BidikNews.net,Mataram – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman melalui penyelenggaraan Diskusi Dosen Interdisipliner bertajuk "Rekonstruksi Pendekatan Studi Islam FTK UIN Mataram", yang berlangsung pada Senin, 6 Juli 2026.
Kegiatan akademik ini menghadirkan Prof. H. Abdurrahman Mas'ud, M.A., Ph.D., Guru Besar UIN Walisongo Semarang, sebagai narasumber utama dan dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Mataram menegaskan bahwa transformasi perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan fisik dan peningkatan akreditasi, tetapi juga harus dilakukan dengan pembaruan paradigma keilmuan. Menurutnya, FTK sebagai fakultas yang melahirkan calon pendidik memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan pendekatan studi Islam yang lebih kontekstual, relevan, dan mampu menjawab tantangan masyarakat abad ke-21.
Rekonstruksi Studi Islam, kata beliau, merupakan bagian dari ikhtiar strategis UIN Mataram dalam memperkuat integrasi antara ilmu keislaman, pendidikan, sains, dan kemanusiaan.
Kemudian dalam paparannya, Prof. Abdurrahman Mas'ud, Ph.D mengawali diskusi dengan memotret realitas pembelajaran di perguruan tinggi Indonesia. Ia mengemukakan bahwa salah satu persoalan mendasar adalah masih lemahnya budaya akademik di kalangan mahasiswa.
Mahasiswa dinilai belum sepenuhnya memiliki kemandirian belajar. Mereka cenderung pasif di ruang kelas, lebih banyak menunggu informasi dari dosen daripada aktif mencari pengetahuan secara mandiri, belum terbiasa berpikir analitis, serta masih mengalami kesulitan mengemukakan gagasan secara lisan maupun tulisan secara sistematis dan argumentatif.
Tradisi bertanya dan berdialog secara kritis juga belum tumbuh kuat karena dalam banyak situasi pertanyaan justru sering dipersepsikan sebagai bentuk ketidaksopanan (su'ul adab), padahal budaya akademik yang sehat justru dibangun melalui dialog, argumentasi, dan pencarian kebenaran secara terbuka.
Namun demikian, menurut beliau, persoalan tersebut tidak sepenuhnya berada di pundak mahasiswa. Dosen juga menghadapi tantangan yang tidak kalah besar.
Proses mengajar masih banyak dipandang sebagai rutinitas administratif yang berlangsung secara mekanistis, sehingga ruang untuk inovasi dan pembaruan menjadi terbatas.
Model pembelajaran masih didominasi pendekatan teacher-centered, yang menempatkan dosen sebagai sumber utama pengetahuan, sementara mahasiswa hanya menjadi penerima informasi. Pola seperti ini, menurutnya, tidak lagi memadai untuk menghadapi perubahan sosial yang semakin kompleks dan cepat.
Karena itu, perubahan budaya akademik harus dilakukan secara menyeluruh. Prof. Abdurrahman Mas'ud menekankan pentingnya membangun keterampilan akademik secara komprehensif, terintegrasi, berkelanjutan, dan konsisten, baik bagi dosen maupun mahasiswa.
Salah satu strategi yang ditawarkan adalah menghidupkan kembali perpustakaan sebagai jantung pembelajaran (the heart of learning center). Perpustakaan tidak boleh hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi harus menjadi ruang tumbuhnya budaya membaca, berdiskusi, meneliti, dan melahirkan gagasan-gagasan baru.
Mengutip pemikiran Muhammad Asad dalam The Message of the Qur'an, beliau mengingatkan firman Allah SWT bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Ayat tersebut menjadi landasan bahwa perubahan institusi pendidikan harus dimulai dari perubahan budaya berpikir dan budaya belajar.
Lebih jauh, Guru Besar UIN Walisongo tersebut mengulas persoalan klasik yang hingga kini masih menjadi tantangan besar dalam studi Islam, yaitu dikotomi ilmu.
Menurutnya, beban historis (historical burden) berupa pemisahan yang tegas antara ilmu agama (naqliyah) dan ilmu umum (aqliyah) telah melahirkan segregasi epistemologis yang membuat kedua rumpun ilmu berkembang sendiri-sendiri. Akibatnya, ilmu agama sering dipahami secara tekstual dan doktriner tanpa dialog dengan realitas sosial, sementara ilmu-ilmu modern berkembang tanpa sentuhan nilai-nilai spiritual dan etik Islam.
Dampak dari kegagalan metodologis tersebut terlihat pada kurikulum yang masih terbelah. Mata kuliah keislaman sering kali diajarkan tanpa menyentuh persoalan nyata masyarakat, sedangkan sains dan pendidikan berkembang secara sekuler tanpa fondasi moral yang kuat.
Kondisi ini juga menimbulkan risiko besar di masa depan karena lulusan perguruan tinggi menjadi kurang siap merespons isu-isu strategis abad ke-21, seperti etika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), radikalisme keagamaan, inklusivitas, hak asasi manusia, hingga krisis ekologi global.
Sebagai jalan keluar, Prof. Abdurrahman Mas'ud menawarkan arah baru paradigma keilmuan melalui pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner. Pendekatan multidisipliner memungkinkan fenomena Islam dikaji dari berbagai disiplin ilmu secara simultan.
Pendekatan interdisipliner mendorong dialog kreatif antara teks-teks normatif dengan ilmu sosial, pendidikan, dan sains modern. Sementara pendekatan transdisipliner melampaui batas-batas disiplin ilmu untuk menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan kemanusiaan kontemporer.
Dengan paradigma ini, studi Islam tidak lagi berhenti pada kajian normatif, tetapi menjadi ilmu yang hidup, membumi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam strategi implementasi yang konkret. Rekonstruksi kurikulum, menurut beliau, harus berbasis Outcome-Based Education (OBE) dan integrasi sains, menggantikan pola lama yang masih memisahkan antara ilmu agama dan ilmu keguruan.
Dari sisi metodologi pembelajaran, pendekatan ceramah dan hafalan perlu bergeser menuju case-based learning dan project-based learning yang mendorong mahasiswa berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif.
Sementara itu, dosen didorong untuk memperkuat riset kolaboratif lintas program studi sehingga lahir perspektif yang lebih kaya dalam memahami persoalan-persoalan keislaman dan pendidikan.
Dalam sesi berikutnya, Prof. Abdurrahman Mas'ud juga menawarkan gagasan redesain kurikulum dengan orientasi membentuk Pendidik Ulul Albab, yakni sosok pendidik yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan intelektual, serta kepekaan sosial.
Profil lulusan FTK diharapkan responsif terhadap isu-isu gender, hak asasi manusia, dan pendidikan inklusif yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Di sisi lain, studi Islam juga harus menjadi instrumen utama dalam memperkuat moderasi beragama (wasathiyah) sebagai fondasi kehidupan akademik yang damai, inklusif, dan toleran.
Salah satu penekanan yang paling menarik dalam diskusi tersebut adalah pentingnya membangkitkan kembali semangat membaca (iqra').
Menurut Prof. Abdurrahman Mas'ud, tantangan terbesar dunia pendidikan Islam saat ini bukan semata keterbatasan fasilitas atau teknologi, melainkan semakin melemahnya budaya membaca dan tradisi intelektual.
Ia menyebut kondisi ini sebagai "Greater Danger: The Absence of Reading Spirit", yaitu hilangnya semangat membaca yang justru bertentangan dengan pesan pertama Al-Qur'an, Iqra'.
Ketika budaya membaca melemah, tradisi berpikir kritis, penelitian, dan inovasi juga ikut merosot. Karena itu, membangun peradaban ilmu harus dimulai dengan menghidupkan kembali budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan meneliti di lingkungan kampus.
Sebagai penutup, Prof. Abdurrahman Mas'ud menegaskan bahwa rekonstruksi pendekatan studi Islam bukan lagi sekadar pilihan akademik, melainkan sebuah kebutuhan strategis untuk melahirkan lulusan yang tangguh, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Ia mendorong pembentukan tim kurikulum integratif yang melibatkan para pakar studi Islam dan pendidikan modern, serta mengajak seluruh dosen mengembangkan Problem-Based Learning yang menghubungkan teks-teks keislaman dengan realitas sosial masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Barat.
Diskusi dosen interdisipliner ini menjadi momentum penting bagi FTK UIN Mataram untuk memperkuat arah transformasi kelembagaan.
Dengan semangat rekonstruksi yang berpijak pada integrasi ilmu, penguatan budaya akademik, dan pembelajaran yang inovatif, FTK UIN Mataram meneguhkan tekadnya menjadi pelopor pengembangan studi Islam yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu melahirkan pendidik dan cendekiawan Muslim yang berkarakter, moderat, visioner, serta memberi kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan peradaban.
Pewarta: TIM






0 Komentar