Hikmah Jum`at : Kekuatan Cinta, Anugerah Tak Ternilai

 


Oleh : Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd

CINTA sebagai anugerah Tuhan yang disematkan pada manusia berasal dari sisi-Nya sebagai satu-satunya sumber kasih sayang. Keberadaan cinta dapat menegaskan betapa kemurahan Tuhan itu sungguh luar biasa, Dia memberikan salah satu sifat-Nya Yang Maha Kasih dan Maha Sayang agar manusia senantiasa menebar pandangan dan citra positif.

Keberadaan cinta sebagai kekuatan yang melahirkan harmoni dapat menjadi wasilah untuk memahami, menghormati, dan memberi dukungan kepada yang dicintai. Ketika kita mencintai apa pun dan siapa pun, ada dorongan alamiah untuk menjaga, melindungi, dan merawatnya.

Menjaga sesuatu yang kita cintai maksudnya memastikan kebahagiaan dan kesejahteraan selalu membersamainya, menjauhkan hal-hal yang bisa mengganggu kedamaiannya, dan bahkan menciptakan lingkungan yang menjadikannya nyaman. 

Melindungi, maksudnya membentengi tidak hanya sekadar fisik, tetapi juga psikisnya, dan siap berdiri di garis depan untuk melindungi hati dan jiwanya, menjauhkannya dari rasa sakit, kecewa, atau bahkan dari tekanan yang mungkin memengaruhi asanya. Sedangkan merawat, artinya ketulusan dalam memberikan waktu, dukungan, perhatian, kepedulian, dan energi untuk menguatkan rasa yang bersemayam di dalam dirinya.


Cinta sebagai anugerah indah dari Tuhan, bukan hanya sebatas perasaan, tapi juga aksi nyata yang menyentuh hati, pikiran, perasaan dan elemen kehidupan dari siapa pun yang dicintai. Berikut percikan dari adanya anugerah cinta dalam wujud aksi nyata.

Kita mulai dari mencintai diri sendiri, kekuatan cinta akan melibatkan pemahaman, penerimaan, dan kasih sayang terhadap diri sendiri dalam wujud merawat diri  dan berusaha untuk menemukan aktivitas yang memberikan kebahagiaan dan kedamaian diri. 

Melibatkan penerimaan terhadap kelemahan dan ketidaksempurnaan diri—ini bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang merangkul diri sendiri dalam keadaan apa pun, termasuk memberikan diri izin untuk membuat kesalahan, untuk kemudian belajar dari kesalahan diri sebagai bagian penting dari mencintai diri sendiri.

Mencintai keluarga, bahwa dengan anugerah cinta kita akan memiliki pemandangan indah di depan mata setiap hari, keluarga sebagai tempat di mana kita dapat menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi atau ditolak. Merawat dengan penuh perhatian, mendengarkan dengan penuh pengertian, dan memberikan dukungan saat dibutuhkan. Ketika kita mencintai keluarga, kita sedang mengumpulkan kekuatan saat menghadapi kesulitan dan kelemahan, membangun kenangan saat kita melihat perjalanan hidup  ke belakang, momen-momen indah bersama keluarga menjadi harta berharga yang tidak dapat tergantikan. Jadi mencintai keluarga adalah komitmen tanpa syarat untuk saling mendukung, merawat, dan tumbuh bersama.

Cinta kepada sesama, bahwa kekuatan cinta dapat melahirkan perasaan yang mendalam dan kompleks yang melibatkan empati, saling pengertian, peduli, dan keberterimaan. 

Empati, merupakan kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain, sehingga kita dapat membangun ikatan emosional yang kuat. Pengertian, suatu kemampuan untuk memahami latar belakang, pengalaman, atau perasaan orang lain, sehingga kita dapat memberikan dukungan dan pengahrgaan. 

Kepedulian merupakan kemampuan untuk memahami kebutuhan orang lain, sehingga dapat membantu atau memberikan dukungan moral. Keberterimaan merupakan kemampuan untuk menerima keunikan setiap individu, sehingga kita dapat menghargai perbedaan yang menjadi bagian integral dari cinta kepada sesama.


Selanjutnya cinta kepada Sang Pencipta, bahwa anugerah cinta akan tercermin dalam bentuk kepatuhan, doa, ibadah, dan pengakuan atas kebesaran-Nya, yang mencerminkan nilai-nilai spiritualitas. 

Wujud cinta kepada pencipta melampaui hubungan manusiawi dan mencakup dimensi transendental yang melekat pada nilai spiritual, moral, dan sosial. Ciri adanya rasa cinta kepada Sang Pencipta, biasanya nampak dari sikap dan pendirian hidup yang dijalani. Seseorang dapat mengekspresikan cintanya kepada Sang Pencipta dalam ketaatan beribadah merupakan bentuk pengabdian dan rasa syukur atas segala karunia yang diberikan. 

Berusaha menjadi individu yang lebih baik sebagai bentuk penghargaan terhadap anugerah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Sabar dan syukur sebagai bentuk pengakuan diri bahwa segala yang terjadi adalah bagian dari rencana-Nya.

Intinya, melalui kekuatan cinta, seseorang dapat menjalin hubungan yang lebih dalam dan bermakna dengan Sang Pencipta atas dasar persepsi yang positif.

Dari uraian wujud rasa cinta yang ditegaskan dalam bentuk aksi-aksi positif di atas, sadarlah kita bahwa cinta sebagai anugerah indah dari Tuhan, dapat memengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam berbagai bentuk warna yang indah. 

Ketika seseorang merasakan cinta, akan tercipta perasaan positif, empati, dan keterhubungan yang mendalam, yang melahirkan rasa dan asa berupa kasih sayang dan kepedulian. Orang yang merasakan cinta akan cenderung menunjukkan perilaku dan sikap positif terhadap yang dicintai. Cinta sering kali menciptakan ikatan yang kuat berdasarkan kepercayaan, keterbukaan dan kejujuran. Rasa cinta dapat mendorong orang untuk memberikan dukungan, waktu, dan bahkan melakukan pengorbanan untuk kebahagiaan yang dicintai.


Nilai-nilai yang lahir dari keagungan cinta dapat kita sarikan dari syair Qais dalam kisah cinta Laila Majnun, “Cinta tidak pernah membelenggu, karena cinta adalah pembebas, yang akan melepaskan simpul-simpul keberadaan, cinta adalah pembebas dari segala belenggu, walau dalam cinta, setiap cawan adalah kesedihan, namun jiwa pecinta akan selalu memberi kehidupan, banyak racun yang harus kita telan untuk menambah nikmatnya cinta, atas nama cinta, racun yang pahit pun terasa manisnya, bertahanlah, karena dunia diciptakan untuk kaum pencinta, dunia ada karena ada cinta.”

Sebagai catatan akhir, rawatlah cinta yang ada di dalam diri masing-masing, karena dengan adanya cinta akan selalu memberi pandangan indah dan positif kepada siapa saja dan apa saja. Orang yang memiliki cinta di dalam hatinya, dia akan selalu dalam kedamaian, karena dengan kekuatan cinta, seseorang tidak akan pernah menemukan cela pada apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan.

Penulis : Adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri – UIN Mataram


0 Komentar