Berbuat Baik Karena Dorongan Rasa Kasih, Tidak Berharap Balasan Terima Kasih


Rasulullah SAW bersabda, “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta, namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang merasa cukup.” (HR. Bukhari)

Manusia diciptakan memiliki sifat atau dinamai akhlak. Akhlak itu akan membawa suatu kebaikan. Dalam diri manusia memiliki tingkatan derajat akhlaknya dalam berbuat suatu kebaikan.

Derajat pertama berbuat kebaikan sebagai balasan terhadap kebaikan. Derajat kedua ialah berbuat baik yang dilakukan sendiri tanpa adanya hak pada seseorang, ia memberikan manfaat kepada orang lain.

Derajat ketiga yang diterangkan oleh Allah SWT ialah hendaknya jangan sampai ada anggapan telah melakukan kebaikan dan tidak mengharapkan balasan terima kasih. Melainkan hendaknya kebaikan itu dilakukan atas dorongan rasa kasih.

Kadang kala, disebabkan oleh kebaikannya, seseorang telah meletakkan beban yang terpikulkan pada orang lain dan mengungkit-ngungkit kebaikan itu kepadanya. Untuk memperingatkan orang-orang yang berbuat kebaikan, Allah SWT  berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu menjadikan sedekah-sedekahmu sia-sia dengan menyebut-nyebut jasa kebaikan serta dengan menyakitinya.” (QS. Al-Baqarah: 265)

Jadi, jika di dalam hati tidak ada rasa tulus serta ikhlas, maka sedekah itu tidak lagi merupakan sedekah, melainkan suatu perbuatan riya. Akan tetapi, banyak juga orang yang melakukan kebaikan tanpa merasa dirinya telah melakukan kebaikan bahkan di dalam segala keterbatasannya. 

Ia tak merasa dengan bersedekah atau memberikan kebaikan ia akan kesulitan bahkan kekurangan. Sehingga dengan sendirinya kebaikan lain pun datang menghampirinya yang dengan itu ia begitu bersyukur dan merasa itu merupakan kebaikan dan nikmat dari Allah SWT.

Seperti halnya yang dikisahkan seorang pemuda yang pulang dari masjid Garut setelah sholat berjamaah subuh. Sepintas tidak ada yang istimewa bahkan terkesan biasa saja tempat yang dikunjungi pemuda tersebut, untuk sekedar mencari pengganjal perutnya yang lapar.

Hari masih agak gelap, matahari masih sangat malu-malu untuk menampakan cahayanya. Namun di pinggir jalan terlihat tukang gorengan yang sedang bersiap berjualan. Seketika pemuda tersebut menghentikan motornya tepat di pinggir gerobak penjual gorengan.

Tiga lontong dan lima gorengan yang pemuda pesan. Suasana masih sepi pembeli, dengan duduk santai melahap gorengan yang dipesannya sambil memeriksa pesan WhatsApp yang masuk. Sementara sepasang suami istri penjual sibuk menggoreng, datanglah seorang bapak tua yang berjalan kaki mendorong roda. Beliau adalah pedagang bubur kacang ijo yang sedang berkeliling mencari rezeki.

Tiba-tiba disodorkannya uang senilai Rp2.000 kepada penjual gorengan. Bapak penjual gorengan sempat menoleh kepada bapak tua penjual bubur kacang ijo, lalu diterimanya uang tersebut dengan senyum sambil mengantongi beberapa lontong dan gorengan. Bapak penjual gorengan menyodorkan kantong kresek ke penjual bubur kacang ijo. Bapak tua menerimanya, langsung membuka dan tersenyum lebar sembari melahapnya.

Akhirnya sang pemuda pun  segera membayar dan melanjutkan perjalanannya yang memberikan satu pelajaran tentang keikhlasan. Pemuda pun meninggalkan tempat yang masih belum datang pembeli selain dirinya.

Setelah hampir sekitar 1 jam, pemuda tersebut kembali melewati tempat pedagang gorengan, MasyaAllah! Pemuda merasa takjub akan penzahiran dari kasih sayang Sang Maha Pemberi Rezeki. Ia melihat tempat gerobak gorengan yang sedang banyak pembeli dan dagangannya yang sudah habis tak tersisa. 

Pemuda tersebut tersadarkan bahwa  pada hakikatnya kebaikan itu tak melulu datang dari orang yang kita berikan kebaikan, justru Allah SWT yang akan membalas kebaikan melalui keikhlasan si pemberi kebaikan dan doa bahagia dari si penerima kebaikan itu sendiri.

Abu Daud berpesan, “Jadilah kamu seorang yang merasa berkecukupan, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling bersyukur.” (HR. Abu Daud)

Dari perasaan cukup itulah melahirkan rasa syukur. Karena pada hakikatnya kekayaan bukanlah diukur dari banyaknya harta yang ia punya, melainkan dari hati yang senantiasa merasa cukup dengan apa yang ia miliki.

Rasulullah SAW bersabda, “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta, namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6466 dan Muslim no 1051)

Dari kisah di atas betapa kita dapat mengambil pelajaran tentang keikhlasan. Tanpa merasa ragu bahkan tanpa merasa takut bahwa rezekinya hari ini akan berkurang, penjual gorengan rela memberikan jualannya padahal yang ia dapatkan saat itu belum sampai dengan apa yang ia berikan kepada bapak tua penjual bubur. 

Namun dengan senyum ikhlasnya seakan menjadi keyakinan yang kuat baginya. Serta senyum dari bapak tua yang menggambarkan kebahagiaan seakan menjadi doa yang terlontar dari rasa syukurnya. Lihatlah bagaimana dengan mudahnya Allah SWT mendatangkan kebaikan untuknya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba yang memiliki sifat selalu merasa cukup dengan nikmat harta yang Allah berikan, serta mampu menjadikan amal kebaikan. Aamiin. (sumber: Islam Rahmah.com)

Tim BidikNews.net

0 Komentar