Alhamdulillah, Berkat Koordinasi Para Pihak Darurat Air Bersih di Gili Meno Dapat Diatasi


BidikNews, NTB
- Setelah sepekan Ratusan warga Gili meno Kabupaten Lombok Utara Provinsi NTB mengalami krisis Air bersih pasca ijin kegiatan PT BAL dan GNE di cabut, maka Pemerintah Provinsi dan Pemkab KLU serta jajaran direksi PT GNE maupun PDAM KLU melakukan koordinasi. 

Koordinasi itu dilakukan guna mengatasi gejolak warga karena tidak adanya air bersih selama sepekan, sehingga Pemerintah KLU mengambil langkah untuk menyalurkan air bersih dengan menggunakan perahu boat. 

Krisisi Air bersih yang dialami warga Gili Meno tersebut setelah PT Berkat Air Laut (BAL) dan PT GNE sebagai pengelola menghentikan kegiatan usaha distribusi air bersih pasca ijinnya di cabut pemprov NTB. 

Dalam keterangannya, Bupati Kabupaten Lombok Utara (KLU), Djohan Sjamsu mengatakan suplai air bersih untuk warga masyarakat saat ini harus menggunakan perahu boat sebagai alternatif guna memenuhi kebutuhan sehaqri warga masyarakat.

Langkah ini juga kata Johan dilakukan sembari menunggu rampungnya pembangunan infrastruktur jaringan air dari PT Tiara Citra Nirwana (TCN) yang merupakan mitra PDAM Amerta Dayan Gunung KLU.


"Kami sudah menggelar pertemuan bersama Pemprov NTB supaya air di Gili Meno disuplai dulu dari Gili Air. Meskipun pakai perahu boat, yang penting ada dulu sembari kita usahakan akan menyambung pipa kecil dari Gili Air-Meno.” Ujar Bupati KLU itu.

“Ini tindakan darurat, tapi jangka panjangnya kita koordinasi dengan pusat," ujarnya kepada wartawan Rabu 7/12 di Mataram. 

"Jadi ini bukti kehadiran pemerintah KLU untuk membantu kebutuhan air bersih masyarakat Gili Meno yang saat ini sedang dalam kesulitan." ucap Djohan.

Menurut dia, PT TCN dengan PDAM, saat ini telah membangun fasilitas suplai air di Gili Trawangan. Fasilitas suplai air di Gili Trawangan milik PT TCN telah mulai beroperasi meskipun belum 100 persen, sehingga fasilitas yang sama juga nantinya akan dilakukan di Gili Meno oleh PT TCN.” Kata Johan dengan nada meyakinkan.

"Sebelumnya suplai air yang selama ini ditangani PT GNE yang bermitra dengan PT BAL sudah tidak beroperasi di dua gili tersebut, setelah ijinnya dicabut pemerintah” tegasnya.

Terkait permintaan masyarakat agar ada pengurangan tarif pemasangan meter air dan biaya kubikasi yang dibebankan PT TCN, Djohan mengaku akan melakukan komunikasi lebih lanjut. Karena itu, pihaknya memastikan, bahwa dalam satu bulan ke depan, suplai air ke Gili Meno ini akan selesai.

Terpisah Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB telah menggelar rapat bersama seluruh pihak terkait ihwal polemik suplai air bersih di Gili Trawangan dan Gili Meno.

Asisten Setda III NTB Wirawan Ahmad dalam keterangannya kepada wartawan pihaknya mengkaji sejumlah persoalan dalam polemik tersebut. Warga Gili Trawangan kata Wirawan, masih berlanjut proses pendaftaran hingga pemasangan sarana prasarana air bersih dari PT TCN yang merupakan mitra PDAM Amerta Dayan Gunung KLU.

"Hingga Saat ini warga Gili Trawangan yang telah memanfaatkan jasa Air Bersih dari PT TCN selaku mitra PDAM KLU untuk rumah tangga dan pelaku usaha telah  terpasang sekitar hampir mendekati 600 pelanggan. 

Meski sisanya masih ada yang belum mendaftar, karena persoalan biaya pemasangan dan tarif kubikasi yang dinilai terlalu tinggi, tetapi PT TCN akan selalu siap untuk melayani permintaan hingga warga Gili Trawangan terpenuhi kebutuhan air bersihnya.

Hery Wahyullah, pojok bawah bersama karyawan “Ana Warung dan Bungalow” milik investor asal Australia.

Wirawan kembali menegaskan, bahwa persoalan air di Gili Trawangan bukan persoalan ketersediaan air bersih, tetapi yang dihapai hanya persoalan tawar menawar ongkos pemasangan dan biaya (kubikasi) pemakaian air oleh warga. Belum adanya kesepahaman soal biaya dan harga ini akan tetap dicarikan solusi terbaik,” ujar Wirawan.

Untuk diketahui, biaya pemasangan meter air untuk pelanggan rumah tangga dari PT TCN sebesar Rp1,5 juta. Sementara untuk pelanggan bisnis tarifnya bervariasi, tergantung kelas usaha yang dimiliki. 

Pada bagian lain, Wirawan melihat kondisi yang lebih kritis terjadi di Gili Meno. Sebab sejak pemutusan sumber air oleh PT BAL, praktis masyarakat tidak terlayani. 

Hingga sepekan sejak penghentian suplai air, masyarakat ada yang masih menggunakan stok yang tersedia di penampungan pribadi (tandon). Bahkan ada sudah menggunakan air kolam renangnya.  

Sehingga pihaknya mengambil kesimpulan  dengan melihat langsung kondisi warga Gili Meno, yang sudah darurat Air bersih sehingga meminta PT BAL atau PT GNE untuk membuka suplai air kembali. 

Pihaknya kemudian mengambil sejumlah langkah. Yang pertama, Pemprov NTB telah berkoordinasi dengan Pemkab KLU untuk melakukan aksi nyata. 

Berdasarkan data saat PT BAL masih beroperasi, terdapat sekitar 292 pelanggan di Gili Meno. Baik pelanggan rumah tangga maupun bisnis. Dengan rincian 153 pelanggan bisnis, 142 pelanggan rumah tangga, dan 1 pelanggan sosial 1.

Tindakan kedua, lanjut Wirawan, pihaknya saat ini tengah dalam tahap koordinasi agar infrastruktur suplai air milik PT BAL yang ada di Gili Meno, sementara waktu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sampai dengan rampung nya PDAM menyambungkan pipa air dari Gili Air ke Meno.

Terkait rekomendasi kedua, pihaknya juga melibatkan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk mengkaji legalitas dari sisi hukum.

Prinsipnya kata Wirawan Ahmad, masyarakat Gili Meno harus segara ditolong. Bukan hanya masyarakat yang menderita, tetapi citra kita secara nasional terancam," tuturnya. 

Ditempat terpisah Informasi yang diperoleh media ini menyebutkan bahwa, langkah yang ditempuh pihak Pemprov NTB untuk meminta PT BAL dan PT GNE membuka kembali distribusi air yang sempat ditutup itu membuahkan hasil. Dan air bersih mengalir kembali ke warga Gili Meno sebagaimana biasanya. 

“ Jam 11 tadi malam (rabu, 7/12) air bersih dari PT BAL dan PT GNE sudah dimanfaatkan lagi oleh warga Gili Meno,” kata Hery karyawan salah satu bungalow di Gili Meno.


Dengan dibukanya distribusi air bersih oleh PT BAL sejumlah warga gili Meno mengaku senang dan sangat berterima kasih terutama kepada Bupati KLU, Johan Sjamsu serta gubernur NTB beserta seluruh pejabat yang terlibat dalam menangani krisis air di Gili Meno termasuk terimakasihnya kepada PT BAL dan PT GNE itu sendiri.” Ujar Hery Wahyullah.

“ Kami senang dan terharu dengan langkah cepat yang dilakukan pemerintah berkat koordinasi yang baik antara Pemprov NTB dan PT GNE serta Pemerintah KLU,” kata Hery Wahyullah sehingga kami bisa menikmati air bersih setelah seminggu lebih kami mengalami kesulitan air untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Hery Wahyullah salah satu karyawan di gili Meno. 

Artinya, kata Herry Wahyullah, hasil pertemuan antara warga Gili Meno serta pihak Pemprov dan PT GNE maupun PDAM padaSelasa, 6/12/22 kemarin telah membuahkan hasil yang positif. 

Trimakasih Bapak Bupati, trimakasih bapak Gubernur karena telah memberikan solusi yang terbaik untuk kami sebagai rakyatnya. Semoga amal kebaikan semua pihak mendapat rahmat dari Allah SWT,” ujar Herry.

Hery Wahyullah adalah karyawan salah satu pada “Ana Warung dan Bungalow” milik investor asal Australia.

Pengusaha lain di Gili Meno asal Prancis, Angky juga mengaku senang karena setelah sekian hari tak mendapatkan pasokan air bersih. Dengan adanya perhatian pemerintah maka kami tidak lagi mengalami kesulitan untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Angky dengan bahasa Indonesia yang fasih.

“ Kami semua senang, dan sampaikan terima kasih kami semua di Gili Meno kepada bapak Bupati dan Bapak Guberbur NTB, atas kepeduliannya pada rakyat dan para pelaku usaha di Gili Meno” ujar Angky sembari tersenyum.

Pewarta : Tim BidikNews


0 Komentar