Kapal Terbakar di Tengah Laut: Ironi Api Menyala di Tempat yang Penuh Air, Oleh: Prof. DR. H. Maimun, M. Pd

Hikmah Jum`at, 14 Agustus 2026

 Sebuah peristiwa yang sangat dramatis terjadi di perairan Selat Lombok, kapal terbakar di tengah lautan yang penuh air. Peristiwa ini kembali mengingatkan kita betapa kehidupan sering menghadirkan ironi yang sulit kita bayangkan: KMP Putri Yasmin dilaporkan mengalami kebakaran ketika berlayar dari Padangbai, Bali, menuju Lombok.

SECARA logika sederhana, kita mungkin bertanya: bagaimana mungkin sesuatu yang dikelilingi air justru terbakar? Bukankah air adalah salah satu unsur yang kita gunakan untuk memadamkan api? Bukankah lautan adalah tempat yang seolah-olah paling tidak mungkin bagi sebuah kapal untuk terbakar?.  Tetapi kehidupan memang sering seperti itu. Api menyala di tempat yang dikelilingi oleh sesuatu yang sesungguhnya mampu memadamkannya.

Dari peristiwa ini lahir sebuah renungan yang jauh lebih besar daripada sekadar tentang kapal. Ternyata tidak semua yang mengelilingi kita mampu menyelamatkan kita, semisal kapal yang sedang berada di tengah lautan, di mana air ada di bawahnya, ada di sekelilingnya, namun api tetap menyala.

Ada orang yang hidup di tengah banyak orang, tetapi merasa sendirian. Ada pula yang berada di tengah keluarga, tetapi hatinya kosong. Kadang ada yang berada di lingkungan pendidikan yang baik, tetapi kehilangan integritas. Bahkan ada orang yang dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya, tetapi tetap dikuasai oleh kesombongan, iri hati, amarah, dan ego.

Air yang banyak di luar kapal tidak akan memadamkan api yang menyala di dalam kapal, kalau api itu tidak segera ditangani. Demikian pula kehidupan kita, jangan merasa aman hanya karena berada di lingkungan yang baik, jangan merasa kuat hanya karena memiliki banyak sahabat, jangan merasa mulia hanya karena memiliki jabatan, dan jangan merasa sukses hanya karena memiliki harta, gelar, popularitas, dan pengaruh.

Sebab, yang menentukan keselamatan seseorang bukan hanya apa yang mengelilinginya, tetapi apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Perubahan besar sering kali tidak dimulai dari dunia luar, tetapi dari ruang terdalam dalam diri kita. Kita sering sibuk mencari siapa yang salah ketika hidup mengalami masalah, kita sering menyalahkan keadaan ketika karier terganggu, kita sering menyalahkan orang ketika hubungan retak dan organisasi tidak berjalan baik, kita sering menyalahkan sistem ketika kehidupan terasa berat, kita bahkan sering bertanya: Mengapa Tuhan memberikan semua ini kepada kita?

Padahal, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang sedang terbakar di dalam diriku?” Mungkin kesabaran kita yang terbakar, mungkin kejujuran kita yang terbakar, mungkin rasa syukur kita yang terbakar, mungkin kerendahan hati kita yang terbakar, atau mungkin hati kita sedang terbakar oleh iri hati, kebencian, dendam, kesombongan, ambisi, dan keinginan untuk selalu menang atas orang lain.

Seseorang bisa tampak tersenyum, tetapi hatinya terbakar oleh iri. Seseorang bisa tampak tenang, tetapi jiwanya terbakar oleh amarah. Seseorang bisa tampak sukses, tetapi kehidupannya terbakar oleh kesombongan.

Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan, bahwa “Allah tidak menilai manusia semata-mata dari bentuk lahiriah dan apa yang dimilikinya, melainkan dari hati dan amalnya”.  Maka, janganlah kita hanya sibuk merawat wajah yang terlihat oleh manusia; dan jangan pula abai dari merawat hati yang dilihat oleh Allah.

Ada pelajaran yang lebih menarik dari peristiwa terbakarnya kapal di tengah lautan air; Kapal itu bukan berada di gurun, ia tidak kekurangan air, tetapi ia justru sedang berada di tengah lautan air.

Ini analogi yang sangat kuat untuk kehidupan. Kadang-kadang kita merasa kekurangan sesuatu, padahal yang sebenarnya menjadi masalah bukan kekurangan, melainkan sesuatu yang berlebihan. Bukan kurang harta, tetapi terlalu banyak keinginan. Bukan kurang penghargaan, tetapi terlalu besar ego. Bukan kurang perhatian, tetapi terlalu tinggi ekspektasi. Bukan kurang teman, tetapi terlalu banyak kecurigaan. Bukan kurang kesempatan, tetapi terlalu banyak keraguan. Bukan kurang ilmu, tetapi kurang kerendahan hati.

Karena itu, hidup ini tidak selalu membutuhkan lebih banyak sesuatu. Kadang-kadang hidup justru membutuhkan lebih sedikit api—Kurangi ego, kurangi amarah, kurangi kesombongan, kurangi iri, kurangi keinginan untuk dipuji, kurangi keinginan untuk selalu dianggap benar. Dan perbanyaklah kesabaran, syukur, keikhlasan, serta kerendahan hati.

Filosof Stoik Marcus Aurelius mengajarkan pentingnya membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luar kendali kita. “Kita tidak selalu mampu mengendalikan peristiwa yang datang dari luar, tetapi kita dapat berusaha mengendalikan respons, sikap, dan tindakan kita terhadap peristiwa tersebut.”

Inilah relevansinya dengan kapal yang terbakar di tengah lautan air. Kita tidak selalu dapat menentukan apa yang terjadi dalam perjalanan, kita tidak selalu dapat mengendalikan orang lain, akan tetapi kita masih memiliki peluang untuk menjaga “ruang kendali” yang paling dekat dengan kita, yakni diri kita sendiri. Ketika dunia di luar sedang bergolak, jangan biarkan hati ikut terbakar.

Psikiater dan pemikir Viktor Frankl, melalui refleksinya tentang pengalaman manusia menghadapi penderitaan menegaskan, “When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.” Ketika kita tidak lagi mampu mengubah suatu keadaan, kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri. Pesan ini menegaskan bahwa “manusia memiliki ruang kebebasan untuk menentukan sikap terhadap keadaan yang dihadapinya.”

Pesan ini sangat relevan dengan metafora kapal terbakar di atas. Kita mungkin tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi, tetapi kita dapat belajar memilih bagaimana kita meresponsnya. Masalah boleh datang, kritik boleh datang, kegagalan boleh datang, kehilangan boleh datang, akan tetapi jangan sampai semua itu membuat api di dalam diri kita menjadi semakin besar.

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menyelamatkan jiwa sebelum terlambat, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9–10).

Ayat ini terasa sangat relevan, bahwa ada sesuatu yang harus selalu kita jaga, yakni hati dan jiwa kita sendiri. Sebab, manusia sering sibuk menyelamatkan banyak hal, tetapi lupa menyelamatkan dirinya. Kita sibuk menjaga reputasi, tetapi lupa menjaga integritas. Kita sibuk menjaga jabatan, tetapi lupa menjaga amanah. Kita sibuk memperbesar rumah, tetapi lupa memperluas hati. Kita sibuk mengejar dunia, tetapi lupa menyiapkan kehidupan setelah dunia. Kita sibuk memadamkan masalah di luar, tetapi lupa memadamkan api yang menyala di dalam. Padahal, jika api di dalam dibiarkan membesar, suatu saat ia akan keluar dan membakar seluruh kehidupan.

Mungkin inilah salah satu pesan terbesar dari kapal yang terbakar di tengah lautan: Jangan hanya belajar bagaimana menghadapi api yang datang dari luar. Belajarlah mengenali api yang mungkin sedang tumbuh di dalam diri.

Peristiwa kapal terbakar di lautan air, seharusnya tidak hanya kita jadikan sebagai  berita yang kita baca, kemudian kita lupakan. Ia bisa menjadi cermin, bahwa setiap kita memiliki “kapal” bernama kehidupan. Kita sedang berlayar menuju tujuan masing-masing. Ada yang sedang menuju kesuksesan. Ada yang sedang mengejar cita-cita. Ada yang sedang membangun keluarga. Ada yang sedang memimpin lembaga. Ada yang sedang menempuh pendidikan. Ada yang sedang mengabdi kepada masyarakat.

Di sepanjang perjalanan itu, jangan hanya bertanya: “Ke mana kapalku akan berlayar?” Tetapi tanyakan pula: “Apa yang sedang terjadi di dalam kapalku?”, Apakah ada kebocoran?, Apakah ada api?, Apakah ada konflik yang tidak diselesaikan?, Apakah ada dendam yang dipelihara?, Apakah ada kesombongan yang mulai tumbuh?, Apakah ada amanah yang mulai diabaikan? Atau apakah ada hati yang mulai jauh dari Tuhannya?

Sebab kapal yang paling berbahaya bukanlah kapal yang menghadapi gelombang besar, akan tetapi kapal yang terbakar dari dalam tetapi orang-orang di dalamnya belum menyadarinya.

Sebagai catatan pinggir, bahwa kapal yang terbakar di tengah lautan yang penuh air adalah sebuah ironi yang menyadarkan, bahwa ternyata banyaknya air di luar tidak menjamin padamnya api di dalam. Begitu pula manusia, banyaknya nasihat di sekitar kita tidak akan mengubah hidup, jika kita sendiri tidak mau memadamkan api dalam diri kita. Banyaknya ilmu tidak cukup tanpa kerendahan hati. Banyaknya harta tidak cukup tanpa rasa syukur. Banyaknya jabatan tidak cukup tanpa amanah. Banyaknya teman tidak cukup tanpa ketulusan.

Maka pada akhirnya, yang perlu kita selamatkan bukan hanya kapal kehidupan, tetapi juga api yang mungkin sedang membakarnya dari dalam. Dan jangan menunggu kapalmu terbakar untuk menyadari bahwa di sekelilingmu sebenarnya ada air yang cukup untuk menyelamatkannya. Yang paling penting adalah rawatlah kapal kehidupan, periksa ruang batin, dan padamkan setiap api sebelum ia menjadi kebakaran yang tidak terkendali.

Prof. DR. H. Maimun, M. Pd : Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram


0 Komentar