اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ، أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ
Hari ini, kita kembali menjadi saksi betapa luasnya kasih sayang Allah Azza wa Jalla kepada kita semua, dan merasakan betapa besar limpahan rahmat, dan maghfirah-Nya. Terkadang kita lalai dari mengingat-Nya, bahkan terjerumus dalam dosa, namun Allah SWT tidak serta-merta mencabut nikmat-Nya, tidak tergesa-gesa menurunkan hukuman-Nya. Justru dengan kasih sayang-Nya yang tak berbatas, mempertemukan kita dengan hari-hari mulia, agar hati yang keras dapat melunak, jiwa yang jauh dapat mendekat, dan kembali menuju jalan-Nya.
Idul Adha yang kita rayakan pada hari ini adalah salah satu bukti nyata dari cinta Allah kepada hamba-Nya; sebuah kesempatan suci untuk membersihkan diri, memperbarui keimanan, memperkuat ketundukan, dan meneguhkan kembali ikrar penghambaan kepada-Nya. Sungguh, andaikata Allah memperlakukan kita semata-mata dengan keadilan-Nya, mungkin tidak ada seorang pun yang layak berdiri dengan tenang pada hari ini. Namun Allah memperlakukan kita dengan rahmat-Nya, ampunan-Nya, dan kelembutan-Nya.
Dalam perjalanan hidup manusia, pengorbanan adalah sesuatu yang tidak mungkin dipisahkan dari setiap cita-cita, harapan, dan tujuan yang ingin dicapai. Tidak ada keberhasilan tanpa kesungguhan, tidak ada kemuliaan tanpa perjuangan, dan tidak ada hasil besar tanpa kesediaan untuk memberi sesuatu dari diri kita.
Setiap langkah kehidupan selalu menuntut harga yang harus dibayar, baik berupa tenaga, waktu, pikiran, perasaan, bahkan harta dan kenyamanan hidup. Untuk mencapai pendidikan yang tinggi, seseorang harus mengorbankan waktu istirahat dan kesenangan masa mudanya.
Untuk membangun keluarga yang baik, diperlukan pengorbanan, kesabaran, dan ketulusan. Bahkan, bukan hanya jalan kebaikan yang memerlukan pengorbanan; orang yang hendak melakukan kejahatan pun sering kali rela berkorban demi tercapainya tujuan buruk mereka. Ada yang menghabiskan waktu menyusun tipu daya, bahkan mempertaruhkan kehormatan dan masa depannya.
Jika untuk kebatilan saja manusia rela berkorban sedemikian rupa, maka terlebih lagi dalam menegakkan kebenaran, mempertahankan iman, dan menjalankan perintah agama. Idul Adha yang kita peringati hari ini mengajarkan kepada kita bahwa pengorbanan bukan sekadar kehilangan, melainkan bukti cinta, tanda ketundukan, dan jalan menuju kemuliaan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jamaah Idul Adha Rahimakumullah
Mari kita bawa ingatan dan hati kita terbang melintasi ruang dan waktu, menuju sebuah lembah tandus dan gersang di Mina, ribuan tahun silam. Di tempat yang sunyi itulah sejarah agung penghambaan ditorehkan oleh dua manusia pilihan Allah: Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Di hadapan mereka, sedang dipentaskan sebuah drama cinta terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Bayangkanlah betapa berat ujian itu.
Ibrahim adalah seorang ayah yang telah menunggu puluhan tahun untuk hadirnya seorang anak. Di usia senja, ketika harapan manusia biasanya mulai memudar, Allah menganugerahkan Ismail sebagai penyejuk hati dan penerus perjuangan dakwahnya.
Namun ketika cinta kepada anak itu sedang tumbuh begitu kuat, datanglah perintah dari langit melalui mimpi yang benar agar ia menyembelih putra tercintanya sendiri. Sebuah perintah yang secara manusiawi terasa begitu mengguncang jiwa, merobek perasaan, dan menghantam naluri kebapakan paling dalam.
Ego seorang ayah diuji di titik paling puncak: antara mempertahankan cinta kepada anak atau membuktikan cinta kepada Allah. Tetapi lihatlah kemuliaan iman Ibrahim. Ia tidak membiarkan egonya mengalahkan ketaatannya. Ia tidak membantah perintah Tuhan, tidak mencari alasan untuk menghindar, dan tidak menunda-nunda pelaksanaannya.
Dengan hati yang dipenuhi keyakinan, ia menyampaikan perintah itu kepada Ismail. Dan lebih menakjubkan lagi, sang anak pun menjawab dengan penuh ketundukan dan keikhlasan.
Allah SWT mengabadikan dialog suci ini dalam Al-Qur'an, Surah As-Saffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi dalam tidur bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'"Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahilhmad
Kaum muslimin yang berbahagia!
Renungkanlah, wahai jiwa-jiwa yang merindukan surga! Pisau tajam yang berada di tangan Ibrahim hari itu sesungguhnya bukanlah alat pembunuh. Pisau itu adalah alat pemotong sifat keakuan. Pisau itu bertugas menyembelih keangkuhan, menyembelih rasa kepemilikan mutlak atas dunia, dan memotong ego yang sering kali merasa lebih tinggi dari titah Sang Khalik. 
Beslam salaman usai sholat id dan mendengarkan khutbah idul Adha
Ibrahim menghujamkan pisau itu bukan karena benci pada anaknya, melainkan karena cintanya yang tenggelam dalam samudera rida Allah SWT. Dan ketika keikhlasan telah mencapai puncaknya, ketika ego telah lumat menjadi debu, Allah menggantinya dengan seekor domba yang besar.
Inilah pelajaran terbesar yang diwariskan Idul Adha kepada umat manusia sepanjang zaman: bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan lisan, bukan hanya ritual yang diulang setiap tahun, tetapi keberanian menempatkan cinta kepada Allah di atas segala-galanya.
Di atas ego pribadi, di atas ambisi duniawi, di atas rasa memiliki, bahkan di atas sesuatu yang paling kita cintai dalam kehidupan ini. Sebab hakikat keimanan akan benar-benar tampak ketika seorang hamba dihadapkan pada pilihan antara kehendak dirinya dan kehendak Tuhannya. Banyak orang mudah mengatakan “aku mencintai Allah”, tetapi ketika perintah Allah berbenturan dengan hawa nafsu, kepentingan, kenyamanan, jabatan, harta, atau hubungan yang dicintainya, tidak semua mampu bertahan dalam ketaatan.
Ketika cinta kepada Allah telah memenuhi hati, maka segala pengorbanan akan terasa lebih ringan, segala ujian akan lebih mudah dijalani, dan segala kehilangan akan dipandang sebagai jalan menuju keridhaan-Nya.
Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahilhmad
Hari ini, hewan-hewan kurban telah berbaris. Pisau-pisau tajam telah diasah. Namun, ketahuilah, musuh terbesar yang harus kita rebahkan hari ini di atas altar penyembelihan bukanlah kambing, bukan pula sapi. Musuh itu ada di dalam dada kita sendiri ; Ego kita yang gemuk.
Kita sering kali memelihara "hewan ternak" di dalam batin kita. Kita pelihara sifat sombong seperti singa, kita rawat sifat tamak seperti serigala, dan kita besarkan sifat egois yang menganggap diri paling benar. Maka, saat pisau kurban mengiris leher hewan di luar sana, pastikan mata pisau maknawi di dalam hati kita juga sedang memotong sifat keakuan kita!
Allah tidak butuh pada dagingnya, Allah tidak haus pada darahnya. Seluruh ibadah yang diperintahkan kepada manusia pada hakikatnya bukan untuk menambah kemuliaan Allah, melainkan untuk mendidik, membersihkan, dan meninggikan derajat manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, dalam Surah Al-Hajj ayat 37 Allah menegaskan dengan sangat jelas bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darah hewan qurban itu, melainkan ketakwaan yang lahir dari hati hamba-Nya. Firman Allah:
Berpose bersama usai sholat id adha
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridaan) Allah, tetapi yang mencapai (keridaan)-Nya adalah ketakwaan kamu."
Adalah naif, jika setelah Idul Adha berlalu, hewan kurban kita mati, namun ego kita tetap hidup subur. Alangkah ruginya kita jika darah kurban mengalir, namun air mata taubat kita kering kerontang. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
"Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta) namun ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami."
Hadis ini bukan sekadar dorongan untuk menyembelih hewan qurban, tetapi tamparan keras bagi hati yang terlalu mencintai harta dan terlalu sibuk menghitung keuntungan dunia. Rasulullah ingin menanamkan kepada umatnya bahwa seorang mukmin sejati harus memiliki kepedulian sosial, semangat berbagi, dan kesiapan berkorban demi mendekatkan diri kepada Allah.
Harta yang kita dekap erat-erat hari ini, esok akan menjadi tanah. Namun, sekerat daging yang kita bagikan dengan ketulusan nurani, akan menjelma menjadi cahaya yang menerangi gelapnya liang kubur kita.
Jamaah Id Rahimakumullah
Untuk anak-anak kita, generasi muda kita di lingkungan ini, yang sedang tumbuh dan berkembang, yang hari ini masih menempuh pendidikan, sedang merintis usaha, mencari pekerjaan, ataupun yang telah mulai memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat, ingatlah bahwa masa depan kalian masih sangat panjang. Jangan pernah merasa terlambat untuk menjadi baik, jangan mudah menyerah hanya karena jalan hidup terasa berat, dan jangan membandingkan perjalanan hidup kalian dengan orang lain secara berlebihan.
Setiap orang memiliki waktu, ujian, dan prosesnya masing-masing. Yang terpenting adalah tetap bergerak, tetap belajar, tetap memperbaiki diri, dan tetap menjaga iman di tengah dunia yang terus berubah dengan begitu cepat. Jalani kehidupan hari ini dengan penuh rasa syukur, karena rasa syukur akan membuat hati lebih kuat menghadapi kekurangan dan lebih bijak memandang kehidupan. Tataplah masa depan dengan optimisme, sebab seorang mukmin tidak boleh hidup dalam keputusasaan.
Nyalakanlah semangat berkorban sejak usia muda. Belajarlah menahan ego, mengendalikan hawa nafsu, dan menunda kesenangan sesaat demi cita-cita yang lebih mulia. Jangan biasakan hidup serba instan, sebab kematangan tidak lahir dari kenyamanan yang berlebihan.
Orang-orang besar lahir dari perjuangan panjang, dari kesabaran menghadapi kegagalan, dari keberanian bangkit setelah jatuh, dan dari kesediaan untuk terus belajar meskipun berkali-kali merasa lelah. Jika hari ini kalian harus berkorban waktu untuk belajar, berkorban tenaga untuk membantu orang tua, berkorban kenyamanan demi memperbaiki masa depan, maka yakinlah bahwa semua itu tidak akan sia-sia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan malu hidup sederhana, jangan minder memulai dari bawah, dan jangan takut berjalan pelan, selama kalian tetap berjalan di jalan yang benar.
Di era media sosial, banyak anak muda kehilangan arah karena terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia, mengejar popularitas semu, dan menjadikan standar dunia sebagai ukuran kebahagiaan. Padahal kemuliaan sejati bukan terletak pada seberapa banyak orang mengenal kita, tetapi seberapa dekat kita kepada Allah, seberapa besar kita membawa manfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, dan umat.
Sebagai bagian akhir khutbah ini, patut kita garis bawahi. Sosok Nabi Ibrahim AS adalah teladan tentang sebuah keluarga yang luar biasa; keluarga yang dibangun di atas iman, pengorbanan, doa, dan ketundukan kepada Allah Swt. Beliau bukan hanya dikenal sebagai kekasih Allah, tetapi juga sebagai sosok ayah yang agung, yang senantiasa berusaha menjadi pribadi terbaik bagi keluarganya. Beliau tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga terus memohon agar anak cucunya menjadi generasi yang saleh.
Begitu pula Hajar, istri Nabi Ibrahim, adalah sosok perempuan luar biasa yang layak menjadi teladan sepanjang zaman. Ketika ditinggalkan di lembah tandus tanpa kehidupan bersama bayi kecilnya Ismail, ia tidak tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan. Dengan iman yang kokoh, ia yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.
Dari seorang ibu bernama Hajar, kita belajar tentang keteguhan, kesabaran, pengorbanan, dan kekuatan seorang perempuan dalam menjaga amanah keluarga dan mendidik anaknya dengan penuh keimanan. Hajar tidak hanya menjadi ibu biologis bagi Ismail, tetapi juga menjadi madrasah pertama yang menanamkan keteguhan iman dan kepatuhan kepada Allah dalam diri putranya.
Maka Idul Adha juga mengingatkan kita bahwa membangun keluarga yang diridhai Allah membutuhkan perjuangan bersama. Dibutuhkan ayah yang mampu menjadi teladan dalam iman dan tanggung jawab, dibutuhkan ibu yang kuat menjaga nilai dan akhlak di dalam rumah, serta dibutuhkan anak-anak yang tumbuh dalam ketaatan dan penghormatan kepada orang tua.
Barakallahu lii wa lakum fil Qur'anil 'Adhiim, wa nafa'ani wa iyyakum bima fiihi minal ayati waz-zikril hakiim. Aquulu qawli haza wa astaghfirullahal 'Adhiim lii wa lakum.
Khutbah Kedua
اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ.اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلًا لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ.الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِشَرِيْعَةِ الْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَشْرَفِ الْاَنَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ وَرَبُّ الْعَالَمِيْنَ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا اِمَامَ الْمُرْسَلِيْنَ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ.أَمَّا بَعْدُ.
Pada khutbah kedua ini, marilah sejenak kita menundukkan jiwa dan hati untuk menyampaikan doa-doa kita kepada Sang Maha mendengar, Allah Azza wa Jalla. Semoga doa-doa itu terhantarkan ke sisi Allah Ta’ala bersama dengan ibadah kurban yang kita tunaikan hari ini.
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُحْمَد وَنَشْكُرُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُشْكَر وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ فَإِنَّكَ أَنْتَ أَهْلُ الْمَجْدِ وَالثَّناَءِ ، رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم
Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang menciptakan kami, Engkaulah satu-satuNya yang berhak untuk kami sembah… Hari ini kami datang mengetuk pintu ampunanMu. Ya Allah, betapa kami sering lupa bahwa kehidupan dunia ini sangat singkat, hingga kami pun jatuh dan jatuh lagi dalam kedurhakaan terhadap perintahMu. Ya Allah, ampunilah kami.
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim…
Hari ini kami bersimpuh di hadapan-Mu, membawa hati yang penuh luka dan noda, namun tetap berharap pada luasnya ampunan-Mu. Kami datang bukan sebagai hamba yang suci tanpa dosa, tetapi sebagai hamba yang sering lalai, sering jatuh dalam kesalahan, dan sering kalah oleh hawa nafsu kami sendiri. Kami akui ya Allah, betapa sering ego kami lebih tinggi daripada ketaatan kami kepada-Mu. Betapa sering kesibukan dunia melalaikan kami dari mengingat-Mu.
Ya Allah, Ya Ghaffar, Ya Tawwab…
Di hari Idul Adha yang mulia ini, kami memohon dengan segala kerendahan hati: sembelihlah kesombongan yang masih bersemayam dalam diri kami. Potonglah sifat riya yang merusak amal-amal kami. Cabutlah akar kekikiran, kedengkian, kebencian, dan cinta dunia yang berlebihan dari dada kami. Jadikanlah setiap tetesan darah hewan qurban yang kami alirkan hari ini sebagai jalan penghapus dosa-dosa kami, sebagai pembasuh jiwa kami yang kering dari zikir dan taubat, dan sebagai saksi yang menyelamatkan kami pada hari ketika tidak ada yang mampu menolong selain rahmat-Mu.
Ya Allah, Ya Karim, Ya Wahhab…
Berkahilah harta yang Engkau titipkan kepada kami. Jangan jadikan ia sumber kesombongan dan kelalaian, tetapi jadikan ia jalan mendekat kepada-Mu dan jalan membahagiakan sesama. Berkahilah keluarga kami, pasangan kami, anak-anak kami, dan keturunan kami. Jadikan rumah-rumah kami dipenuhi sakinah, mawaddah, wa rahmah. Tanamkan dalam hati kami keteguhan seikhlas Ibrahim dan kepasrahan setulus Ismail. Ajarkan kami untuk rela berkorban demi kebenaran, rela mengalah demi persaudaraan, dan rela berbagi demi kebahagiaan orang lain.
Ya Allah, Ya Muqallibal Qulub…
Jangan biarkan dunia mencengkeram hati kami hingga kami lupa tujuan hidup yang sebenarnya. Jadikan dunia hanya berada di tangan kami, bukan di hati kami. Jangan biarkan jabatan membuat kami angkuh, jangan biarkan harta membuat kami lalai, dan jangan biarkan kesenangan dunia menjauhkan kami dari jalan-Mu.
Ya Allah, Ya Hafizh, Ya Latif…
Lindungilah anak-anak dan generasi muda kami. Jagalah iman mereka di tengah zaman yang penuh fitnah dan godaan. Kuatkan hati mereka agar tidak hanyut dalam arus kemaksiatan dan kesia-siaan. Jadikan mereka generasi yang cerdas akalnya, lembut akhlaknya, kuat mentalnya, dan kokoh imannya. Bukakan bagi mereka pintu ilmu, pintu keberkahan, pintu rezeki yang halal, dan masa depan yang mulia. Jadikan mereka anak-anak yang membanggakan agama, keluarga, masyarakat, dan umat.
Ya Allah, Ya Hafizh, Ya Mujibad Da‘awat…
Pada hari yang mulia ini, kami juga menengadahkan doa untuk saudara-saudara kami kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci-Mu. Limpahkanlah kepada mereka kesehatan, kekuatan, keselamatan, dan kemudahan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah. Terimalah haji mereka sebagai haji yang mabrur, dosa yang diampuni, dan amal yang Engkau ridai. Jadikan setiap langkah mereka di Arafah, Muzdalifah, Mina, dan di sekitar Baitullah sebagai langkah yang Engkau catat dengan pahala yang berlipat ganda. Dan bagi kami yang belum Engkau panggil menjadi tamu di rumah-Mu, jangan padamkan harapan kami. Bukakanlah jalan dan rezeki agar suatu hari nanti kami pun dapat bersujud di hadapan Ka’bah-Mu, bertalbiyah memenuhi panggilan-Mu.
Ya Allah, Ya Jabbar, Ya ‘Aziz…
Ampunilah dosa kedua orang tua kami, guru-guru kami, para pendahulu kami, dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami menghadap-Mu. Lapangkan alam kubur mereka, terangilah dengan cahaya rahmat-Mu, dan tempatkan mereka bersama para nabi, syuhada, shiddiqin, dan orang-orang saleh. Dan bagi kami yang masih Engkau beri kesempatan hidup, tuntunlah langkah kami agar istiqamah dalam iman dan kebaikan hingga akhir hayat kami.
Ya Allah, Ya Mujib as-Sailin…
Terimalah seluruh ibadah kami, qurban kami, doa-doa kami, air mata taubat kami, dan seluruh amal kecil kami yang penuh kekurangan ini. Jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami. Wafatkanlah kami kelak dalam keadaan husnul khatimah, dalam keadaan beriman dan bersujud kepada-Mu.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Pewarta: Dae Ompu



0 Komentar