Bayang-bayang Ramadhan kini sudah kelihatan samar-samar. Ia belum sepenuhnya hadir, tetapi jejaknya sudah terasa di udara batin umat Islam. Bulan purnama yang beberapa malam lalu bersinar penuh, pelan-pelan mulai menipis cahayanya—seakan memberi isyarat bahwa satu fase akan segera tergulung oleh datangnya bulan yang baru. Alam pun seperti ikut berzikir, memberi tanda bahwa waktu sedang beralih, dan kesempatan besar yang bernama Ramadhan sedang mendekat.
Hikmah Jum`at, 06 Pebruari 2026
Hiruk-pikuk penyambutan mulai menggema, mulai dari loker-loker ibadah, orang-orang mulai merapikan niat, menata kembali jadwal salat, tilawah, dan sedekah. Dalam ranah muamalah, percakapan tentang puasa, zakat, harga kebutuhan pokok, rencana mudik pun mulai mencuat ke permukaan. Hingga masjid-masjid tak tinggal diam; mimbar-mimbar mulai menyuarakan pesan penyambutan—Khutbah Jumat, pengajian rutin, dan kajian tematik mulai mengambil Ramadhan sebagai topik sentral. Tema-tema diskusi dan percakapan ringan mengangkat Ramadhan menjadi bahan hangat—di ruang keluarga, grup WhatsApp, hingga warung kopi.
Namun, respon terhadap kabar kedatangan Ramadhan tidaklah tunggal. Ada yang menyambutnya dengan bahagia dan penuh rindu, ada yang bersikap biasa-biasa saja, dan bahkan ada pula yang merasa tidak siap menerima kedatangannya. Ramadhan, rupanya, bukan hanya soal kalender hijriyah, tetapi cermin kondisi batin manusia.
Dalam tradisi keislaman, Ramadhan kerap digambarkan sebagai tamu agung. Ia datang membawa hadiah besar: ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka. Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atasmu berpuasa di dalamnya. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i).
Ulama besar seperti Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menegaskan bahwa ”Ramadhan bukan sekadar waktu menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum pembentukan jiwa”. Menurutnya, Ramadhan adalah madrasah ruhani yang dirancang Allah untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya. Maka kegembiraan menyambut Ramadhan sejatinya adalah isyarat sehatnya iman.
Karena itu, para sahabat Nabi pun menyambut Ramadhan dengan persiapan panjang. Di beberapa riwayat menjelaskan bahwa mereka berdo’a enam bulan sebelum Ramadhan agar dipertemukan dengannya, dan enam bulan setelahnya agar amal-amal mereka diterima. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan peristiwa sesaat, tetapi sebuah siklus spiritual yang panjang.
Bagi sebagian orang, Ramadhan adalah bulan yang sangat dirindukan. Ada getar bahagia yang sulit dijelaskan ketika mendengar kata “Ramadhan”. Masjid menjadi lebih hidup, Al-Qur’an lebih sering dibaca, dan kebersamaan terasa lebih hangat. Rindu semacam ini, kata Imam al-Ghazali, muncul dari hati yang pernah merasakan manisnya ibadah. Dalam Ihya’ Ulumuddin, ia menjelaskan bahwa ”siapa pun yang pernah merasakan kedekatan dengan Allah, akan merindukan waktu-waktu yang memudahkannya untuk dekat kembali—dan waktu terbaik itu adalah Ramadhan”.
Namun, ada pula yang menyambut Ramadhan dengan perasaan biasa saja. Tidak ada getar khusus, tidak ada kerinduan mendalam. Puasa dipandang sekadar rutinitas tahunan yang akan berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Sikap ini, meski tidak selalu salah, patut menjadi bahan refleksi. Bisa jadi, kata Hasan al-Bashri, hati kita sedang lelah, tertutup, atau terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga kehilangan sensitivitas spiritual.
Lebih jauh lagi, ada orang-orang yang justru merasa tidak siap, bahkan terbebani dengan datangnya Ramadhan. Puasa dianggap mengganggu produktivitas, tarawih dianggap melelahkan, dan tuntutan ibadah dianggap menambah tekanan hidup. Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah mengingatkan bahwa rasa berat terhadap ibadah sering kali bukan karena ibadah itu sendiri, melainkan karena hati yang terlalu lama bergantung pada kenikmatan dunia. Ketika dunia menjadi pusat segalanya, ibadah terasa sebagai beban, bukan kebutuhan.
Bayang-bayang Ramadhan yang mulai tampak sejatinya adalah undangan untuk merenung. Ia belum memaksa, belum menuntut, tetapi sudah mengingatkan. Seperti senja sebelum malam, ia memberi waktu bagi manusia untuk bersiap—secara fisik, mental, dan spiritual.
Dalam konteks ini, Syekh Yusuf al-Qaradawi menekankan bahwa persiapan Ramadhan yang paling penting bukanlah persiapan logistik, melainkan persiapan jiwa. Membersihkan hati dari dendam, iri, dan kebencian adalah langkah awal agar Ramadhan tidak hanya berlalu sebagai ritual, tetapi benar-benar berbekas dalam kehidupan.
Ramadhan datang bukan untuk mengubah jadwal makan semata, melainkan untuk mengubah orientasi hidup. Ia mengajarkan pengendalian diri, empati sosial, dan kedekatan dengan Allah. Puasa menngajak kita merasakan lapar agar peka terhadap penderitaan sesama. Tarawih mendidik kita untuk sabar dan istiqamah. Zakat dan sedekah mengikis ego dan menumbuhkan solidaritas.

Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd
Hiruk-pikuk penyambutan Ramadhan memang indah, tetapi yang lebih penting adalah kesadaran di baliknya. Jangan sampai Ramadhan hanya ramai di permukaan, tetapi sunyi di kedalaman jiwa. Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” Pesan ini relevan di setiap zaman, termasuk hari ini.
Maka, ketika bayang-bayang Ramadhan mulai menyapa, pertanyaan penting yang patut kita ajukan adalah: sudah sejauh mana kita siap menjadi manusia yang lebih baik?
Pertanyaan ini menjadi penting, sebab Ramadhan bukan sekadar episode tahunan yang berlalu tanpa jejak. Ia adalah momentum evaluasi—sebuah cermin yang dengan jujur memperlihatkan siapa diri kita sebelum, selama, dan sesudah berpuasa. Jika Ramadhan hanya mampu mengubah jam makan dan jadwal tidur, tetapi tidak menggeser cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama, maka ada ruh yang terlewat dari ibadah yang kita jalani.
Ramadhan sejatinya datang untuk menata ulang orientasi hidup: dari yang semula berpusat pada diri sendiri menuju kesadaran sebagai hamba dan makhluk sosial yang saling terikat.
Akhirnya, bagi siapa pun—yang bahagia, yang biasa saja, atau yang merasa belum siap—Ramadhan tetaplah karunia. Ia datang bukan untuk menghakimi kesiapan kita, tetapi untuk menawarkan kesempatan. Tinggal bagaimana kita menyambutnya: sebagai tamu yang kita muliakan, atau sekadar lewat tanpa makna.
Semoga bayang-bayang yang kini samar itu akan menjelma menjadi cahaya yang menerangi hari-hari kita, bukan hanya sebulan, tetapi sepanjang usia.
Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd : Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

0 Komentar