Kisah Apriyani, Kusir Gerobak Pasir Asal Desa Tambe Bolo Bima, Ingin Jadi Polwan

Apriyani, dengan gerobak pasir dan kuda kesayanagannya
BidikNews.net,Bima - Pagi di Desa Tambe, Kecamatan Bolo, belum benar-benar terjaga ketika Nur Apriyani sudah menapaki jalan setapak menuju sungai. Usianya baru 13 tahun. Sebagian besar teman sebayanya mungkin masih terlelap, memeluk sisa mimpi. Tapi April — begitu ia biasa disapa—sudah memegang sekop, berdiri di antara dinginnya air dan derasnya arus.

Ia bukan ke sungai untuk mandi. Ia datang untuk bekerja.

Putri sulung pasangan Burhan dan Rini ini adalah siswi SMP Negeri 4 Bolo, Kabupaten Bima. Di pundaknya yang masih belia, bertumpu harapan dan kebutuhan keluarga. Setiap pagi buta, sebelum seragam sekolah dikenakan, April lebih dulu mengenakan keberanian.

Air sungai yang menggigit kulit dan beban pasir yang berat bukanlah hal yang ia keluhkan. Tangannya yang kecil sudah terbiasa mengayuh sekop, memindahkan pasir dari dasar sungai ke gerobak yang ditarik kuda. Dari sana, pasir-pasir itu akan dijual kepada siapa pun yang membutuhkan.

“Kalau jarum jam sudah menunjuk pukul 06.30, dia pulang, bersiap sekolah,” tutur Burhan Ismail, ayahnya, dengan suara yang menahan haru.

Begitulah hari-harinya berulang: Sungai, pasir, sekolah. Sekolah, sungai, rumah.

Sejatinya, setiap anak berhak menikmati masa kecilnya—belajar, bermain, tertawa tanpa beban. Tapi kemerdekaan itu belum sepenuhnya menjadi milik April.

Sejak duduk di bangku SD kelas 4, ia sudah mulai membantu ayahnya. Sekop kecil di tangan, langkah kecil di tepi sungai. Kini, empat tahun berlalu, dan kebiasaan itu bukan lagi sekadar membantu—ia telah menjadi bagian dari denyut hidupnya.

Bersama kuda dan gerobaknya, April tumbuh. Dari hasil keringatnya, sedikit demi sedikit, keluarga itu mampu memiliki dua gerobak dan dua ekor kuda jantan. Satu untuk ayah, satu untuk April.

“Alhamdulillah, berkat bantuan April, sekarang kami punya dua gerobak,” ucap Burhan, dengan mata yang tak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa bangga.

Namun hidup tak selalu memberi jeda untuk bernapas. Beberapa bulan lalu, Burhan mengalami patah kaki. Sejak itu, peran April berubah. Ia bukan lagi sekadar anak sulung. Ia menjadi tulang punggung.


Di usia ketika anak lain sibuk memilih permainan, April memilih bertahan. Sepulang sekolah, ia masih sempat bercengkrama dengan tiga adiknya yang lebih kecil. Menyuapi mereka, tertawa sebentar, lalu kembali menuju sungai. Kuda dan gerobak menjadi sahabat setia yang menyaksikan perjalanan panjangnya.

Tak ada rasa malu di wajahnya ketika ditanya tentang pekerjaannya. Tidak ada minder. Tidak ada keluhan. “Yang penting halal,” jawabnya polos. “Bisa bantu orang tua dan untuk kebutuhan sehari-hari.”

Dari hasil satu gerobak pasir yang dihargai sekitar 50 hingga 60 ribu rupiah, dalam sehari ia kadang bisa membawa pulang hingga 300 ribu rupiah. Uang itu bukan untuk jajan semata. Ia tahu benar ke mana harus mengalirkannya—untuk dapur, untuk seragam, untuk tas, untuk sepatu. Setiap Rupiah adalah hasil peluhnya sendiri.

Di balik tubuh kecil yang setiap hari berhadapan dengan derasnya sungai, tersimpan mimpi besar yang tak kalah deras mengalir di hatinya. April ingin menjadi polisi wanita. Ia ingin suatu hari mengenakan seragam cokelat, berdiri tegak, menjaga dan melindungi. Mungkin karena sejak kecil ia belajar bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab, tentang berdiri saat orang lain tak mampu lagi berdiri.

Di antara deru sungai dan ringkik kuda, April sedang menenun masa depannya sendiri. Kisahnya bukan sekadar cerita tentang seorang siswi yang menjadi kusir gerobak pasir. Ia adalah potret tentang ketabahan, tentang cinta seorang anak pada keluarganya, tentang mimpi yang tetap menyala meski angin kehidupan berhembus kencang.

“Di Desa Tambe, setiap butir pasir yang ia angkut bukan hanya bernilai Rupiah. Ia memanggul harapan. Ia menumpuk tekad. Ia mengukir masa depan.”

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika ia benar-benar berdiri sebagai seorang Polwan, orang-orang akan mengingat bahwa seragam itu tidak hanya dijahit oleh kain—tetapi juga oleh air sungai, sekop kecil, dan hati yang tak pernah menyerah.

Pewarta: TIM


0 Komentar