Ada kalimat indah dari orang-orang bijak yang mungkin sangat baik untuk kita renungkan, “jangan bicarakan tentang uangmu di depan orang miskin”, “jangan bicarakan tentang kesehatanmu di depan orang yang sedang sakit”, “jangan bicarakan tentang kekuasaanmu di depan orang yang lemah”, “jangan bicarakan tentang kebahagiaanmu di depan seseorang yang sedang sedih”, dan “jangan bicarakan tentang anak-anakmu di depan orang yang tidak bisa memiliki anak”.
DARI kalimat-kalimat bijak di atas, kita mendapatkan pelajaran yang berharga, bahwa ternyata ada kenikmata yang cukup dirasakan oleh diri sendiri dan tidak perlu diceritakan, ada juga kebahagiaan yang justru terasa lebih indah ketika hanya kita dan Tuhan yang mengetahuinya, ada keberhasilan yang tidak harus diumumkan kepada banyak orang, karena nilainya tidak menjadi lebih tinggi hanya karena semakin banyak orang mengetahuinya. Bahkan ada sebagian nikmat yang mungkin justru menjadi lebih berkah ketika kita memilih menyimpannya dalam ruang yang paling sunyi di dalam hati.
Kita hidup pada zaman ketika hampir segala sesuatu ingin dibagikan, makan di tempat yang bagus difoto, bepergian ke tempat yang indah diunggah, mendapatkan penghargaan diumumkan, membeli sesuatu yang baru ditampilkan, bertemu orang penting diabadikan, bahkan kebahagiaan keluarga pun sering menjadi konsumsi ruang publik. Media sosial telah mengubah sebagian manusia menjadi semacam etalase berjalan: apa yang dimiliki ingin diperlihatkan, apa yang dicapai ingin diumumkan, dan apa yang membahagiakan ingin mendapatkan pengakuan.
Tidak ada yang salah dengan berbagi kebahagiaan itu, tidak pula semua yang ditampilkan kepada orang lain berarti riya. Al-Qur’an sendiri menjelaskan, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya” (QS. Ad-Duha [93]: 11). Akan tetapi, ayat ini tidak seharusnya dipahami sebagai perintah untuk mempertontonkan seluruh kehidupan kepada publik. Ada perbedaan antara menyebut nikmat sebagai bentuk syukur dan menampilkan nikmat sebagai bentuk kebanggaan diri. Yang pertama mengarahkan hati kepada Allah, sedangkan yang kedua berpotensi mengarahkan pandangan manusia kepada diri sendiri.
Di situlah kita perlu belajar seni yang semakin mahal dalam kehidupan modern—menikmati nikmat tanpa merasa harus mempertontonkannya. Ketika sebuah nikmat datang, sesungguhnya yang pertama kali perlu kita lakukan bukanlah mencari siapa yang harus diberi tahu, melainkan mencari Tuhan yang harus disyukuri.
Perlu rasanya kita renungkan pesan indah dari seorang tokoh spiritual, Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, “Tanamlah wujudmu di tanah yang tersembunyi, karena sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam tidak akan sempurna buahnya.” Maknanya sangat indah dan dalam, bahwa kebaikan yang tidak selalu dipertontonkan justru memiliki ruang untuk tumbuh dalam keikhlasan.
Ada sesuatu yang sangat indah dalam menyimpan sebagian nikmat sebagai rahasia antara diri kita dengan Allah. Bukan karena kita tidak boleh berbagi, tetapi karena hati manusia membutuhkan ruang yang tidak disentuh oleh penilaian orang lain. Ada sedekah yang tidak perlu diketahui siapa pun, ada doa yang cukup kita dan Allah yang mengetahuinya, ada keberhasilan yang lebih indah jika kita bawa ke dalam sujud daripada ke dalam unggahan, dan ada kebahagiaan yang cukup kita nikmati bersama orang-orang terdekat tanpa harus menjadikannya konsumsi publik.
Tidak semua yang indah harus dipajang, sebab sebagian keindahan justru akan lebih terjaga karena ia dirahasiakan. Kita perlu mengingat bahwa tidak semua orang sedang berada pada musim kehidupan yang sama dengan kita.
Ketika kita sedang menikmati kelimpahan, mungkin ada orang lain yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya, ketika kita sedang merayakan keberhasilan, mungkin ada seseorang yang baru saja mengalami kegagalan, ketika kita sedang menikmati keutuhan keluarga, mungkin ada orang lain yang sedang merindukan seseorang yang telah tiada, dan ketika kita sedang sehat dan bebas bepergian ke mana-mana, mungkin ada orang lain yang sedang terbaring dan berharap bisa berjalan kembali.
Karena itu, mengelola cara kita memperlihatkan nikmat juga merupakan bagian dari etika sosial. Bukan berarti kita harus merasa bersalah karena mendapatkan sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Bukan pula berarti orang yang memiliki banyak nikmat harus hidup dalam kesedihan. Sama sekali bukan. Justru kita diperintahkan untuk menikmati dan mensyukuri karunia Allah, tetapi syukur yang matang melahirkan kepekaan dan kesadaran, bahwa apa yang menjadi kebahagiaan bagi kita mungkin menjadi pengingat tentang kekurangan bagi orang lain.
Orang yang bijaksana memahami bahwa tidak semua yang bisa dipamerkan layak dipamerkan dan di sinilah batas antara syukur dan riya menjadi sangat tipis. Syukur berkata, “Allah telah memberikan ini kepadaku.” Riya diam-diam berkata, “Lihatlah apa yang aku miliki.” Syukur membuat seseorang semakin rendah hati karena ia merasa hanya sebagai penerima titipan. Riya membuat seseorang merasa lebih tinggi karena ia ingin dipandang memiliki sesuatu yang lebih.
Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan yang sangat penting tentang kesombongan, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, ketika ditanyakan tentang seseorang yang menyukai pakaian dan alas kaki yang bagus, Nabi menjelaskan bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kemudian beliau menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Artinya, menikmati keindahan, memiliki sesuatu yang baik, atau merasakan kebahagiaan bukanlah kesalahan, yang perlu dijaga adalah hati agar nikmat tersebut tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Perhatikan firman Allah, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu; dan di sisi Allah pahala yang besar” (QS. At-Taghabun [64]: 15). Ayat ini mengajarkan bahwa setiap karunia membawa pertanyaan moral: untuk apa nikmat itu digunakan? Ketika Allah memberi ilmu, apakah ilmu itu membuat kita rendah hati atau justru merasa paling tahu? Ketika Allah memberi jabatan, apakah jabatan itu membuat kita melayani atau dilayani? Ketika Allah memberi harta, apakah harta itu membuat kita semakin dermawan atau semakin rakus? Ketika Allah memberikan popularitas, apakah kita semakin berhati-hati atau justru semakin haus perhatian?
Ada sebuah kebijaksanaan yang sering kali terlupakan—semakin besar nikmat yang kita terima, semakin besar pula kebutuhan kita untuk menjaga hati. Sebab kehilangan harta mungkin hanya membuat kita kehilangan benda, tetapi kehilangan keikhlasan dapat membuat kita kehilangan makna dari nikmat itu sendiri.
Memang tidak semua nikmat harus dirahasiakan, sebab ada nikmat yang memang baik untuk diceritakan jika cerita itu mengandung inspirasi, motivasi, edukasi, atau manfaat bagi orang lain. Misalnya, seorang yang berhasil keluar dari kesulitan boleh menceritakan pengalamannya agar orang lain tidak kehilangan harapan, seseorang yang memperoleh kesempatan belajar boleh berbagi agar orang lain terinspirasi, orang yang memperoleh rezeki boleh menceritakan kemurahan Allah dengan penuh kerendahan hati, akan tetapi sebelum bercerita, ada satu pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri: “Aku sedang bersyukur kepada Allah kah atau sedang mencari pengakuan manusia?”
Pertanyaan sederhana itu kadang mampu menyelamatkan hati, sebab manusia mudah sekali tergelincir, sesuatu yang awalnya diniatkan sebagai syukur perlahan bisa berubah menjadi kebanggaan, sebuah cerita yang semula ingin menginspirasi bisa berubah menjadi pamer, dan sebuah unggahan yang awalnya ingin berbagi kebahagiaan bisa berubah menjadi perlombaan mendapatkan perhatian.
Karena itu, ada baiknya di antara sekian banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, sisakan beberapa yang hanya Allah dan kita yang mengetahuinya. Simpan sebagian kebahagiaan dalam doa, simpan sebagian rezeki dalam sedekah yang tidak bernama, simpan sebagian keberhasilan dalam sujud yang panjang, simpan sebagian kebaikan tanpa perlu mencari saksi, dan simpan sebagian cerita hanya untuk keluarga dan orang-orang yang benar-benar dekat.
Sebab Tuhan tidak membutuhkan publikasi untuk mengetahui bahwa kita sedang bahagia. Allah tahu ketika kita mendapatkan rezeki sebelum kita mengunggahnya, Allah tahu ketika kita berhasil sebelum orang lain memberikan ucapan selamat, Allah tahu perjuangan kita sebelum manusia memberikan penghargaan dan pujian, Allah tahu air mata kita sebelum kita menjelaskan mengapa kita menangis, dan Allah bahkan mengetahui nikmat yang belum mampu kita sadari sebagai nikmat.
Maka janganlah sampai kita terlalu sibuk membuat manusia tahu tentang kehidupan kita sampai lupa bahwa Allah sebenarnya sudah mengetahui semuanya.
Sebagai catatan pinggir, bahwa hidup bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling banyak memiliki sesuatu untuk diperlihatkan, akan tetapi hidup adalah perjalanan tentang siapa yang paling mampu mengubah apa yang dimilikinya menjadi kebaikan. Barangkali kita tidak perlu membuktikan kepada dunia bahwa kita bahagia, karena tidak semua kebahagiaan selalu membutuhkan penonton.
Ada kebahagiaan yang hanya berupa senyum kecil setelah doa dikabulkan, ada kebahagiaan yang hanya berupa air mata ketika melihat orang tua masih sehat dan ketika melihat anak-anak tumbuh dengan baik, ada kebahagiaan ketika seseorang yang pernah kita bantu akhirnya berhasil, dan ada kebahagiaan ketika malam tiba dan kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.
Semua itu tidak membutuhkan kamera, tidak membutuhkan unggahan, tidak membutuhkan tepuk tangan, akan tetapi cukup Allah yang tahu. Maka syukurilah nikmat itu diam-diam. Bukan karena kita malu memilikinya, bukan pula karena kita takut orang lain mengetahuinya, tetapi karena kita ingin menjaga agar nikmat tetap menjadi jalan menuju Allah, bukan jalan menjauh dari-Nya.
Biarlah sebagian nikmat menjadi rahasia, biarlah sebagian kebahagiaan hanya diketahui oleh orang-orang terdekat, biarlah sebagian keberhasilan cukup kita bawa ke dalam sujud, biarlah sebagian rezeki mengalir tanpa nama, dan biarlah sebagian kebaikan tidak memiliki saksi selain Allah. Sebab boleh jadi, nikmat yang paling berkah adalah nikmat yang tidak banyak dibicarakan, tetapi banyak menghadirkan kebaikan. Dan inilah salah satu bentuk kematangan spiritual—kita tidak lagi merasa harus menunjukkan kepada dunia apa yang kita punya, karena kita telah menemukan kepuasan yang lebih tinggi—yakni ketika hati merasa cukup dengan apa yang Allah tahu.
Prof. DR. H. Maimun, M. Pd - Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram




0 Komentar