Satgas Bullying dan Perundungan Pada Anak Lakukan Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di SDN 44 Mataram

Agus Fikriadi anggota Satgas Bullying dan Perundungan anak ketika memberikan penyuluhan di SDN 44 Mataram Kota Mataram Provinsi NTB

BidikNews,net,Mataram,NTB
- Tujuan dilakukannya Kegiatan sosialisasi pencegahan dan  penanganan kekerasan dilingkungan SDN 44 Mataram ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa terkait dengan perilaku perundungan atau bullying. Kegiatan ini dilaksanakan dengan memberikan pemahaman dalam bentuk sosialisasi informasi bagi siswa di sekolah Dasar Negeri 44 Mataram. 

Kegiatan Kegiatan sosialisasi pencegahan dan dan penanganan kekerasan oleh Satgas bullying dan Perundungan yang dibentuk oleh SDN 44 Mataram ini diharapkan agar para guru dapat menyampaikan informasi terkait dengan cara meminimalisir perundungan yang terjadi di sekolah terhadap para siswa.

Kegiatan Kegiatan sosialisasi pencegahan dan dan penanganan kekerasan ini berlangsung selama dua hari pada 11 -12 Desember 2023 ini dihadiri oleh Kepala Sekolah, para guru serta siswa dan wali murid SDN 44 Mataram Kota Mataram Provinsi NTB. Turut hadir anggota Polsek Mataram.

Sedangkan narasumber dalam kegiatan ini adalah Agus Fikriadi salah satu anggota Satgas bullying dan perundungan anak pada SDN 44 Mataram. Agus Fikriadi sendiri adalah salah satu anggota Polisi yang bertugas di Mapolda NTB. 

Dalam pemaparannya, Agus Fikriadi mengungkapkan, Kasus bullying cukup marak terjadi pada usia anak-anak dan remaja. Beberapa orang mungkin kurang memahami dampak emosional dan psikologis dari perilaku bullying terhadap korban.


Sebelum dijelaskan dampak bullying di sekolah, penting juga untuk dipahami berbagai faktor penyebab bullying.  Bullying di sekolah dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks. Ini termasuk kombinasi faktor individu, keluarga, sekolah, dan sosial.” Kata Agus Fikriadi

Agus Fikriadi menyebutkan beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya bullying di sekolah antara lain, Pertama, Faktor Individu. Seorang pelaku bullying mungkin merasa lebih kuat atau lebih berkuasa daripada korban, baik fisik maupun sosial. Beberapa pelaku bullying mungkin memiliki masalah kesehatan mental, seperti gangguan perilaku atau kepribadian yang menyebabkan mereka lebih cenderung untuk bersikap agresif.

Selain itu, kata Agus Fikriadi, Pelaku bullying mungkin mengalami ketidakpuasan diri yang mereka proyeksikan ke korban sebagai cara untuk merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.

Agus Fikriadi juga menyampaikan bahwa Faktor Keluarga juga sebagai menyebabkan terjadinya Bullying. Anak-anak dapat meniru perilaku agresif atau merendahkan orang lain jika mereka melihat orang tua atau anggota keluarga melakukan hal yang sama.” Kata Polisi yang berpangkat Brigadir itu.

Lebih lanjut Agus Fikriadi mengatakan bahwa Kurangnya pengawasan dan perhatian dari orang tua juga dapat meningkatkan risiko anak menjadi pelaku bullying. Pengalaman traumatis dalam keluarga, seperti pelecehan atau kekerasan, dapat menyebabkan anak menjadi lebih cenderung berperilaku agresif terhadap orang lain.” Ujar Agus.


Faktor Sekolah juga sebagai salah satu penyebab terjadinya Buliying dan perundungan, Hal tersebut bisa terjadi karena Ketidakmampuan sekolah untuk memberikan pengawasan yang cukup di tempat-tempat yang rentan menjadi tempat terjadinya bullying dapat menyebabkan masalah ini berkembang. ” kata Agus.

Sekolah dengan iklim yang tidak mendukung keterlibatan sosial yang positif dan pemecahan konflik yang sehat dapat menjadi lingkungan yang lebih mungkin terjadi bullying. 

Faktor Sosial juga sangat berpengaruh terhadap prilaku buliying pada anak dan remaja. Dijelaskannya, beberapa anak dapat dipengaruhi oleh media yang sering menampilkan perilaku agresif dan merendahkan orang lain. Tekanan dari teman sebaya untuk menjadi seorang pelaku bullying juga dapat berperan.” Ujar Agus.

Selain itu, kata Agus Fikriadi, Faktor Kultural dan Lingkungan, Norma sosial dalam budaya tertentu dapat mendorong perilaku agresif atau merendahkan orang lain. Ketidaksetaraan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dapat menciptakan ketegangan yang lebih tinggi dan meningkatkan risiko bullying.

Agus Fikriadi juga membeberkan bagaimana dampak negatif bullying di sekolah baik bagi korban maupun pelaku.

Dampak Psikologis pada Korban kata Agus yakni, korban bullying sering merasakan stres dan kecemasan yang berkepanjangan karena ketakutan terus-menerus akan pelecehan atau ancaman. 


Bullying dapat menyebabkan depresi pada korban karena merasa terisolasi, tidak berharga, dan tidak dicintai. Korban bullying sering mengalami penurunan kepercayaan diri dan merasa tidak mampu untuk berinteraksi dengan teman sebaya atau lingkungannya.

Sedangkan Dampak Fisik pada Korban kata Agus yakni, Beberapa jenis bullying, seperti kekerasan fisik, dapat menyebabkan cedera serius pada korban. Stres yang berkepanjangan akibat bullying dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik, seperti gangguan tidur, gangguan pencernaan, dan gangguan makan.

Sementara Dampak Sosial pada Korban yakni, Korban bullying sering merasa terisolasi dan sulit membangun hubungan sosial yang sehat. Mereka mungkin enggan atau tidak mampu berpartisipasi dalam aktivitas sekolah atau ekstrakurikuler karena ketakutan akan pelecehan.

Dampak Akademik pada Korban, Korban bullying sering mengalami penurunan prestasi akademik karena kesulitan berkonsentrasi, stres, dan ketidaknyamanan di sekolah. Beberapa korban mungkin sering absen sekolah untuk menghindari pelaku bullying.” Kata Agus.

Pada bagian lain kata Agus Fikriadi, Dampak Psikologis pada Pelaku yakni Pelaku bullying cenderung mengembangkan kepribadian yang agresif, yang dapat berlanjut ke masa dewasa. Mereka mungkin kehilangan kemampuan untuk merasakan empati terhadap orang lain.


Sedangkan Dampak Keseluruhan pada Lingkungan Sekolah yakni Kejadian bullying dapat menciptakan ketegangan dan konflik di antara siswa, guru, dan orang tua. Lingkungan sekolah yang terinfeksi oleh bullying dapat menyebabkan penurunan iklim sekolah secara keseluruhan, yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan dan kesejahteraan siswa.” Ujar Agus.

Dengan sejumlah dampak yang timbul akibat prilaku buliying tersebut Agus Fikriadi mengungkapkan beberapa cara yang dapat membantu mencegah bullying di sekolah antara lain, diperlukan adanya pendidikan Anti-Bullying.

Melalui pendidikan anti Buliying ini sekolah harus memberikan pelatihan dan pendidikan tentang bullying kepada siswa, guru, dan staf sekolah. Ini dapat mencakup pemahaman tentang apa itu bullying, dampaknya, dan cara melaporkannya.

Selain itu diperlukan Pengawasan dan Intervensi Dini. Dimana Guru dan staf sekolah harus aktif dalam mengawasi lingkungan sekolah dan mengidentifikasi perilaku bullying sejak dini. Mereka juga harus merespons dengan cepat saat insiden terjadi. 

Juga diperlukan adanya Kebijakan Sekolah Anti-Bullying. Sekolah harus memiliki kebijakan yang jelas dan ketat terkait bullying. Kebijakan ini harus mencakup sanksi yang sesuai untuk pelaku bullying. Sekolah juga harus memiliki prosedur untuk menyelidiki insiden dan mengambil tindakan yang sesuai.

Disamping itu, Sekolah harus berusaha menciptakan budaya yang aman, inklusif, dan mendukung. Ini termasuk mendorong rasa hormat, empati, dan toleransi di antara siswa. Program-program seperti "peer mentoring" atau "buddy systems" dapat membantu menciptakan hubungan positif antara siswa.


Yang lebih penting lagi kata Agus Fikriadi adalah Peran Orang Tua. Orang tua harus terlibat dalam mendukung anak-anak mereka dan mengajari mereka cara berperilaku dengan baik di sekolah dan dalam interaksi sosial. Jika anak menjadi korban bullying, orang tua harus mendukung mereka dan bekerja sama dengan sekolah untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Selain itu juga Komunitas lokal dapat mendukung upaya pencegahan bullying dengan menyelenggarakan program-program pendidikan dan kampanye anti-bullying, 

Penggunaan Media Sosial tak lepas dari perhatian. Penggunaan media sosial yang Bertanggung Jawab dapat membantu mengurangi cyberbullying, yang sering kali terjadi di luar lingkungan sekolah. Artinya Orang tua dan guru harus memantau aktivitas online anak-anak mereka dan mengajari mereka cara berperilaku dengan baik di dunia maya.” Ujar Agus Fikriadi.

Pemberdayaan serta melibatkan siswa dalam upaya pencegahan bullying dapat membantu mereka merasa berkontribusi positif dan merasa lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolah mereka.

Kegiatan penyuluhan tersebut berlangsung lancar dan sukses dan diakhiri dengan Do`a bersama oleh seluruh peserta yang hadir.

Pewarta: Dae Ompu


0 Komentar