![]() |
Hikmah Jum`at, 01 Mei 2026 |
GEGAP gempita musim haji selalu menghadirkan lanskap spiritual yang tidak pernah kehilangan daya pikatnya. Dari berbagai penjuru dunia, jutaan manusia bergerak dalam satu tarikan napas yang sama: memenuhi panggilan Ilahi sebagai dhuyufurrahman tamu-tamu Allah.
Mereka datang bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai representasi dari kerinduan panjang umat manusia kepada sumber makna terdalam dari kehidupan. Di tengah hiruk pikuk keberangkatan itu, ada getaran batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata—perpaduan antara haru, rindu, harap, dan pasrah yang menyatu dalam satu perjalanan suci menuju Makkah dan Madinah.
Apa kata Allah kepada Ibrahim kala itu benar-benar terbukti: ”Wa adzdzin fin-nâsi bil-ḫajji ya’tûka rijâlaw wa ‘alâ kulli dlâmiriy ya’tîna ming kulli fajjin ‘amîq”. (Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh). QS. Al Hajj ayat 28.
Pertama-tama, perjalanan haji adalah perjalanan rindu. Rindu kepada Baitullah, rumah suci yang selama ini hanya dikenal melalui cerita, gambar, dan doa-doa yang menghadap ke arahnya.
Ka’bah bukan sekadar bangunan fisik; ia adalah poros spiritual umat Islam, titik orientasi yang setiap hari disapa dalam saalat lima waktu. Namun, selama ini ia hanya hadir dalam bayangan dan keyakinan. Maka ketika para jamaah mulai bertolak, sesungguhnya mereka sedang menjawab panggilan rindu yang telah lama terpendam. Ada keinginan kuat untuk menyaksikan langsung keanggunan Ka’bah, menyentuh kiswah dan dindingnya, berdiri di hadapannya dengan hati yang bergetar. Rindu itu bukan sekadar emosional, melainkan eksistensial—rindu untuk kembali kepada pusat, kepada asal, kepada Tuhan.
Di sisi lain, musim haji juga menghadirkan wajah moderasi dan toleransi dalam beragama yang sangat nyata. Di sana, berbagai mazhab, tradisi, dan latar belakang keagamaan bertemu tanpa harus saling meniadakan—Perbedaan itu hanya sebagai penciri, bukan sebagai pemecah.
Jamaah dari berbagai negara dengan praktik keagamaan yang beragam tetap bisa berdampingan dalam satu ruang ibadah yang sama. Perbedaan cara berdoa, cara berpakaian, atau bahkan cara memahami teks keagamaan tidak menjadi sumber konflik, melainkan menjadi mosaik keindahan yang memperkaya pengalaman spiritual bersama. Tidak ada saling klaim, apalagi memandang salah terhadap aliran yang lain. Haji mengajarkan bahwa keberagamaan tidak harus seragam untuk menjadi sah; ia justru menemukan maknanya dalam keberagaman yang dikelola dengan sikap saling menghormati.
Lebih dari itu, haji adalah panggung besar multikulturalisme. Tidak ada peristiwa lain di dunia yang mempertemukan begitu banyak bangsa, bahasa, warna kulit, dan budaya dalam satu gerakan kolektif yang sama. Dari Afrika hingga Asia, dari Eropa hingga Amerika, semua hadir dengan identitas masing-masing, namun larut dalam satu tujuan: mencari ridha Tuhan. Dalam thawaf misalnya, semua bergerak melingkar mengelilingi Ka’bah tanpa memandang asal-usul. Dalam sa’i, semua berlari kecil antara Shafa dan Marwah, meneladani perjuangan Hajar. Dalam wukuf di Arafah, semua berpadu dalam diam yang penuh makna, seolah-olah sedang menunggu pengadilan akhir. Multikulturalisme dalam haji bukan sekadar slogan, melainkan pengalaman konkret yang dirasakan langsung oleh setiap jamaah.
Momentum haji juga menjadi pertemuan akbar yang tidak mengenal sekat sosial. Di hadapan Tuhan, semua atribut duniawi seakan luruh. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, yang berpendidikan tinggi atau rendah, yang kuat atau lemah. Semua mengenakan pakaian ihram yang sederhana—dua helai kain putih tanpa jahitan bagi laki-laki—yang menjadi simbol kesetaraan dan kefanaan. Dalam kondisi ini, manusia diingatkan bahwa status sosial hanyalah konstruksi dunia yang tidak memiliki nilai di hadapan Tuhan. Yang membedakan hanyalah ketakwaan, sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata, tetapi dirasakan dalam keikhlasan hati.
Pertemuan ini juga menjadi ajang perjumpaan budaya dari seluruh dunia. Setiap jamaah membawa cerita, tradisi, dan kebiasaan dari negaranya masing-masing. Di satu sudut, kita bisa melihat jamaah dari Asia Tenggara dengan kelembutan sikapnya; di sudut lain ada jamaah dari Afrika dengan semangat dan ekspresi yang khas; sementara itu jamaah dari Timur Tengah dengan kedekatan geografis dan historisnya dengan tanah suci. Semua perbedaan ini tidak menimbulkan jarak, melainkan menjadi jembatan untuk saling mengenal. Haji menjadi ruang dialog budaya yang paling otentik, di mana manusia belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan anugerah.
Dalam konteks sosial, haji juga memiliki dimensi yang sangat kuat sebagai modal sosial. Gelar “haji” yang disematkan setelah seseorang menunaikan ibadah ini bukan sekadar simbol religius, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang luas. Namun yang menarik, dalam proses pelaksanaan haji itu sendiri, semua status sosial justru dilebur. Seorang pejabat tinggi bisa saja tidur bersebelahan dengan petani sederhana; seorang miliarder bisa berjalan bersama buruh dalam satu barisan. Pengalaman ini menciptakan kesadaran baru bahwa pada dasarnya manusia adalah setara. Modal sosial yang lahir dari haji bukan hanya soal prestise, tetapi juga tentang transformasi cara pandang terhadap sesama.
Haji juga merupakan napak tilas perjalanan para tokoh tauhid. Setiap ritual yang dilakukan memiliki akar historis yang dalam, yang merujuk pada kisah-kisah para nabi dan orang-orang saleh. Thawaf mengingatkan pada perjuangan Nabi Ibrahim dalam membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail. Sa’i menghidupkan kembali kisah Hajar yang berlari antara dua bukit demi mencari air untuk anaknya. Wukuf di Arafah menjadi simbol pertemuan manusia dengan Tuhannya, sekaligus mengingatkan pada hari kebangkitan. Melempar jumrah adalah simbol perlawanan terhadap godaan setan, sebagaimana yang dialami Nabi Ibrahim. Semua ritual ini bukan sekadar gerakan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Lebih jauh lagi, haji adalah momen untuk mengulang kembali perjalanan kenabian di tengah lanskap alam yang keras. Padang pasir yang kering, bukit-bukit tandus, dan cuaca yang ekstrem menjadi bagian dari pengalaman yang harus dilalui oleh setiap jamaah. Kondisi ini mengingatkan bahwa dakwah para nabi tidak berlangsung dalam kenyamanan, melainkan dalam perjuangan yang penuh tantangan. Maka, setiap langkah yang ditempuh oleh para jamaah haji menjadi momen kesempatan untuk menghadirkan kembali jejak perjuangan para nabi—merasakan bagaimana beratnya jalan dakwah, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk melanjutkan nilai-nilai pengorbanan, keteguhan, dan jangan pernah membayangkan suasana yang nyaman dan enak saat berhajji, akan tetapi bayangkanlah bagaimana perjalanan hajji Nabi SAW pada masa awal kenabaiannya.
Dengan merasakan langsung kondisi tersebut, jamaah diajak untuk merenungkan kembali makna pengorbanan, ketabahan, dan keteguhan iman. Haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang menuntut kesabaran dan keikhlasan.
Semua ritual, semua pertemuan, semua pengalaman, pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: mendekatkan diri kepada Allah. Dalam keramaian jutaan manusia, setiap individu justru diajak untuk menemukan kesunyian batinnya sendiri. Dalam gerakan yang seragam, setiap orang memiliki dialog personal dengan Tuhannya. Haji mengajarkan bahwa spiritualitas tidak harus menjauh dari dunia, tetapi justru bisa ditemukan di tengah keramaian dunia itu sendiri.
Sebagai catatan pinggir, bahwa gegap gempita keberangkatan jamaah haji, dengan segala dinamika dan maknanya, pada akhirnya adalah cermin dari kerinduan manusia yang paling dalam—kembali kepada Tuhan. Dalam setiap langkah menuju Makkah dan Madinah, dalam setiap doa yang dipanjatkan, dan dalam setiap air mata yang jatuh, tersimpan harapan bahwa perjalanan ini tidak hanya mengubah status, tetapi juga mengubah jiwa. Dan mungkin, di situlah letak keindahan haji yang sesungguhnya—sebuah perjalanan yang tidak hanya membawa manusia ke tempat suci, tetapi juga membawa mereka lebih dekat kepada kesucian.[]
Penulis: Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram

0 Komentar