Ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu, satu nasihat yang paling sering kita dengar adalah berhemat. Kurangi belanja, tahan keinginan, atur pengeluaran, dan jangan membeli sesuatu yang tidak terlalu dibutuhkan. Nasihat ini tentu masuk akal. Namun, di tengah tekanan ekonomi yang semakin terasa, muncul satu pertanyaan: sampai sejauh mana masyarakat harus terus berhemat ketika biaya hidup meningkat, sementara penghasilan tidak selalu ikut naik?
Pelemahan nilai tukar rupiah yang menjadi perhatian publik belakangan ini menambah kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian. Sebagaimana nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026, dibuka melemah ke kisaran Rp18.035 hingga Rp18.046 per dolar AS, rupiah menghadapi tekanan dari faktor internal maupun eksternal.
Pergerakan nilai tukar bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan. Dalam kondisi tertentu, perubahan nilai tukar dapat memengaruhi biaya impor, harga bahan baku, dan biaya produksi yang pada akhirnya berpotensi berdampak pada harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
Di tengah situasi seperti ini, ungkapan “In This Economy?” terasa semakin relevan. Frasa yang sering digunakan untuk menggambarkan betapa beratnya menjalani kehidupan di tengah kondisi ekonomi tertentu ini bukan sekadar keluhan atau candaan di media sosial. Di baliknya, terdapat kegelisahan nyata tentang bagaimana memenuhi kebutuhan hidup ketika harga terus menekan, sedangkan kemampuan keuangan tidak selalu mampu mengimbangi.
Tentu saja, berhemat tetap penting. Kebiasaan mengendalikan pengeluaran, menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menghindari utang konsumtif merupakan bagian dari pengelolaan keuangan yang sehat. Dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti, kemampuan mengatur uang bahkan menjadi semakin penting.
Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Tidak semua kesulitan keuangan terjadi karena masyarakat gagal mengelola uang. Ada rumah tangga yang sudah mengurangi belanja, menunda kebutuhan pribadi, memilih barang yang lebih murah, bahkan menghilangkan pengeluaran untuk hiburan, tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Bagi kelompok ini, masalahnya bukan semata-mata gaya hidup yang berlebihan, melainkan ruang keuangan yang semakin sempit.
Ketika sebagian besar penghasilan habis untuk makanan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya, anjuran untuk kembali berhemat tentu memiliki batas. Apa lagi yang harus dikurangi ketika pengeluaran sudah berada pada tingkat minimum? Haruskah masyarakat terus mengencangkan ikat pinggang sampai kebutuhan yang mendasar pun tidak lagi terpenuhi?
Di sinilah kita perlu membedakan antara perilaku konsumtif dan tekanan ekonomi. Perilaku konsumtif memang perlu dikendalikan. Namun, masyarakat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar tidak bisa begitu saja disamakan dengan mereka yang menghabiskan uang untuk memenuhi keinginan. Menyamakan keduanya justru berisiko menyederhanakan persoalan dan membebankan tanggung jawab ekonomi secara tidak proporsional kepada individu.
Jika semua orang terus diminta berhemat, pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang bertanggung jawab menjaga agar harga tetap terjangkau dan daya beli masyarakat tidak terus melemah?
Berhemat merupakan tanggung jawab pribadi, tetapi menjaga kondisi ekonomi agar masyarakat dapat hidup layak juga merupakan tanggung jawab yang lebih luas. Pemerintah perlu memastikan kebijakan ekonomi tidak hanya berorientasi pada indikator makro, tetapi juga memperhatikan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Stabilitas harga kebutuhan pokok, ketersediaan barang, daya beli, kesempatan kerja, dan kualitas pendapatan merupakan persoalan yang langsung dirasakan masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi tentu penting. Namun, pertumbuhan yang tidak diikuti kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup akan terasa jauh dari kenyataan sehari-hari. Angka ekonomi dapat terlihat baik di atas kertas, tetapi keluarga tetap menghadapi kesulitan ketika pendapatan yang diterima tidak cukup untuk mengejar kenaikan biaya hidup.
Dunia usaha juga memiliki peran dalam menjaga kewajaran harga, meningkatkan produktivitas, serta memberikan upah dan kondisi kerja yang layak. Sementara itu, masyarakat tetap perlu mengambil keputusan keuangan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, upaya menghadapi tekanan ekonomi tidak hanya bertumpu pada satu pihak, melainkan menjadi tanggung jawab bersama sesuai peran masing-masing.
Pada akhirnya, persoalan ekonomi tidak cukup dijawab dengan meminta masyarakat mengurangi pengeluaran. Nasihat berhemat memang dapat membantu seseorang mengelola uang dengan lebih baik, tetapi tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan kenaikan harga, pendapatan yang stagnan, atau terbatasnya kesempatan kerja.
Masyarakat tidak meminta hidup tanpa batas atau bebas dari tanggung jawab keuangan. Mereka hanya berharap penghasilan yang diperoleh melalui kerja keras cukup untuk memenuhi kebutuhan secara wajar. Harapan yang sederhana ini seharusnya tidak menjadi sesuatu yang semakin sulit dicapai setiap kali kondisi ekonomi memburuk.
Karena itu, ketika kita kembali bertanya, “In This Economy?”, pertanyaannya tidak seharusnya berhenti pada bagaimana masyarakat mesti berhemat. Kita juga perlu bertanya bagaimana kebijakan ekonomi dapat melindungi daya beli, bagaimana harga dapat dijaga agar tetap terjangkau, dan bagaimana masyarakat memperoleh penghasilan yang layak.
Bijak mengelola uang memang penting. Namun, jangan sampai berhemat menjadi satu-satunya jawaban atas persoalan ekonomi yang lebih besar. Sebab, ketika harga terus naik dan penghasilan tak mampu mengejar, masyarakat tidak hanya membutuhkan nasihat untuk berhemat, tetapi juga kebijakan yang memungkinkan mereka hidup secara layak.



0 Komentar