Pesona Pawai “Rimpu” Warga Bima Dompu Meriahkan HUT RI ke-81 di Kabupaten Lombok Barat

Nampak dalam gambar, DR.Syamsuryansah anggota DPRD Lombok Barat bersama pengurus RKBD Lombok barat serta wanita-wanita cantik dengan busana Rimpu 
Pesona “Rimpu Tembe Nggoli” menjadi pemandangan menarik ketika pawai yang berlangsung pada Sabtu 15 Agustus 2025 di Kabupten Lombok Barat Provinsi NTB sekaligus peran serta Rukun Keluarga Bima Dompu (RKBD) Kabupaten Lombok Barat untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-81

BidikNews,Lombok Barat - Rimpu adalah cara berbusana tradisional khas perempuan Suku Mbojo (masyarakat Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat) yang menggunakan dua lembar sarung tenun khas daerah (Tembe Nggoli) untuk menutup aurat. Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam. 

Rimpu digambarkan dengan memakai sarung yang melingkar pada kepala dimana yang terlihat hanya wajah pemakainya. Pengguna Rimpu umumnya adalah kaum perempuan dengan tujuan menutup aurat sebagaimana ajaran Islam yang mengajarkan bahwa setiap perempuan yang sudah akil baliq harus menutup auratnya dihadapan orang yang bukan muhrimnya.

Hal itu sampaikan Ketua RKBD Lombok Barat, Drs. Woro Syafruddin kepada media ini disela-sela pawai HUR RI ke-81 berlangsung. Dikatakannya, Kegiatan pawai “Rimpu Tembe Nggoli” ini merupakan rentetan dari sejumlah program kegiatan yang dilaksanakan Organisasi kemasyarakatan warga Bima –Dompu yang tergabung dalam wadah (RKBD) di kabupaten Lombok Barat.

wanita-wanita Mbojo dengan pakaina adat (penari) serta  ibu-ibu yang anggun dan cantik ketika mengenakan busana Rimpu
“Rimpu Tembe Nggoli” sebagai busana yang mengandung nilai islami bagi masyarakat suku mbojo dilaksanakan dalam rangka menyambut HUT kemerdekaan RI ke-81 tahun 2026.” Kata Woro Syafruddin.

Pawai Rimpu Tembe Nggoli ini menjadi daya tarik tersendiri dan berhasil mencuri perhatian ribuan masyarakat kabupaten Lombok Barat yang turut serta dalam pawai tersebut. 

Pawai Rimpu Tembe Nggoli warga RKBD dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di kabupaten Lombok Barat ini juga dihadiri berbagai kalangan mulai dari TK PAUD hingga masyarakat umum. 

Wanita dengan “rimpu” menutup tubuh bagian atas dan “sanggentu” menutup tubuh bagian bawah. Sedangkan Pria memakai sarung Nggoli hanya bagian bawah yang disebut “Katente”. Seiring berjalannya waktu, pesona rimpu dan Sanggentu mengalami perjalanan yang panjang.” Jelas Woro. 

beragam corak dan warna, wanita - wanita RKBD dengan Rimpu sarung Nggoli menjadi pemandangan indah yang memanjakan mata ribuan warga masyarakat Lombok Barat.
Dijelaskan Woro Syafruddin dahulu, hanya dikenakan oleh kalangan tertentu, para perempuan bangsawan yang hidup dalam lingkaran istana. Namun, seiring perubahan zaman, rimpu keluar dari batas-batas itu, menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kini Rimpu menjadi milik bersama, dipakai oleh perempuan tua maupun muda, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak terpisahkan masyarakat Mbojo.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris RKBD Lombok Barat, Syahrullah mengatakan kehadiran Pawai Rimpu dan Sanggentu Tembe Nggoli dalam rangka memeriahkan HUR RI ke-81 tahun 2026 di Kabuapten Lombok Barat kali ini memberi bukti bahwa bahwa budaya islami warga Bima Dompu ini tidak pernah pudar. 

Di era modern yang serba canggih, rimpu dan sangentu tembe nggoli hadir sebagai pengingat bahwa di tengah arus globalisasi yang begitu kuat, ada nilai-nilai lokal yang tetap harus dijaga. Ada identitas yang tidak boleh hilang, meskipun dunia terus berubah.” Ujar Syahrullah sembari tersenyum bangga.

Laki-laki ganteng warga RKBD dengan gaya "katente" menjadikannya makin gagah ditengah kerumunan peserta pawai HUT RI ke 81 tahun 2026 di kabupaten Lombok barat.
Kegiatan pawai “Rimpu Tembe Nggoli” ini merupakan rentetan dari sejumlah program kegiatan yang dilaksanakan Organisasi masyarakat Bima –Dompu yang tergabung dalam wadah (RKBD) Lombok Barat.”lanjut Syahrullah.

Nampak terlihat Pawai Rimpu Tembe Nggoli ini pun berhasil mencuri perhatian masyarakat kabupaten Lombok Barat yang dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Lombok barat beserta jajarannya. 

Rimpu juga menjadi daya tarik tersendiri ketika ribuan mata memandang para wanita dengan “rimpu” menutup tubuh bagian atas dan “sanggentu” menutup tubuh bagian bawah. Sedangkan Pria memakai sarung Nggoli hanya bagian bawah yang disebut “Katente”.

Di tengah kemeriahan menyambut HUT RI ke-81 di kabupaten Lombok Barat ini, peserta “rimpu tembe nggoli” dari warga RKBD, membuktikan bahwa semangat kebersamaan dalam keberagaman itu terasa begitu hidup dan menyatu dalam satu tujuan yang sama, merayakan HUT kemerdekaan RI.

busana adat pengantin Bima Dompu bersama wanita berbusana Rimpu 
Wanita dan perempuan nampak  antusias memantulkan rasa bangga, dan langkah-langkah yang ringan mulai dan dari lapangan Mareje seolah digerakkan oleh energi kebersamaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata hingga berakhir di Pendopo Bupati Lombok Barat. 

Di antara kerumunan itu, anggota DPRD Lombok Barat, DR. Syamsuriansyah turut hadir dan larut dalam suasana kemerihan dengan busana Tembe Nggoli yang dikenakan sekaligus merasakan denyut budaya warisan leluhur yang seolah berbicara langsung kepada jiwa.

Bagi warga Bima Dompu yang berdomisili di Lombok Barat, pawai Rimpu dan Katetnte Tembe Nggoli di HUT kemerdekaan RI 2026 ini bukan sekadar perayaan biasa, akan tetapi sebuah Mahakarya para leluhur yang  dipersembahkan kepada generasi islami masa kini dan akan datang. 

Rimpu dan Katente bukan hanya dikenakan, tetapi sebagai simbol yang penuh dengan sarat makna. Setiap helai sarung nggoli yang membungkus tubuh bukanlah sekadar penutup fisik, melainkan perwujudan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan selama berabad-abad.

DR. Syamsuryansyah Sadakah (anggota DPRD Lombok Barat) bersama Ketua dan sekretaris RKBD Lombok Barat Woro Syafruddin  dan Syahrullah serta tokoh masyarakat Bima dengan bangga dapat ambil bagian di kemeriahan menyambut HUT RI ke-81 di baupaten Lombok Barat
Warga RKBD Lombok Baratg memandang bahwa Rimpu dan Katente dalam kesederhanaannya, menyimpan keagungan yang tak ternilai. Rimpu lahir dari perjumpaan dua dunia, tradisi lokal orang Bima (Dou Mbojo) dan ajaran Islam yang datang membawa cahaya. 

Pawai Rimpu dan Sanggentu serta Katente tembe nggoli di yang digagas RKBD kabupaten Lombok Barat dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI  dikabupaten Lombok barat ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan untuk menjaga kehormatan, menutup aurat, dan tetap mempertahankan identitas budaya. 

Dari sanalah, kehadiran Rimpu dan Sanggentu serta Katente tembe nggoli pada perayaan HUT RI ke 81 ini bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan, tetapi sebagai bentuk harmoni antara keyakinan dan kebudayaan masyarakat Mbojo membangun kebersamaan di Lombok Barat 

Pawai Rimpu warga RKBD Kabupaten Lombok Barat ini juga memberi kesan bahwa dalam balutan tembe nggoli yang sederhana itu, tersembunyi filosofi yang mendalam, tentang kesopanan, tentang harga diri, dan tentang bagaimana seorang perempuan menjaga martabatnya sebagai seorang manusia.

wanita-wanita Bima Dompu di Lombok Barat dengan rimpunya yang memanjakan mata
Di tengah suasana pawai Rimpu dan Sanggentu Tembe Nggoli dalam rangka menyambut HUT RI-ke 81 di Lombok Barat Provinsi kali ini Nampak jelas, pemandangan itu begitu memukau. Wanita dan pria mengenakan rimpu sanggentu dan katente dengan berbagai corak dan warna, berjalan dengan anggun ditengah Kota Gerung Lombok Barat. Dalam Setiap langkah mereka seakan mengisahkan cerita panjang tentang perjalanan budaya yang tak pernah berhenti. 

Ditengah teriknya matahari disertai hembusan angin turut memainkan kain-kain yang warna warni menciptakan suasana lembut yang memanjakan mata yang menyaksikannya.

Di tengah pesona pawai Rimpu dan Sanggentu serta katente Tembe Nggoli warga RKBD Kabupaten Lombok Bara kali ini bukan hanya sebuah cerita, tetapi bukti bahwa budaya dan identitas ini harus dijaga dengan sepenuh hati agar menjadi symbol busana islami yang terus dilestarikan.

Dalam rimpu, terdapat pesan dari warga RKBD Lombok Barat bahwa keindahan tidak selalu harus dipertontonkan secara terbuka. Justru dalam keterbatasan itulah, keanggunan menemukan maknanya yang sejati.

Pewarta: Dae Ompu


0 Komentar