‎Bau Sampah Dikota “Harum” Warga Tutup Lokasi TPS Lawata Mataram ‎

TPS LAWATA Mataram ditutup warga lingkunga Pemuda

BidikNews.net,Mataram
- Di Lingkungan Pemuda Lawata Kota Mataram, pagi hari kadang tidak perlu alarm, karena Bau sampah sudah cukup jadi penanda waktu. Wewangian busuk dari sampah yang menumpuk menyelinap, menabrak hidung sebelum mata benar-benar terbuka. 

‎Warga yang melintas sambil menutup hidung, seolah itu ritual wajib, cuci muka, gosok gigi, lalu kompromi dengan bau. Sampah itu menumpuk seperti monumen kecil dari kegagalan tata kelola.

‎Aneh memang, warga selalu diminta untuk memaklumi, tidak marah, tidak ribut, apalagi protes keras. Karena katanya, semua sedang diusahakan. Yang jelas, sampah tetap menumpuk sehingga diperlukan sikap  konsisten dari jadwal pengangkutan.

‎Sejak TPA Kebon Kongok membatasi masuknya sampah dari Kota Mataram, urusan sampah berubah jadi teka-teki publik. Sedangkan sampah rumah tangga tetap diproduksi tiap hari, tapi jalur pembuangannya tidak mulus.

Kondisi tumpukan sampah di TPS Lawata Mataram kian menggunung

Di level warga Lingkungan Pemuda Lawata Mataram dan sekitar, tidak membahas skema kebijakan atau peta darurat persampahan, tetapi yang mereka tahu cukup sederhana bahwa, sampah di TPS Lawata makin lama tinggalnya, baunya makin matang membuat warga disekitar dan yang melintas muntah-muntah.

‎Lucunya, kita sering menganggap sampah cuma urusan visual dan kebersihan. Seolah dampaknya berhenti di hidung dan mata. Padahal, ia juga punya efek samping yang berbahaya. Lingkungan yang kotor membuat Kota Mataram kehilangan statusnya sebagai Kota yang “HARUM”. 

‎Lalulintas jalan raya, sarana pendidikan dan pertokoan serta para pelaku UMKM  tak lagi nyaman dan berubah jadi pengingat harian di wilayah itu ada yang tidak beres.

‎Sampah yang dibiarkan berhari-hari menumbuhkan satu perasaan khas, warga yang melintas pun tidak berdaya. Warga mengeluh, lalu lelah. Mengeluh lagi, lalu makin lelah. Sampai akhirnya, berhenti berharap. Bukan karena tidak peduli, tapi karena terlalu sering dikecewakan. Di titik ini, kepasrahan bukan pilihan filosofis, tapi mekanisme bertahan hidup.

‎Riset kesehatan lingkungan sudah lama bilang bahwa kondisi fisik lingkungan termasuk soal kebersihan berkaitan dengan kesejahteraan emosional masyarakat artinya, sampah tidak cuma bikin kotor, tapi juga disebut sebagai barang penebar busuk.

‎Bau sampah tidak peduli warga sedang ingin tenang atau tidak. Bau sampah hadir konsisten, seperti pengingat bahwa beban psikologis tidak selalu datang dari masalah besar, tapi dari ketidakberesan kecil yang terus diulang.

‎Sejumlah kajian kesehatan lingkungan menegaskan bahwa kualitas lingkungan fisik dan dukungan sosial ikut membentuk kesehatan mental masyarakat. 

‎Kasus sampah di TPS Lingkungan Lawata Mataram  memperlihatkan satu ironi, masalahnya dianggap sepele, tapi dampaknya serius. Sampah dibiarkan, warga disuruh kuat. Lingkungan rusak, individu diminta beradaptasi. Padahal, tidak semua hal harus ditoleransi atas nama kesabaran.

‎Kalau pengelolaan sampah terus setengah hati, jangan heran kalau kejenuhan dan kelelahan emosional warga ikut menumpuk. Karena sebelum bicara soal kesehatan mental, mungkin ada satu langkah dasar yang perlu dibereskan lebih dulu, memastikan warga tidak harus menghirup bau busuk sepanjang hari.

‎Warga Lawata Mataram dan sekitar menyayangkan posisi TPS yang berada ditengah hiruk pikuk warga yang beraktifitas bergumul dengan aroma busuk sampah. 

Ketua RT LAWATA dan warga di lokasi TPS LAWATA MATARAM

Warga pun mendorong pemerintah Kota Mataram untuk segera memindahkan TPS Lawata ketempat yang lebih strategis demi menjaga nama besar Kota “HARUM” sebagai oibukota Provinsi NTB 

‎“Masa warga dijantung Kota HARUM harus disuguhi bau busuk sampah sepanjang hari, kami warga kota Mataram yang berdomisili di Lingkungan Pemuda Lawata merasa prihatin dengan kenyataan ini,” ujar Ketua RT Lawata Mataram, Dedy kepada media ini.

‎Dia meminta pemerintah turun tangan agar TPS di Lingkungan Lawata Mataram segera dipindahkan.

‎“Warga Lawata Mataram tidak minta apa-apa, hanya meminta TPS segera dipindahkan setelah puluhan tahun menebar bau yang tak sedap. Keinginan warga Lawata Mataram sangat sederhana yakni kehormatan Mataram sebagai kota “HARUM” tetap menjadi kebangggaan bersama.” Kata Dedy.

‎Pewarta: Dae Ompu

0 Komentar