Imam al-Ghazali dalam kajiannya tentang penyakit-penyakit hati dan bahaya lisan, mengingatkan bahwa “lidah sering menjadi jalan keluarnya penyakit yang tersembunyi di dalam hati, apa yang keluar dari mulut sering kali merupakan cermin dari apa yang sedang hidup di dalam batin”. Karena itu, memperbaiki ucapan tidak cukup hanya dengan mengatur kata-kata, kita perlu membersihkan sumbernya, yaitu hati
Hikmah Jum`at, 02 Oktober 2026
Ada sebuah perumpamaan sederhana yang menyimpan pelajaran kehidupan yang sangat dalam: “Jangan meludah ke dalam sumur, karena suatu hari mungkin engkau akan meminum airnya.”
Sumur adalah tempat kita mengambil air ketika haus, dan selama airnya masih ada, siapa pun boleh menimba dan meminumnya. Tetapi betapa anehnya manusia ketika ia datang ke sebuah sumur, menikmati airnya sampai kenyang, lalu setelah itu justru meludah ke dalamnya.
Begitulah gambaran sebagian manusia menjalani kehidupan, lidahnya gemar menggunjing kejelekan seseorang, padahal dia pernah kenyang karena kebaikan orang tersebut—ia pernah ditolong ketika kesulitan, pernah dibukakan pintu ketika berada dalam kebuntuan, pernah menerima perhatian ketika merasa sendiri, bahkan mungkin pernah berdiri tegak karena seseorang pernah menopangnya. Namun setelah kepentingannya berubah, kenangan tentang kebaikan itu seakan menguap, dan yang diingat justru kekurangannya. Inilah salah satu penyakit hati yang paling halus—menerima kebaikan, tetapi menolak mengakui kebaikan.
Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak merusak nilai amal kebaikan dengan sikap yang menyakitkan, sebagaimana QS. Al-Hujurat [49]: 12: “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”. Gambaran Al-Qur’an begitu keras, karena ghibah bukan sekadar percakapan biasa, melainkan tindakan mengambil kehormatan seseorang ketika orang itu tidak berada di hadapan kita untuk membela dirinya.
Ketika para sahabat bertanya tentang ghibah, Rasulullah SAW memberikan definisi yang sangat jelas tentang ghibah, bahwa ghibah adalah menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai. Ketika Rasul ditanya kembali, bagaimana jika yang dikatakan itu memang benar, Nabi menjawab bahwa jika benar, itulah ghibah; dan jika tidak benar, maka itu adalah fitnah. (HR. Muslim).
Maka jangan merasa aman hanya karena yang kita katakan itu benar. Kebenaran yang disampaikan dengan niat merendahkan tetap dapat menjadi dosa.
Ada pula bentuk lain dari paradoks manusia: kita mencela seseorang dengan lisan, tetapi menerima kebaikannya dengan tangan terbuka, kita menjauhi orangnya, tetapi mendekap manfaat yang datang darinya, kita mencela sumber mata air, tetapi tetap meneguk air yang mengalir darinya.
Bukankah ini seperti seseorang yang meludah ke dalam sumur, kemudian ketika haus ia kembali menimba air dari sumur yang sama?. Tentu menerima pemberian dari seseorang tidak selalu berarti kita harus menyukai semua sifatnya. Kita memang boleh berbeda, boleh kecewa, bahkan boleh memiliki batas dalam sebuah hubungan, akan tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika kebencian itu membuat kita kehilangan keadilan dan rasa syukur.
Imam al-Ghazali dalam kajiannya tentang penyakit-penyakit hati dan bahaya lisan, mengingatkan bahwa “lidah sering menjadi jalan keluarnya penyakit yang tersembunyi di dalam hati, apa yang keluar dari mulut sering kali merupakan cermin dari apa yang sedang hidup di dalam batin”. Karena itu, memperbaiki ucapan tidak cukup hanya dengan mengatur kata-kata, kita perlu membersihkan sumbernya, yaitu hati.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah juga banyak mengingatkan bahwa hati memiliki perjalanan menuju Allah, dan penyakit hati seperti hasad, kebencian, kesombongan, serta cinta berlebihan terhadap dunia dapat menghalangi perjalanan tersebut.
Orang yang terlalu sibuk mencari-cari kekurangan orang lain sering kali lupa bahwa tugas terbesar manusia bukan membongkar aib orang lain, melainkan memperbaiki aib dirinya sendiri. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini bukan sekadar larangan untuk membenci, akan tetapi mengajarkan sebuah etika sosial yang sangat tinggi, “jangan biarkan kebencian menghancurkan kemampuan kita untuk berlaku adil”. Ingatlah, bahwa orang yang kita benci hari ini mungkin pernah menjadi tangan Allah yang menolong kita kemarin, orang yang kita gunjing hari ini mungkin pernah menjadi sebab Allah mengangkat kesulitan kita, orang yang kita rendahkan hari ini mungkin pernah menjadi jalan datangnya rezeki, ilmu, kesempatan, atau bahkan keselamatan bagi kita. Karena itu, jangan buru-buru menghapus kebaikan seseorang hanya karena kita menemukan keburukannya.
Orang yang pernah berbuat baik kepada kita tetaplah manusia yang mungkin memiliki kekurangan. Demikian pula, orang yang pernah mengecewakan kita bukan berarti seluruh hidupnya harus kita anggap buruk. Keadilan menuntut kita untuk melihat manusia secara utuh, jangan sampai satu kesalahan menghapus seribu kebaikan, jangan sampai satu kekecewaan membuat kita melupakan banyak pertolongan, dan jangan sampai kebencian membuat kita kehilangan akhlak. Ibarat orang yang ketika kecewa, ia menghancurkan jembatan yang pernah membawanya sampai ke seberang.
Ada juga sifat seseorang yang ketika marah, ia membakar rumah yang dahulu pernah memberinya tempat berteduh. Ada pula yang ketika tidak lagi membutuhkan seseorang, ia mulai menceritakan keburukannya kepada banyak orang.
Ingatlah bahwa kehidupan itu selalu berputar, jika hari ini kita berada di atas, mungkin esok kita berada di bawah. Hari ini mungkin kita memberi, esok mungkin kita yang membutuhkan. Hari ini mungkin kita memiliki banyak orang yang membantu, esok mungkin hanya satu tangan yang tersisa untuk menolong kita. Inilah bagian dari peringatan orang bijak, “janganlah merusak sumur tempat kita pernah minum”.
Jika pernah menerima kebaikan seseorang—jagalah kehormatannya, jika pernah menerima pertolongan seseorang—jangan mudah melupakan pertolongannya, jika kemudian hubungan berubah, cukup letakkan jarak dengan cara yang bermartabat. Tidak semua perpisahan harus disertai penghinaan dan tidak semua kekecewaan harus berubah menjadi gunjingan.
Dan jika kita benar-benar tidak menyukai seseorang, setidaknya jangan menjadi munafik terhadap kebaikannya. Kita boleh berkata, “Aku tidak setuju dengan sikapnya”, tanpa harus berkata, “Tidak ada kebaikan sedikit pun darinya”. Kita boleh menjaga jarak tanpa harus menebar kebencian, kita boleh menolak hubungan tanpa harus merusak kehormatan, sebab akhlak yang tinggi bukan hanya terlihat ketika kita menyenangi seseorang, akan tetapi akhlak itu justru diuji ketika kita kecewa kepada seseorang.
Pada akhirnya, perumpamaan “meludah ke dalam sumur” adalah cermin bagi diri kita sendiri. Sebelum menunjuk siapa yang telah meludah ke dalam sumur kehidupan orang lain, mari bertanya kepada diri sendiri, apakah saya pernah menikmati kebaikan seseorang, lalu membalasnya dengan keburukan?. Apakah saya pernah menerima pemberian seseorang, tetapi di belakangnya merendahkan dirinya?. Apakah lidah saya pernah menghapus kebaikan seseorang hanya karena hati kecewa kepadanya?
Jika jawabannya pernah, mungkin saatnya kita belajar kembali tentang syukur, sebab orang yang benar-benar tahu berterima kasih akan memahami satu hal, “kebaikan tidak menjadi buruk hanya karena hubungan telah berubah”. Dan orang yang benar-benar menjaga akhlak akan berpikir seribu kali sebelum berbicara, karena ia tahu bahwa kata-kata yang dilemparkan kepada orang lain kadang bukan hanya melukai, tetapi juga mencederai nilai kebaikan yang sudah lama terjalin.
Sebagai catatan pinggir, bahwa hidup ini memiliki cara yang sangat halus untuk mengembalikan kita kepada tempat yang pernah kita rendahkan, maka ketika suatu hari kita kembali ke sana dalam keadaan haus, semoga airnya masih jernih—bukan karena orang lain tidak pernah kita sakiti, tetapi karena kita memilih untuk menjaga akhlak sebelum semuanya terlambat.
Prof. DR. H. Maimun, M. Pd : Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram
0 Komentar