Menyoal Jejak Maulid Nabi SAW, Oleh : Prof. DR. H. Maimun Jubair, M. Pd ( Guru Besar UIN Mataram)


Oleh : Prof. DR. H. Maimun Jubair, M. Pd ( Guru Besar UIN Mataram)

BULAN kelahiran Nabi saw yang kita peringati dengan istilah maulid kini akan berakhir. Andai kita ibaratkan bahwa perayaan maulid ini sebagai akhir dari aktivitas Rasul membersamai dalam keseharian kita, kira-kira adakah yang berbekas setelah satu bulan mendengar, menyimak, dan mencamkan tentang perjuangan dan sejarah kehidupan beliau? 

Dari sekian banyak materi yang kita terima tentang perjalanan hidup dan suri tauladan Nabi saw yang diuraikan sepanjang perayaan maulid, kira-kira apa saja yang berbekas dalam sanubari kita dari perilaku, sikap, dan kepribadian Nabi saw?

Akhlaknya kah? Hampir di setiap ruang dan waktu dalam perayaan maulid, kita mendengar uraian dan kisah yang menarik dari akhlak dan perilaku Nabi yang begitu agung dan berbudi, kita tak  mendengar ada cacat sedikit pun dari semua perilaku beliau, bahkan saking agungnya budi pekerti yang dipraktikkan dalam kehidupannya, orang-orang tidak mampu mendefinisikan keindahan budi pekerti beliau, sehingga diksi yang dirasa pantas, baik di hati, di mata, maupun di pendengaran adalah khulukuhu al-Qur’an, akhlak beliau adalah al-Qur’an. Jika ini yang berbekas dalam diri kita usai memperingati maulid, sungguh diri ini sangat beruntung.

Atau ibadahnya kah? Pada beberapa momen peringatan maulid yang kita dengar dan ikuti, telah diuraikan betapa Nabi saw dalam beribadah begitu serius, sampai-sampai ibadah salat yang dikerjakan menjadi wadah beristirahat dari kepenatan dan keletihannya berdakwah, sebagaimana beliau sampaikan, “arihni bisshshalah”. Aku beristirahat dengan salat yang aku kerjakan. Belum lagi salat malam yang beliau kerjakan dalam durasi waktu begitu panjang dan cukup lama, sehingga dikabarkan bahwa kaki beliau sampai bengkak. Jika ini yang berbekas dalam diri kita usai memperingati maulid, pantaslah kita untuk berbahagia. 

Atau mungkin kesederhanaannya kah? Pada tiap-tiap event maulid, di samping keteladan Nabi dalam berakhlak, juga sering diuraikan bahwa Nabi adalah seorang yang hidup sederhana, padahal beliau tidak miskin, terbukti saat melamar Khadijah, beliau memberikan mahar 20 ekor unta, kalau dihargai dengan kurs saat ini, lamaran itu bernilai 600 juta. Beliau memang tidak bermegah-megah dalam menjalani kehidupan, gaya hidup beliau tidak glamour sekalipun beliau orang yang berkecukupan, artinya tidak tergiur sedikit pun dengan kemegahan dunia. Jika kesan ini yang berbekas usai memperingati maulid, maka sungguh kita sangatlah beruntung. 

Atau barang kali kejujurannya kah? Pada saat diuraikan ketauladanan Nabi saw saat perayaan maulid, yang paling menarik adalah kejujuran beliau, sehingga orang-orang yang berada di sekitarannya, baik muslim ataupun non muslim saat itu menggelarinya sebagai al amin, orang yang sangat diperacaya karena kejujurannya. Jika ini yang berbekas dalam jiwa kita usai memperingati maulid, maka sungguh kita sangatlah beruntung.

Katakan yang benar, walaupun berakibat pahit. Jika ini yang berbekas usai merayakan maulid, maka kita sungguh sangatlah beruntung. 

Atau jangan-jangan disiplinnya kah? Di semua mimbar yang membahas tentang kepribadian dan sikap beliau, kedisiplinan Rasul saw menjadi trending topic yang dibicarakan oleh para kiai, di mana dijelaskan bahwa Nabi saw memiliki prinsip hidup yang kuat, “La tu’akhkhir amalal yaumi ilal ghadi”. Jangan kamu tunda pekerjaan hari ini hingga esok. Begitu pula dalam hal ibadah, beliau sebagai pelopor dalam salat di awal waktu, “ashshalatu afdalu fi awwalil waqtiha”. Jika ini yang berbekas usai memperingati maulid, maka kita sungguh sangat beruntung.

Siapa tahu satunya kata dengan perbuatannya kah? Bila membahas tentang kemuliaan Rasul saw, beliau selalu diindikasikan sebagai satu-satunya yang memiliki kepribadian dan karakter satunya kata dengan perbuatan, beliau tidak mengatakan apa yang tidak diketahui, tidak mengatakan apa yang tidak dilakukan, dan tidak mengatakan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan. Beliau memegang prinsip, “qulil haq walau kana murron”. Katakan yang benar, walaupun berakibat pahit. Jika ini yang berbekas usai merayakan maulid, maka kita sungguh sangatlah beruntung.

Atau adab makan dan minumnya kah? Pada mimbar-mimbar masjid di momen maulid sering dibahas bagaimana Nabi saw makan dan minum, dijelaskan bahwa beliau tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, beliau minum dengan tangan kanan dan tidak minum sambil berdiri, bahkan dijelaskan pula beliau mengambil makanan yang dekat dengan dirinya dan memasukkan makanan ke mulutnya dengan tiga jari; ibu jari, telunjuk, dan jari tengah. Jika ini yang berbekas usai merayakan maulid, maka kita sungguh sangat beruntung.


Atau cara beliau berumah tangga kah? Kita banyak mendengar pada event maulid bahwa Nabi saw sangat baik dalam berumah tangga, tidak pernah menyakiti istri dan anaknya, tidak pernah protes tentang makanan dan minuman yang disajikan kepadanya, hingga suatu waktu di mana kebiasaan Nabi saw menyisakan kopi untuk Aisyah, namun pada hari itu Nabi habiskan kopinya, dan tak menyisakannya untuk Aisyah, sang istri penasaran, sambil merasa kecewa karena tidak disisakan kopi oleh Nabi, akhirnya diam-diam Aisyah meminum tetes terakhir dari kopi sebelum gelasnya dicuci, ternyata kopi itu rasanya asin, rupanya Aisyah bukan memberi gula pada kopi yang diraciknya, tetapi garam. Begitulah Nabi tidak ingin melihat istrinya merasa bersalah, sehingga hari itu tidak disisakan kopinya untuk Aisyah. Jika ini yang berbekas usai merayakan maulid, maka kita sungguh sangat beruntung. 

Atau mungkinkah saat perayaan maulid Nabi saw, kesan yang berbekas bahwa beliau sebagai sosok manusia langit yang keberadaannya lebih diposisikan sebagai wakil Tuhan ketimbang sebagai sosok yang dapat dicontoh. Sehingga semua yang kita dengar tentang kemuliaan Nabi dan tentang perikehidupan beliau tidak ada yang berbekas sama sekali. Jika ini yang terjadi usai merayakan maulid, maka sungguh kita yang merayakan maulidnya menjadi manusia yang paling merugi.

Kini saatnya kita bertanya kepada diri masing-masing, selama satu bulan hiruk-pikuk perayaan maulid, mendengar kisah kenabian dan perjuangan Muhammad saw, menyimak kemuliaan budi pekertinya, dan camkan bagaimana ibadahnya, dari semua yang kita dengar dan simak, adakah yang melekat dan berbekas dalam sanubari kita untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bukti cinta kita kepada beliau? 

Kata Nabi, “man ahya sunnaty faqad ahabbany”. Barangsiapa menjalankan sunah-sunah yang aku jalankan, maka itu tandanya dia mencintaiku.

Pewarta : Tim BidikNews


0 Komentar