BidikNews.net - Akhir Maret 1966, di Rumah Tahanan Militer Tjimahi, Bandung, Letnan Kolonel Infanteri Untung Sjamsuri akhirnya menghadapi takdir yang tak bisa dielakkan. Sang komandan pasukan Cakrabirawa itu dijemput sepasukan tentara untuk dieksekusi. 
Mayjen Soeharto dan Letnan Kolonel Infanteri Untung Sjamsuri
Harapan terakhirnya agar sahabat lamanya, Mayjen Soeharto, turun tangan menyelamatkan, tak pernah menjadi kenyataan. Tulis Merdeka.com
Menurut kesaksian Subandrio dalam bukunya "Yang Saya Alami": Peristiwa G30S, Sebelum, Saat Meletus dan Sesudahnya, Untung sempat berpamitan dengan suara bergetar:
"Selamat tinggal, Pak Ban. Jangan sedih. Empat hari lagi kita bertemu di sana."
Mata Untung berkaca-kaca, namun ia berusaha tegar. Meski demikian, Subandrio tahu, di balik ketegasan itu, kepanikan menguasainya.
Sebelum hari-hari terakhirnya, Untung meyakini dirinya tak akan benar-benar dijatuhi hukuman mati. Ia percaya Soeharto mantan atasannya di Kodam Diponegoro sekaligus rekan seperjuangan di Operasi Trikora akan menolongnya.
Kedekatan mereka sudah terjalin lama, bahkan Soeharto dan Ny. Tien hadir dalam resepsi pernikahan Untung di Kebumen, beberapa bulan sebelum meletusnya G30S.
Sebuah kehadiran yang, menurut sejarawan, terasa istimewa mengingat jauhnya jarak Jakarta-Kebumen pada masa itu.
Untung lahir di Kebumen, 3 Juli 1926, dengan nama Koesman. Ia sempat ikut pemberontakan PKI 1948, lalu mengganti nama menjadi Untung Sutopo sebelum akhirnya meniti karier militer.
Dari Komandan Kompi Batalyon 444 hingga Komandan Batalyon 454 Banteng Raiders, ia dikenal sebagai perwira berani.
Namanya makin mencuat setelah bergabung dalam Operasi Trikora membebaskan Irian Barat, hingga kemudian dipercaya memimpin Batalyon I Resimen Tjakrabirawa pasukan pengawal Presiden Soekarno.
Namun, setelah G30S meletus, nama Untung berubah menjadi simbol pemberontakan. Upaya penculikan para jenderal berakhir tragis dengan tewasnya enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama TNI AD.
Untung sendiri melarikan diri, hingga akhirnya tertangkap secara tidak sengaja di Brebes oleh anggota Armed yang tak mengenali identitas aslinya.
Mahkamah Militer Luar Biasa menjatuhkan hukuman mati. Baginya, tak ada jalan kembali.
Pada sebuah senja di Cimahi, desingan peluru mengakhiri hidup seorang prajurit yang pernah berjaya, sekaligus menutup riwayat seorang sahabat lama yang pernah percaya pada perlindungan Soeharto. Nama "Untung" yang disandangnya tak seberuntung nasib yang ia alami.
Pewarta: TIM
0 Komentar