 |
| KIE PMK di Kab Lombok Tengah berpose bersama usai kegiatan |
BidikNews.net,NTB - Sebagai bentuk komitmen dalam mengendalikan dan menanggulangi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Alamuni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melaksanakan KIE PMK di kabupaten Lombok Tengah pada Sabtu, 20 Desember 2025. Kegiatan ini turut didukung oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB.Turut hadir dalam kegiatan KIE PMK ini DR. Drh. Kholik MSc, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Mandalika dan DR. Drh. Made Sriasih, M.Agr.Sc., Ph.D Wakil Dekan 1 Bidang Akademik Fakultas Petetnakan Universitas Mataram.
Dalam upaya pemberatasan penyakit PKM ini di perlukan komitmen serta kolaborasi berbagai pihak terkait, sesuai dengan tugas dan kewenangannya masing masing.
Sementara drh. Muslih yang juga alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya ditunjuk sebagai koordinator lapangan. drh. Muslih sendiri merupakan Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB.
Dalam keterangannya, Koordinator Lapangan drh. Muslih mengatakan, tujuan utama dari KIE ini adalah untuk meningkatkan pemahaman para peternak dan vaksinator mengenai pentingnya vaksinasi PMK sebagai strategi kunci dalam mencegah penyebaran penyakit.
Melalui sesi dialog interaktif, para peserta diberikan pembekalan tentang prosedur vaksinasi, penguatan kesadaran peternak terhadap manfaat vaksin, serta pentingnya kerja sama lintas sektor dalam mendukung keberhasilan program vaksinasi PMK di lapangan.’ Jelas Muslih.
Ditambahkan Muslih, bahwa Kolaborasi aktif antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan peternakan menghadapi ancaman penyakit hewan.
drh. Muslih dalam ketarangannya mengungkapkan bahwa, Kasus PMK di NTB tahun 2025 cukup terkendali, hanya 131 kasus seluruhnya sudah sembuh dan hingga akhir tahun 2025 ini belum ada laporan terkait kasus PMK.
“Kasus PMK di NTB tahun 2025 cukup terkendali, hanya 131 kasus seluruhnya sudah sembuh dan hingga akhir tahun 2025 ini belum ada laporan terkait kasus PMK.” Ujar Muslih.
Hal ini kata Muslih pemerintah provinsi dalam hal ini Disnakeswan fokus melakukan Pengobatan PMK serta penanganan gejala dan pencegahan infeksi sekunder pada sapi, meliputi isolasi ternak sakit, pemberian obat antibiotik, antipiretik (penurun panas), dan anti-inflamasi, perawatan luka mulut dan kuku dengan desinfektan atau larutan herbal asam (cuka/sitrun).
Kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) tentang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ini juga bertujuan untuk mengendalikan wabah virus yang sangat menular pada hewan berkuku belah (sapi, kerbau, domba, kambing) ini dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga peternak.
Selain itu kata Muslih pemberian vitamin, nutrisi, dan pakan lunak untuk menjaga daya tahan tubuh juga dilakukan agar sapi bisa sembuh sendiri dalam 2-3 minggu, dengan vaksinasi sebagai pencegahan utama,” tuturnya.
Disamping KIE kata drh. Muslih juga dilakukan pemeriksaan reproduksi serta pelayanan kesehatan hewan secara umum.
Pada kesempata itu juga drh. Muslih menyampaikan terimakasih kepada Disnakkeswan Provinsi yang telah mendukung kegiatan KIE PMK yang dilaksanakan oleh Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Sur4abaya ini.
Selain itu ucapan terima kasih pula kepada Kementan RI dalam hal ini Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan maupun Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Mandalika, DR. Drh. Kholik MSc, serta Wakil Dekan 1 Bidang Akademik Fakultas Petetnakan Universitas Mataram, DR. Drh. Made Sriasih, M.Agr.Sc., Ph.D yang telah mendukung dan hadir dalam kegiatan ini hingga selesai.
Ia berharap dengan KIE PMK ini dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman peternak akan pentingnya vaksinasi PMK serta dampak PMK terhadap kesehatan hewan sehingga produktivitas ternak dan perekonomian peternak dapat meningkat.” tutup Muslih.
Pewarta: TIM
0 Komentar