Dalam buku “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History”, menempatkan Muhammad SAW pada posisi pertama sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah. Ia melihat keunikan pada diri Rasulullah, karena pengaruh beliau tidak hanya menyentuh ranah keagamaan, tetapi juga kehidupan sosial, politik, dan peradaban. 
ADA orang yang kita cintai karena ia pernah umemberi sesuatu kepada kita. Ada yang kita cintai karena ia pernah menolong kita ketika berada dalam kesulitan. Ada pula yang kita cintai karena kehadirannya membuat hidup kita terasa lebih bermakna. Tetapi pernahkah kita bertanya: siapakah manusia yang paling berjasa?, bahkan jasanya melampaui apa yang mampu kita hitung. Dialah Nabi kita Muhammad SAW.
Kita mungkin tidak pernah bertemu dengan beliau, tidak pernah mendengar langsung suara beliau, tidak pernah melihat senyum beliau dengan mata kepala sendiri, tetapi melalui perjuangan, pengorbanan, air mata, dakwah, dan hadis beliau, kita mengenal siapa Tuhan, kita mengenal Islam, kita mengetahui bagaimana iman seharusnya diwujudkan dalam kehidupan, karena itulah bahwa mencintai Rasulullah SAW bukan sekadar perasaan sentimental, bukan sekadar ungkapan lisan, dan bukan pula sekadar tradisi ketika Maulid tiba. Melainkan mencintai Rasulullah adalah kesadaran mendalam bahwa jalan keselamatan itu sampai kepada kita melalui manusia mulia bernama Muhammad SAW.
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah SAW adalah guru yang mengenalkan kepada kita siapa Allah. Coba bayangkan seandainya kita lahir tanpa pernah mengenal Islam, kita tidak mengenal syahadat, kita tidak mengetahui siapa Allah, kita tidak tahu untuk apa manusia diciptakan, kita tidak mengetahui bahwa hidup ini bukan sekadar perjalanan dari lahir menuju mati, tetapi perjalanan menuju keabadian.
Beliau datang membawa cahaya, beliau mengajarkan kepada kita tentang iman, Islam, dan ihsan. Beliau tidak hanya memberitahu bahwa Allah itu ada, tetapi mengajarkan bagaimana manusia membangun hubungan harmonis dengan-Nya. Beliau mengajarkan bahwa iman bukan sekadar sesuatu yang tersimpan di dalam hati, melainkan keyakinan yang melahirkan amal. Islam bukan sekadar identitas, melainkan way of life (jalan hidup). Dan ihsan bukan sekadar kebaikan, melainkan kesadaran bahwa kita hidup di bawah pengawasan Allah.
Bukankah karena beliau kita mengenal kalimat “Lā ilāha illallāh”?. Bukankah karena beliau kita tahu bahwa di balik dunia yang fana ini ada kehidupan yang abadi?. Bukankah karena beliau kita mengetahui bahwa ketika semua manusia meninggalkan kita, Allah tidak pernah meninggalkan kita?. Maka jika seseorang bertanya, “Mengapa kita harus mencintai Rasulullah?”, barangkali jawabannya sederhana: karena melalui beliaulah kita mengenal jalan menuju Dzat yang kita cintai, yaitu Allah Robbul alamin.
Rasulullah SAW tidak membiarkan iman berhenti sebagai teori, namun beliau mengajarkan bagaimana iman diterjemahkan menjadi ibadah, bagaimana kita berdiri di hadapan Allah dalam salat, bagaimana kita menahan lapar dan hawa nafsu dalam puasa, bagaimana kita membersihkan harta melalui zakat, bagaimana kita menyempurnakan penghambaan melalui haji, dan bagaimana kita berbagi kebahagiaan melalui sedekah.
Karena itu, setiap kali kita mengangkat tangan untuk takbir—sesungguhnya ada jejak Rasulullah SAW di dalam salat kita, ketika kita menahan lapar dan dahaga di bulan Ramadhan—ada tuntunan beliau dalam puasa yang kita jalankan, ketika kita rela memberi—ada teladan dalam sedekah yang kita tunaikan, ketika kita berhaji—ada manasik yang beliau ajarkan. Artinya, kita mengenal bentuk konkret penghambaan kepada Allah melalui risalah beliau.
Itulah sebabnya mencintai beliau bukan perkara tambahan dalam kehidupan seorang Muslim, tetapi penghormatan kepada guru agung yang mengajarkan kita bagaimana menjadi hamba Allah.
Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga berbicara tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya—bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan kejujuran dalam berdagang, amanah dalam memegang kepercayaan, keadilan dalam mengambfil keputusan, kasih sayang kepada yang lemah, penghormatan kepada tetangga, perhatian kepada anak yatim, dan kepedulian kepada orang miskin.
Beliau menunjukkan bahwa kesalehan tidak cukup diukur dari panjangnya doa, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan orang lain. Seorang muslim boleh rajin beribadah, tetapi jika lisannya melukai orang lain, ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Seorang muslim boleh banyak membaca Al-Qur’an, tetapi jika tangannya gemar menyakiti, berarti ada pesan Al-Qur’an yang belum sepenuhnya masuk ke dalam dirinya. Rasulullah datang untuk membangun manusia yang saleh secara vertikal dan mulia secara horizontal.
Al-Qur’an bahkan menggambarkan beliau dengan ungkapan yang sangat indah: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Rasulullah SAW juga mengajarkan kita tentang bersosialisasi, beliau hidup di tengah masyarakat yang berbeda agama, suku, budaya, dan kepentingan. Beliau tidak mengajarkan umatnya untuk kehilangan prinsip, tetapi juga tidak mengajarkan kebencian kepada manusia hanya karena perbedaan. Syariat beliau menegaskan: “Tidak ada paksaan dalam agama.” (QS. Al-Baqarah: 256). Kemudian: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)
Toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, akan tetapi toleransi berarti mampu hidup berdampingan tanpa kehilangan prinsip dan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran penting, bahwa perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan; perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan saling menghormati. Itulah syariat berupa akhlak yang beliau wariskan.
Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi pintar dalam hal agama, tetapi juga indah dalam beragama—Beliau mengajarkan bagaimana tersenyum, bagaimana memaafkan, bagaimana menghormati orang tua, bagaimana menyayangi anak-anak, bagaimana memperlakukan perempuan dengan mulia, bagaimana menghormati tetangga, bagaimana menjaga lisan, dan bagaimana agar kita tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Karena itu, kualitas keberagamaan seseorang pada akhirnya akan terlihat pada akhlaknya. Jika iman adalah akar, ibadah adalah batang, maka akhlak adalah buahnya.
Kemudian ada sebuah pesan Nabi SAW yang sangat terkenal: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” Maka jika kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, pertanyaannya bukan hanya: berapa banyak shalawat yang kita ucapkan? Akan tetapi juga: Apakah kita sudah belajar memaafkan seperti beliau?. Apakah kita sudah belajar bersabar seperti beliau?. Apakah kita sudah belajar rendah hati seperti beliau?. Apakah keluarga kita merasakan kasih sayang dari kita. Apakah orang-orang di sekitar kita merasa aman dari lisan dan tangan kita?. Sebab cinta kepada Rasulullah semestinya mengubah perilaku.
Selanjutnya ada satu kalimat Rasulullah SAW yang sangat menggetarkan hati; Ketika seseorang berkata bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, Nabi SAW bersabda: “Anta ma‘a man aḥbabta fil jannah”. Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai di Surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa indahnya kalimat itu. Ia bukan hanya kabar gembira, tetapi juga sebuah klarifikasi: Jika kita benar-benar mencintai Rasulullah SAW, maka sunnah beliau akan terasa seperti busana, akhlak beliau akan terasa seperti cahaya, dan shalawat kepada beliau akan terasa seperti kerinduan yang tak pernah selesai.
Oleh karenanya, kita tidak perlu terlalu sibuk mencari dalil untuk meyakinkan hati bahwa Rasulullah SAW layak dicintai. Bukankah seluruh hidup beliau adalah alasan untuk mencintainya? Beliau menangis untuk umatnya, beliau berdoa untuk umatnya, beliau memikirkan umatnya, bahkan ketika berada di ambang wafat, salah satu kegelisahan beliau adalah umatnya. Lalu bagaimana mungkin kita mengaku sebagai umatnya, tetapi hati kita tidak memiliki ruang untuk mencintainya?
Para Tokoh, pemikir, dan sejarawan dunia pun mengagumi bahkan perhatiannya sangat tertarik kepada Nabi SAW. Dalam bukunya “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History”, menempatkan Muhammad SAW pada posisi pertama sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah. Ia melihat keunikan pada diri Rasulullah, karena pengaruh beliau tidak hanya menyentuh ranah keagamaan, tetapi juga kehidupan sosial, politik, dan peradaban.
Sementara itu, para tokoh dunia mengungkapkan kekagumannya terhadap pribadi Nabi SAW dengan menyebut bahwa kesederhanaan, keteguhan, serta pengaruh moral beliau memberikan pelajaran penting bagi manusia. Kita tentu tidak mencintai Rasulullah SAW karena penilaian tokoh-tokoh tersebut. Kita mencintai beliau karena iman, tetapi pengakuan orang-orang yang membaca sejarah dari luar tradisi Islam dapat menjadi cermin bahwa keagungan pribadi Muhammad SAW bukan hanya dirasakan oleh umat Islam itu sendiri.
Jangan sampai kita begitu mudah mengatakan “Aku mencintai Rasulullah”, tetapi berat mengikuti sunnahnya, jangan sampai kita menangis ketika mendengar kisah beliau, tetapi tidak menangis ketika kita menyakiti sesama, jangan sampai kita memperbanyak shalawat, tetapi mengurangi kejujuran, jangan sampai kita merayakan kelahiran beliau, tetapi melupakan pesan-pesan beliau.
“Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini seakan memberikan ukuran cinta, bahwa mencintai Rasulullah berarti berusaha menghadirkan beliau dalam keputusan-keputusan kita; Ketika marah misalnya, kita ingat bagaimana beliau mengendalikan amarah. Ketika memiliki kekuasaan, kita ingat bagaimana beliau rendah hati. Ketika disakiti, kita ingat bagaimana beliau memaafkan. Ketika memperoleh nikmat, kita ingat bagaimana beliau bersyukur. Dan ketika menghadapi kesulitan, kita ingat bagaimana beliau bersabar.
Pada akhirnya, mencintai Rasulullah SAW adalah sebuah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bukan hanya lebih rajin beribadah, tetapi lebih lembut hatinya. Bukan hanya lebih banyak ilmunya, tetapi lebih rendah hati. Bukan hanya lebih kuat keyakinannya, tetapi lebih luas kasih sayangnya. Bukan pula hanya lebih dekat dengan masjid, tetapi juga lebih dekat dengan manusia yang membutuhkan pertolongan. Itulah cinta yang hidup.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika seluruh gelar kita telah hilang, ketika jabatan tidak lagi disebut, ketika harta tidak lagi berarti, ketika tubuh telah kembali menjadi tanah, kita hanya berharap satu hal: semoga kita dikumpulkan bersama manusia yang selama ini kita cintai, yakni Rasulullah SAW.
Sebagai catatan pinggir, bahwa mencintai Rasulullah SAW bukan sekadar karena beliau adalah manusia paling mulia, tetapi karena melalui beliaulah kita belajar menjadi manusia yang benar-benar menjadi hamba Allah. Beliaulah yang mengajari kita siapa Tuhan yang harus kita sembah, bagaimana cara menyembah-Nya, bagaimana menjalani hidup sebagai seorang Muslim, bagaimana memperlakukan sesama manusia, dan bagaimana menghiasi kehidupan dengan akhlak yang mulia. Tanpa petunjuk yang beliau bawa, kita mungkin mengenal kehidupan, tetapi tidak memahami tujuan kehidupan; kita mungkin memiliki hati, tetapi tidak tahu kepada siapa hati itu harus berserah; kita mungkin memiliki kebebasan, tetapi tidak tahu kepada siapa kebebasan itu harus dipertanggungjawabkan.
Rasulullah SAW mengubah manusia yang hidup hanya untuk dirinya menjadi manusia yang hidup karena dan untuk Allah. Beliau mengajarkan bahwa menjadi hamba bukan kehinaan, melainkan kemuliaan tertinggi. Sebab ketika kita menjadi hamba Allah, kita tidak lagi diperbudak oleh harta, jabatan, popularitas, hawa nafsu, dan penilaian manusia. Kita tunduk kepada Allah, tetapi justru karena ketundukan itulah kita merdeka dari segala sesuatu selain Dia.
Prof. DR. H. Maimun, M. Pd – Dekan Fakultas Tarbiyah dan keguruan (FTK) UIN Mataram
0 Komentar