BidikNews.net,Mataram - Ikatan Mahasiswa Bima Mataram (IMBI) melakukan audiensi dengan Dinas Perhubungan Provinsi NTB guna menindaklanjuti keluhan masyarakat dan mahasiswa terkait kenaikan harga tiket bus rute Mataram–Bima yang melonjak signifikan pada momen mudik.
Dalam audiensi tersebut, pihak Dinas Perhubungan melalui Kabid Angkutan, Bapak Sobri, menjelaskan beberapa alasan yang menjadi dasar kenaikan harga tiket. Pihak Dishub menyampaikan bahwa terdapat tiga faktor utama yang melatarbelakangi kebijakan tersebut.
Pertama, adanya penetapan tarif angkutan pada masa Lebaran yang berlaku sejak H-10 hingga H+10, di mana harga tiket yang sebelumnya sekitar Rp250.000 dinaikkan hingga kisaran Rp330.000–Rp350.000.
Kedua, adanya kenaikan biaya penyeberangan kapal dari Pelabuhan Kayangan menuju Pelabuhan Poto Tano yang turut mempengaruhi biaya operasional transportasi.
Ketiga, pihak perusahaan bus menyampaikan bahwa ketika bus kembali dari Bima menuju Mataram, jumlah penumpang relatif sedikit sehingga mempengaruhi keseimbangan biaya operasional perjalanan.
Namun dalam forum audiensi tersebut, IMBI Mataram melalui Ketua Umum Formateur, Arif Rizal Muhaimin, menyampaikan bahwa alasan-alasan tersebut tidak sepenuhnya dapat dijadikan dasar untuk membebankan kenaikan harga yang tinggi kepada masyarakat.
Dalam praktik usaha tentu terdapat risiko untung dan rugi, sehingga tidak tepat apabila seluruh beban operasional dialihkan kepada mahasiswa dan masyarakat yang menjadi pengguna transportasi.
IMBI Mataram juga menegaskan bahwa kebijakan transportasi publik seharusnya berpijak pada nilai keadilan sosial dan keberpihakan kepada masyarakat, bukan semata-mata pada pertimbangan keuntungan ekonomi.
Negara melalui pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk memastikan layanan transportasi tetap terjangkau dan tidak memberatkan masyarakat, khususnya pada momentum mudik yang menjadi kebutuhan sosial banyak orang.
Selain itu, dalam audiensi tersebut juga terungkap ketidaksesuaian antara tarif yang ditetapkan oleh Dishub dengan harga yang terjadi di lapangan.
Pihak Dinas Perhubungan NTB menyampaikan bahwa tarif resmi yang ditetapkan untuk rute Mataram–Bima adalah sekitar Rp330.000, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian pihak bus menjual tiket hingga Rp350.000.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Formateur IMBI Mataram menyampaikan secara tegas bahwa kondisi tersebut menunjukkan ketidakmampuan pengawasan dari pihak Dishub NTB terhadap operator bus.
Dalam forum audiensi itu pula, Ketua IMBI bahkan menelpon langsung salah satu pihak bus di hadapan Kabid Angkutan Dishub NTB untuk menanyakan harga tiket yang sedang diberlakukan.
Dari percakapan tersebut, baik pihak Dishub maupun peserta audiensi sama-sama mendengar bahwa harga yang diterapkan di lapangan memang tidak sepenuhnya sesuai dengan tarif yang ditetapkan oleh pemerintah.
Peristiwa tersebut semakin memperjelas bahwa terdapat kesenjangan antara kebijakan yang ditetapkan dengan realitas yang terjadi di lapangan.
Oleh karena itu, IMBI Mataram menilai bahwa Dishub NTB tidak cukup hanya menetapkan tarif, tetapi juga harus memastikan pengawasan dan pengendalian terhadap operator transportasi agar kebijakan benar-benar dijalankan secara konsisten.
Menanggapi temuan tersebut, pihak Dinas Perhubungan NTB menyampaikan bahwa mereka akan menindaklanjuti persoalan ini dan melakukan evaluasi terhadap pihak bus yang menjual tiket di atas tarif yang telah ditetapkan.
Bagi IMBI Mataram, persoalan ini bukan sekadar tentang angka harga tiket, tetapi juga menyangkut tanggung jawab pemerintah dalam melindungi masyarakat dari praktik tarif yang tidak terkontrol.
Transportasi publik merupakan kebutuhan penting masyarakat, sehingga kebijakan yang diambil harus mengedepankan keadilan, rasionalitas, dan kepentingan publik.
IMBI Mataram menegaskan akan terus mengawal persoalan ini secara serius, agar kebijakan transportasi di Nusa Tenggara Barat benar-benar berjalan secara adil, transparan, dan berpihak kepada masyarakat, khususnya mahasiswa dan warga Bima yang sangat bergantung pada jalur transportasi Mataram–Bima.
pewarta: Tim

0 Komentar