Umar bin Khattab pernah menegaskan bahwa waktu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.
Ketika seseorang terbiasa menunda ibadah tanpa rasa bersalah, sesungguhnya ia sedang melatih dirinya untuk hidup tanpa rasa takut kepada Allah. Dari sinilah lahir keberanian yang keliru-”menantang Tuhan”—keberanian untuk terus menunda, mengabaikan, dan merasa aman dari konsekuensi spiritual. (Buka dan renungkan QS. Al-Anbiya ayat 1-2).
Para ulama tasawuf mengingatkan bahwa ”menantang Tuhan” tidak selalu berarti melawan-Nya secara terang-terangan. Imam Ibn Atha’illah as-Sakandari menyebutkan bahwa salah satu bentuk tipu daya paling halus adalah ketika seseorang merasa tenang dalam kelalaian. Ia tidak gelisah ketika meninggalkan ibadah, tidak risau saat menunda kebaikan, dan tidak merasa kehilangan apa pun ketika jauh dari Allah. Pada titik ini, tantangan kepada Tuhan bukan lagi berupa sikap, tetapi telah menjadi kondisi hati.
Ironisnya, semua ini sering dibungkus dengan dalih kesibukan, tuntutan hidup, dan realitas zaman. Manusia modern merasa dunia bergerak terlalu cepat untuk memberi ruang bagi jeda spiritual. Padahal Islam sejak awal justru hadir untuk menata ritme hidup, agar manusia tidak larut dan kehilangan arah. Ketika dunia selalu didahulukan dan ibadah selalu dipinggirkan, saat seperti itu sesungguhnya keseimbangan sedanag runtuh, dan manusia perlahan kehilangan kepekaan terhadap makna hidup.
Tulisan hikmah ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi siapa pun, karena setiap manusia memiliki titik lemah dan masa lalai. Namun, refleksi ini penting agar kita tidak terbiasa dengan sikap yang seakan menantang Tuhan. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyabar, tetapi kesabaran-Nya bukan berarti meremehkan panggilan-Nya. Setiap azan yang berkumandang, setiap jamaah yang ditegakkan, setiap puasa yang dijalankan, dan setiap malam yang dihidupkan dengan ibadah adalah undangan kasih sayang dari Tuhan agar manusia kembali menata hati.
Jika aktivitas sehari-hari mulai membuat kita berani menunda panggilan Ilahi, mungkin bukan Tuhan yang menjauh, melainkan kitalah yang terlalu sibuk berjalan ke arah lain. Dan di situlah, tanpa disadari, tantangan kepada Tuhan bermula—bukan dengan kata-kata, tetapi dengan pilihan-pilihan kecil yang terus diulang hingga hati terbiasa jauh dari-Nya. (Buka dan renungkan QS. Al-Kahfi ayat 28).
Sebagai catatan pinggir, aktivitas yang ”menantang Tuhan” pada hakikatnya lahir bukan dari sikap membangkang secara terbuka, melainkan dari kebiasaan menunda, mengabaikan, dan menormalisasi kelalaian terhadap panggilan Ilahi.
Ketika azan tak lagi menggugah, ibadah kolektif terasa ringan untuk ditinggalkan, syiar agama dipandang remeh, dan kesibukan dunia selalu dijadikan alasan, sesungguhnya yang sedang terjadi adalah pergeseran prioritas hidup dan melemahnya kesadaran spiritual.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan tulisan ini sebagai refleksi, mengajak setiap diri untuk kembali menata hati dan kesadaran, menempatkan Tuhan pada posisi utama dalam ritme hidup, agar kesibukan tidak berubah menjadi kelalaian, dan rutinitas tidak menjelma menjadi keberanian mengabaikan syari’at-Nya secara halus.
Prof. DR. H. Maimun Zubair adalah Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram

0 Komentar