Ustaz Prof. Dr. H. Maimun Zubair, M.Pd ketika menyampaikan ceramah di Masjid Al Achwan Griya Pagutan Undah Mataram
Tahun Baru Hijriah 1448 H Saatnya Bersyukur, Bermuhasabah, dan Menata Kembali Arah Kehidupan

BidikNews.net,Mataram - Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar perpindahan angka dari 1447 menjadi 1448 Hijriah. Lebih dari itu, momentum Tahun Baru Islam merupakan kesempatan berharga bagi setiap Muslim untuk melakukan refleksi diri, mengevaluasi perjalanan hidup, dan menata kembali tujuan kehidupan agar semakin dekat kepada Allah SWT.

‎Pesan inilah yang disampaikan oleh Ustaz Prof. Dr. H. Maimun Zubair, M.Pd dalam kultum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H di hadapan jamaah Masjid Al-Achwan, Griya Pagutan Indah. 

‎Dalam suasana penuh kekhusyukan, beliau mengajak jamaah untuk memaknai pergantian tahun sebagai sarana memperkuat rasa syukur, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

‎Pesan pertama yang disampaikan adalah pentingnya bersyukur karena Allah SWT masih memberikan kesempatan usia kepada kita hingga memasuki tahun 1448 Hijriah. Tidak semua orang yang pernah bersama kita pada tahun sebelumnya masih diberi kesempatan untuk menyaksikan datangnya tahun baru ini. Karena itu, setiap tambahan usia sejatinya merupakan nikmat sekaligus amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

‎Menurut beliau, usia bukan sekadar angka yang bertambah, melainkan modal kehidupan yang terus berkurang. Setiap pergantian tahun mengingatkan bahwa jatah hidup semakin pendek dan kesempatan beramal semakin terbatas. Oleh sebab itu, rasa syukur yang paling tepat bukan hanya diucapkan melalui lisan, tetapi diwujudkan dalam bentuk peningkatan kualitas ibadah dan amal saleh.

‎Lebih lanjut, Prof. Maimun mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah, yaitu evaluasi diri terhadap perjalanan hidup selama setahun terakhir. 

‎Muhasabah bukanlah aktivitas mencari kesalahan orang lain, melainkan keberanian untuk melihat kekurangan diri sendiri dan berkomitmen memperbaikinya.

‎Dalam penjelasannya, beliau mengaitkan muhasabah dengan temuan ilmiah modern. Ketika seseorang melakukan kebaikan, membantu orang lain, bersedekah, berbagi, atau memberi manfaat kepada sesama, tubuh akan memproduksi hormon oksitosin. Hormon ini dikenal sebagai hormon kebahagiaan yang menghadirkan rasa tenang, nyaman, dan bahagia dalam diri manusia.

‎Karena itu, kebahagiaan sejati sesungguhnya tidak selalu berasal dari banyaknya harta atau tingginya jabatan, tetapi justru lahir dari kesediaan seseorang untuk berbuat baik dan memberi manfaat kepada orang lain. Semakin banyak seseorang menolong, semakin besar peluang hatinya merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Dalam bahasa agama, apa yang diperintahkan Allah ternyata juga membawa manfaat luar biasa bagi kesehatan mental dan kehidupan manusia.

‎Pesan ketiga yang menjadi perhatian jamaah adalah prinsip penting dalam mengelola waktu. Menurut beliau, untuk urusan dunia masih ada beberapa hari esok. Banyak urusan dunia yang dapat ditunda dan dijadwalkan kembali. Namun untuk urusan akhirat, tidak ada hari esok.

‎Kalimat sederhana ini mengandung makna yang sangat mendalam. Sering kali manusia menunda ibadah, menunda taubat, menunda sedekah, menunda meminta maaf, bahkan menunda memperbaiki diri dengan alasan masih ada waktu. Padahal tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang menjemput.

‎Karena itu, jika ada kesempatan berbuat baik hari ini, maka lakukanlah hari ini. Jika ada kesempatan memperbaiki hubungan dengan keluarga, lakukanlah sekarang. Jika ada kesempatan untuk bertobat dan mendekatkan diri kepada Allah, jangan menunggu hari esok yang belum tentu menjadi bagian dari kehidupan kita.

‎Dalam kesempatan tersebut, Prof. Maimun juga mengingatkan tentang cara pandang terhadap amanah dan jabatan. Apa pun bentuk amanah yang diterima seseorang, baik sebagai pemimpin, guru, dosen, pegawai, pengusaha, maupun pengurus organisasi, terdapat tiga kesadaran yang harus selalu dipegang erat.

‎Pertama, semua amanah pasti berakhir. Tidak ada jabatan yang abadi dan tidak ada kekuasaan yang berlangsung selamanya. Kedua, setiap manusia pasti mati. Cepat atau lambat, setiap orang akan meninggalkan seluruh fasilitas, kehormatan, dan atribut dunia yang dimilikinya. Ketiga, semua amanah pasti dihisab oleh Allah SWT.

‎Kesadaran terhadap tiga hal ini akan melahirkan sikap rendah hati, jujur, dan bertanggung jawab. Seseorang tidak akan mudah menyalahgunakan amanah apabila ia selalu mengingat bahwa suatu hari nanti seluruh tindakannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

‎Sebagai penutup kultum, beliau mengajak jamaah untuk melakukan refleksi yang lebih mendalam: berada di golongan manakah kita saat ini? Sebab dalam berbagai keterangan agama disebutkan bahwa ada beberapa golongan manusia yang sangat ditakuti oleh setan.

‎Golongan pertama adalah orang yang takut kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 175 bahwa setan hanya menakut-nakuti manusia melalui para pengikutnya. Karena itu, seorang mukmin diperintahkan untuk tidak takut kepada setan dan sekutunya, melainkan hanya takut kepada Allah SWT.

‎Golongan kedua adalah orang-orang yang ikhlas. Dalam QS. Al-Hijr ayat 39-40, Iblis sendiri mengakui bahwa ia akan menyesatkan manusia kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas. Keikhlasan menjadi benteng kuat yang membuat setan kehilangan celah untuk merusak amal seseorang.

‎Golongan ketiga adalah orang alim atau orang yang berilmu. Ilmu yang benar akan membimbing manusia membedakan antara yang hak dan yang batil. Karena itu, setan sangat sulit menyesatkan orang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya.

‎Golongan keempat adalah orang yang fakih, yaitu mereka yang memahami agama secara mendalam. Pemahaman agama yang benar membuat seseorang tidak mudah terjebak dalam tipu daya, syubhat, maupun godaan dunia yang menyesatkan.

‎Golongan kelima adalah orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ketika seorang hamba mengingat Allah, setan akan mundur. Sebaliknya, ketika manusia lalai dari dzikrullah, setan akan memperoleh kesempatan untuk membisikkan berbagai godaan ke dalam hati.

‎Mengakhiri tausiyahnya, Prof. Maimun mengajak seluruh jamaah menjadikan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Bukan sekadar pergantian kalender, tetapi momentum hijrah dari kelalaian menuju kesadaran, dari kebiasaan menunda menuju semangat beramal, dan dari ketergantungan kepada dunia menuju kedekatan yang lebih kuat kepada Allah SWT.

‎Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukanlah berapa lama ia hidup, melainkan seberapa banyak kebaikan yang dilakukan selama hidupnya.

‎Pewarta: Tim