![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Sa'i, M.A. dan Prof. Dr. H. Fathul Maujud, M.A.. |
BidikNews.net,Mataram - Dua ilmuwan terbaik UIN Mataram yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Muhammad Sa'i, M.A. dan Prof. Dr. H. Fathul Maujud, M.A.. Keduanya menyampaikan orasi ilmiah yang berbeda bidang, namun memiliki benang merah yang sama, yakni pentingnya menghadirkan ilmu pengetahuan yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan fondasi nilai-nilai keislaman.
Orasi ilmiah pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Sa'i, M.A. dengan judul "Dari Horizon Wahyu ke Horizon Peradaban: Rekonstruksi Epistemologi Tafsir Integratif Indonesia Berbasis Paradigma Horizon Ilmu UIN Mataram." Dalam paparannya, Prof. Sa'i menegaskan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar kitab suci yang dibaca dalam ritual ibadah, melainkan sumber paradigma ilmu yang mampu menginspirasi lahirnya peradaban.
Menurutnya, Al-Qur'an tidak hadir untuk menggantikan laboratorium atau pusat riset, tetapi membangun cara berpikir yang melahirkan ilmu pengetahuan sekaligus memberikan kompas etik agar perkembangan sains tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Rektor UIN Mataram, Prof. DR. H. Masnun Tahir ketika memberi ucapan selamat kepada dua Guru Besar UIN Mataram pada saaat Pengukuhan
Prof. Sa'i mengajak dunia akademik untuk melihat bahwa tantangan zaman terus berubah, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan, disinformasi digital, kerusakan lingkungan, hingga krisis moral dan hilangnya makna hidup. Namun, akar persoalan manusia sesungguhnya tetap sama, yaitu ketidakseimbangan antara ilmu, iman, dan akhlak. Karena itu, wahyu harus bergerak melampaui teks, menjadi inspirasi lahirnya ilmu pengetahuan, inovasi, teknologi, kebijakan publik, hingga peradaban yang membawa kemaslahatan.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Paradigma Horizon Ilmu UIN Mataram memiliki potensi besar menjadi model epistemologi Indonesia yang mampu mengintegrasikan ilmu agama, ilmu sosial, sains, teknologi, dan kearifan lokal Nusantara.
Menurutnya, di tengah derasnya arus perubahan global, manusia akan selalu membutuhkan petunjuk Ilahi. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, kecerdasan buatan mampu menghasilkan informasi, tetapi keduanya tidak dapat menggantikan hikmah, kebijaksanaan, dan akhlak yang menjadi inti ajaran Al-Qur'an.
Para Guru Besar UIN Mataram ketika menghadiri Pengukuhan Guru Besar UIN Mataram yang ke 72 dan ke 73
Selanjutnya, Prof. Dr. H. Fathul Maujud, M.A. menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Transformasi Manajemen Mutu Pendidikan Bahasa Arab Menuju Pembelajaran Bahasa Arab yang Adaptif di Era Digital." Ia mengawali paparannya dengan menegaskan bahwa bahasa Arab bukan hanya alat komunikasi, melainkan bahasa peradaban yang telah melahirkan tradisi intelektual dunia selama berabad-abad.
Di dalam bahasa Arab tersimpan khazanah keilmuan Islam yang sangat luas, mulai dari tafsir, hadis, fikih, filsafat, hingga sains dan kedokteran. Menguasai bahasa Arab berarti membuka akses langsung kepada sumber-sumber primer Islam secara autentik sekaligus memasuki tradisi berpikir yang telah membangun peradaban selama lebih dari empat belas abad.
![]() |
| Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Prof. DR. H. Maimun, M. Pd beserta Guru Besar UIN Lainnya |
Pendekatan seperti project-based learning, problem-based learning, blended learning, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), virtual reality, gamification, hingga media sosial perlu diintegrasikan agar bahasa Arab menjadi keterampilan hidup (life skill) yang relevan dengan kebutuhan generasi digital. Keberhasilan pembelajaran, menurutnya, harus diukur dari kemampuan peserta didik menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan nyata, dunia akademik, riset, diplomasi, dan kolaborasi global.
Puncak acara ditandai dengan sambutan Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., yang memberikan pesan mendalam mengenai makna hakiki seorang guru besar. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pengukuhan profesor bukanlah garis akhir perjalanan akademik, melainkan awal dari amanah yang jauh lebih besar.
"Maqam guru besar memang lebih tinggi, tetapi jalan yang harus ditempuh setelahnya justru semakin terjal," demikian pesan yang mengundang refleksi seluruh hadirin. Guru besar, menurutnya, adalah tempat dosen muda mencari inspirasi, sumber rujukan akademik, sekaligus mata air ilmu bagi mahasiswa dan masyarakat.
Prof. Masnun juga mengingatkan bahwa gelar profesor harus menghadirkan dampak nyata. Guru besar tidak cukup hanya produktif dalam publikasi ilmiah, tetapi juga harus mampu menawarkan solusi terhadap persoalan pendidikan, keagamaan, sosial, kebudayaan, lingkungan, hingga transformasi digital. Kampus harus menjadi pusat lahirnya solusi, dan guru besar merupakan motor penggerak perubahan tersebut melalui riset, pengabdian, serta pemikiran yang mencerahkan.
Secara khusus, Rektor mengapresiasi kedua orasi ilmiah yang dinilai sangat relevan dengan tantangan zaman. Gagasan Prof. Muhammad Sa'i memperlihatkan bagaimana Al-Qur'an tetap menjadi sumber inspirasi dalam menjawab persoalan kontemporer, sementara pemikiran Prof. Fathul Maujud menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran bahasa Arab menjadi kebutuhan mendesak agar bahasa Arab tetap hidup sebagai bahasa ilmu, budaya, dan peradaban di era digital.
Menutup sambutannya, Prof. Masnun mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadi integrator, yang menyatukan, menghubungkan, dan mensinergikan berbagai potensi, disiplin ilmu, dan kepentingan untuk mencapai tujuan, bukan sebagai fragmentator. yang justru memecah, mengkotak-kotakkan, dan memperlebar perbedaan sehingga kolaborasi sulit terwujud.
Guru besar harus menjadi perekat yang menyatukan berbagai disiplin ilmu, membangun kolaborasi, memperkuat sinergi, dan melahirkan solusi bagi masyarakat. Beliau juga berpesan agar para profesor membuka ruang pembinaan bagi dosen-dosen muda sehingga lahir generasi guru besar berikutnya yang akan memperkuat tradisi akademik UIN Mataram.
Pengukuhan Guru Besar ke-72 dan ke-73 ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam perjalanan UIN Mataram menuju universitas yang unggul, bereputasi internasional, dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berlandaskan iman, akhlak, serta semangat membangun peradaban.( Humas UIN Mataram).
Pewarta: TIM




0 Komentar