HAJJI: PERTEMUAN DUA CINTA, Oleh Prof. DR. H. Maimun Zubair, M.Pd


Dhuyufurrahman
merupakan salah satu gelar yang tersemat untuk para jamaah hajji yang diundang sebagai tamu oleh kekasih yang dirindukan—Tuhan yang maha mengasihi, untuk bersua di tempat yang mengasyikkan yang bernama al haramain, suatu tempat yang menjamin suasana paling romantis dalam perjumpaan antara Tuhan dan hamba yang dikasihi.

PROSESI ibadah hajji yang dilakukan para dhuyufurrahman sejak kedatangan di tanah suci, menjadi pertemuan cinta antara hamba yang merindui dengan Tuhan yang dirindukan, dan dapat dijadikan sebagai momentum kemesraan antara Tuhan dengan hamba-Nya, terutama dalam sesi-sesi ibadah di tempat-tempat yang dipilih yang memberikan suasana dan nuansa yang sangat mesra. Bagi pencinta yang dimabuk rindu akan Tuhannya, tidak akan melewatkan kesempatan emas itu untuk berkomunikasi, berbisik, berkisah lirih, mengadu, dan bermanja-manja dengan Tuhan Yang Maha Kasih.

Pertemuan cinta bisa memicu berbagai macam perasaan, membuat hati berdebar-debar, dan kebahagiaan yang memenuhi rongga-rongga dan pori-pori tubuh dalam momen yang penuh sukacita, di mana para dhuyufurrahman merasa begitu hidup dalam aktivitas cinta kepada Tuhannya. Ada semacam kekuatan dalam gairah cinta seorang hamba yang bisa membuat emosi menjadi energi seperti energi quantum, yang tidak saja dirasakan secara pribadi, akan tetapi merambat merasuk ke seluruh jamaah hajji. Energi dari kekuatan cinta itu menyala, sehingga setiap sentuhan, setiap pandangan, dan setiap kata, semuanya bisa menyalakan aura kebahagiaan yang tiada tara.

Tidak sedikit dari seorang hamba yang hadir di tanah suci mengalami proses menyublim dalam asa dan emosinya, larut dalam nuansa haru membayangkan kehadiran Tuhan yang terasa sangat dekat sedekat urat nadi. Tangisan dan air mata bukan menjadi hal aktivitas yang aneh didalam perjalanan dan pertemuan paling romantis itu, karena cucurannya tumpah secara otomatis tanpa sebab yang dapat dirasionalkan. 

wuqud di Arafah

Itulah mungkin yang dikenal dengan Tangisan bahagia, suatu ungkapan perasaan yang tergambarkan dalam wujud air mata yang mengalir, akibat dari perasaan bahagia yang mendalam dan kuat. Tangisan itu menjadi suatu bentuk ekspresi yang sangat manusiawi dan alami, yang menunjukkan bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang senyuman atau tawa, tetapi juga bisa diungkapkan melalui air mata. Tangisan bahagia menjadi bukti betapa dalam dan kuatnya perasaan bahagia itu, yang sudah membuncah cukup lama, yang melebihi kapasitas diri, sehingga berubah wujud menjadi air mata.

Itulah tangisan cinta yang mendalam yang menggambarkan situasi diri penuh haru ketika mencapai sesuatu yang sangat penting dan berharga dalam hidup ini, seperti rasa yang menimpa dhuyufurrahman yang merasa teramat dekat antara dia dengan Tuhannya. Dan tangisan itu meleleh tanpa sebab dan alasan, yang pastinya bersumber dari bunga salju kerinduan yang sudah mengkristal cukup lama.     

Pertemuan cinta memang penuh warna, simbol, dan intensitas emosi yang muncul secara otomatis di tengah pergolakan aksi pisik dari rangkaian perjumpaan munajat dengan Tuhan. Setiap orang mungkin merasakan campuran yang berbeda dari perasaan, pikiran, dan hatinya sesuai dengan pengalaman dan situasi diri masing-masing. Bersimpuh dalam rasa cinta menjadi sebuah ungkapan yang menggambarkan perasaan teramat bahagia yang begitu mendalam dan kuat sehingga seseorang merasa seperti ingin menyerahkan segalanya untuk yang dicintainya. Ini adalah bentuk penghormatan dan pengabdian yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Mencintai hamba-Nya atas anugerah dan kasih sayang-Nya.

Ketika seseorang bersimpuh dalam rasa cinta, mereka mungkin merasa terhubung secara emosional, siap untuk memberikan segalanya, termasuk hati, pikiran, jiwa, dan raga kepada Tuhan Yang Maha Kasih, bahkan bersedia mengorbankan apapun demi menebus kerinduannya.


Ada getaran kebahagiaan yang membelai jiwa saat berada sangat dekat di Baitullah. Setiap momen dirasakan seperti bersama dengan Tuhannya—sangat dekat. Bahasa al-qur’an "Sedekat urat nadi".maksudnya bahwa Tuhan sangat dekat dengan hambanya, bahkan lebih dekat daripada hal-hal fisik yang paling dekat sekalipun. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak jauh atau tidak terjangkau, melainkan selalu hadir dan menyertai setiap aspek kehidupan kita. Tuhan hadir dalam setiap detik kehidupan kita. Tidak perlu perantara untuk berhubungan dengan Tuhan karena Dia sedekat urat nadi kita. Doa dan komunikasi dengan Tuhan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, karena Tuhan selalu mendengar.

Perjalanan dan pertemuan cinta akan selalu terasa indah, selalu terasa nikmat, dan selalu terasa bahagia. Sebagai wujud dari rasa itu, dalam prosesi hajji  bahwa setiap  perjalanan tak ada yang terasa jauh, teriknya sinar matahari tak terasa panas, bahkan kelelahan berubah menjadi hiburan. Itulah kekuatan cinta yang dilambari dengan keyakinan akan maha kasih sayangnya Tuhan. ”walladzîna âmanû asyaddu ḫubbal lillâhi”. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Al Baqarah ayat 165.

Prof. DR. H. Maimun Zubair, M.Pd adalah : Rektor II UIN Mataram



0 Komentar