Layar Pesta Demokrasi Telah Tergulung, Oleh: Prof. DR. H. Maimun Zubair, M.Pd


PESTA
demokrasi sudah usai, layar pesta sudah tergulung, tirai yang menutupi capaian kontestan telah terbuka, dan segala yang menjadi angan dan mimpi telah berubah menjadi angka. Angka telah menjadi lambang bunyi atas kualitas diri di mata orang lain, seberapa banyak teman kita, seberapa baik kita, seberapa besar kecondongan dan perhatian terhadap kita, dan seberapa peduli kita, ditandai oleh volume lambang bunyi. Semakin besar angka yang memihak pada kita, maka semakin tinggi kualitas diri—itulah diri kita dari persepsi dan pandangan orang lain. Dalam hadis qudsi Tuhan berfirman; “Antum syuhada allah fil ardhi”. Terjemahannya : Kalian adalah saksi-saksi Tuhan di muka bumi ini .

Jangan bertanya lagi kepada siapa pun tentang siapa yang dia pilih, siapa pun yang dia pilih, tatkala hasil pilihan telah menampakkan perubahan wujud menjadi angka pada masing-masing kontestan, maka iradah Tuhan telah berlaku kepadanya. Jangan pernah menafikan Tuhan tatkala mendulang suara besar maupun mendulang suara kecil.

Apa yang kita perjuangkan dengan maksimal tanpa kenal lelah, biasanya Tuhan berikan dengan muatan dua opsi, sebagai rahmat yang membawa berkah bagi diri dan sekitarnya atau sebagai ujian atas keinginan yang memuncak dari seorang hamba.

Bertanya dan menyelidiki pilihan-pilihan yang telah menjadi keputusan, bukanlah sikap yang bijak, karena semua pilihan itu memiliki arti dan nilai di ujung perhitungan suara. Bagi yang pilihannya berada pada urutan kecil berarti telah memberi peluang menang bagi yang mendapatkan suara besar, demikian pula yang pilihannya berada pada urutan suara yang besar atau banyak, telah memberi harga dan nilai bagi suara yang kecil. Tak akan ada harga suara besar jika tidak ada suara yang kecil, sebaliknya tidak akan ada harga suara kecil jika tidak ada suara besar.

Pada kenyataan yang didulang oleh seorang hamba dalam kontestasi pemilu, entah menang atau pun kalah, telah Tuhan sesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh hamba-Nya, telah Tuhan takar dengan kesanggupan yang dimiliki hamba-Nya, telah Tuhan pantaskan dengan kondisi zaman, dan telah Tuhan sesuaikan dengan upaya yang dilakukan hamba-Nya.

Nilai suatu ikhtiar di sisi Tuhan dilihat dari seberapa maksimal seorang hamba memperjuangkannya, dan seberapa istikamah melakukan ikhtiar demi ikhtiar. Biasanya hamba yang tidak mengenal lelah dan tidak pula mengenal putus asa, Tuhan berikan apa yang diperjuangkannya. Dalam diksi klasik dari seorang bijak menyatakan bahwa upaya yang maksimal dan istikamah itu semakna dengan optimis bahwa ada cahaya di ujung terowongan.

Apa yang kita perjuangkan dengan maksimal tanpa kenal lelah, biasanya Tuhan berikan dengan muatan dua opsi, sebagai rahmat yang membawa berkah bagi diri dan sekitarnya atau sebagai ujian atas keinginan yang memuncak dari seorang hamba. Tuhan menguji seberapa amanahnya kita dalam mensyukuri pemberian Tuhan atas keinginan yang diperjuangkan.

Kini waktunya untuk bertafakkur sambil merenungi diri dan menelisik ikhtiar secara arif, bagi yang mendulang suara kecil hendaknya mengingat kembali kira-kira di sisi yang mana dari ikhtiarnya yang belum maksimal atau apakah dalam proses ikhtiar itu belum sepenuhnya menyertakan Tuhan (terlalu pede), atau mungkin pada saat berikhtiar masih memposisikan Tuhan sebagai kekuatan dan kekuasaan yang meragukan (baca: tidak terlalu yakin dengan interfensi Tuhan), atau bisa saja dalam melakukan ikhtiar terlalu mengedepankan ikhtiar langit dengan berpasrah pada Tuhan, sehingga ikhtiar bumi terabaikan.


Sementara bagi yang mendulang suara  besar juga harus bertafakkur sambil merenung betapa Tuhan telah menilai ikhtiarnya sebagai ikhtiar maksimal dibanding yang lain, lalu mengingat-ingat apa saja yang menjadi poin-poin janji yang harus dibayar, karena bisa jadi poin-poin dari janji itu bagian dari yang Tuhan rencanakan untuk hamba-Nya, sehingga Tuhan membijaksanai untuk memberikannya unggul agar apa yang ada dalam rencana Tuhan tersalur melalui pemenuhan janji. Jangan sampai setelah mencapai kemenangan, kemudian menjadi lupa bahwa dirinya pernah berdoa, mengadu, dan memasrahkan perjuangannya kepada Tuhan.

Dalam kontestasi pemilu, biasanya keterlibatan diri tidak saja secara pisik, tetapi juga secara psikologis dan bahkan religius, maka kebahagiaan maupun kekecewaan akan muncul secara bersamaan pada orang yang berbeda (pada yang menang dan yang kalah), dan dalam kondisi seperti itulah pentingnya untuk kembali lagi kepada Tuhan sebagai penentu iradah, karena hanya Dia yang bisa menghibur di kala susah dan menjaga hati di kala senang. 

Dalam firman-Nya yang cukup indah Tuhan katakan kepada hamba-Nya yang berada pada posisi bahagia atau sedih, “Likai lā ta`sau ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥụ bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhụr”. terjemahannya: (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. (QS. al-Hadid ayat 23).

Sebagai akhir dari kalimat hikmah ini, penting bagi kita untuk mengingatkan diri, jika ingin kualitas diri berkelanjutan, maka bagi yang mendulang suara besar tetaplah bersandar kepada Tuhan sebaik-baik tempat bersandar, agar kualitas diri tetap terjaga, sementara bagi yang mendulang suara kecil mulailah semenjak hari ini untuk mencetak poin-poin yang menunjang nilai kualitas diri, baik yang berkaitan dengan hubungan vertikal maupun horizontal. Kita patut untuk merujuk pada kalimat hikmah dari Ali bin Abi Thalib, “Balas dendam terbaik adalah membuat dirimu lebih baik”.

Penulis : Adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, NTB


0 Komentar