![]() |
| Guru Besar dan Wakil Rektor II UIN Mataram, Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd |
BidikNews.net - Hal tersebut diatas disampaikan Guru Besar dan Wakil Rektor II UIN Mataram, Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd mengawali penjelasannya tentang pengabdian Guru sebagai pengajar sekaligus sebagai penuntun jiwa anak didik.
Dijkatakannya, dalam perspektif Islam, ilmu yang diajarkan oleh seorang guru akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah ia wafat, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW bahwa amal manusia terputus kecuali tiga, salah satunya ilmu yang bermanfaat.” Ujar Prof. Maimun.
Dari sisi filosofis lanjutnya, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penuntun jiwa dan pembentuk peradaban. Oleh karena itu, bahwa mengajar adalah panggilan hati, sebuah pengabdian yang menghubungkan dimensi profesi dengan dimensi ibadah.” Kata Guru Besar yang murah senyum ini.
Dengan kesadaran ini, guru akan senantiasa menjaga keikhlasan, sementara negara dan masyarakat tetap berkewajiban menguatkan kesejahteraan mereka agar pengabdian itu dapat berlangsung dengan penuh martabat.
Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh ilmu. ”Yarfa‘illâhulladzîna âmanû mingkum walladzîna ûtul-‘ilma darajât”. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. al-Mujādilah: 11). “ jelas Wakil Rektor II UIN Mataram ini.
Guru dan anak didik RA/PAUD Al Achwan Pagutan Mataram-NTB
Ayat ini kata Prof. Maimun Zubair menegaskan bahwa, ilmu merupakan pilar kemuliaan, dan guru sebagai penyampai ilmu menempati posisi istimewa dalam pandangan Tuhan. Jika seorang guru menjadikan niat utamanya untuk mendidik, maka profesinya berubah menjadi ibadah.” Ujarnya.
Guru bukan pedagang ilmu, melainkan penyalur hikmah dan pencerahan. Tentu hal ini tidak berarti guru tidak boleh sejahtera, justru Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhlas mengabdi dan hak hidup yang layak.” Lanjut Prof. Maimun sembari tersenyum.
Dijjelaskannya, mengajar dengan niat ikhlas sejatinya menempatkan profesi guru pada dimensi ibadah, di mana setiap kata, bimbingan, dan nilai yang ditanamkan menjadi amal jariyah yang pahalanya tak terputus. Karena profesi guru sebagai ibadah yang bernilai maka kesejahteraan guru juga harus terjamin, agar semangat pengabdian itu dapat terus menyala dengan penuh martabat.” Tegas Prof. Maimun.
![]() |
| Imam al-Ghazali |
Hal ini Imam al-Ghazali menekankan bahwa tugas guru bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membersihkan jiwa anak didiknya, menanamkan akhlak mulia, dan membimbing mereka mendekatkan diri kepada Tuhan.” Tutur Prof. Maimun.
Guru Besar UIN Mataram ini juga menyampaikan bahwa, Guru hadir sebagai penuntun jalan spiritual yang membantu para murid menemukan hakikat hidup dan tujuan penciptaannya.
Artinya, guru tidak hanya berfungsi sebagai agen intelektual, tetapi juga sebagai agen transformasi jiwa dan peradaban. Karenanya, Profesi guru harus ditempatkan pada posisi terhormat, karena melalui tangan merekalah lahir generasi yang berilmu, beradab, dan beriman.
Prof. Maimun juga merujuk pernyataan Syekh Muhammad Abduh, yang merupakan tokoh pembaharu Islam Mesir, menegaskan bahwa kemajuan umat sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan guru. Menurutnya, guru adalah al-quwwah al-hayawiyyah (kekuatan vital) bagi sebuah bangsa, tanpa guru yang tulus dan berkualitas, masyarakat akan kehilangan arah.
![]() |
| Syekh Muhammad Abduh, tokoh pembaharu Islam Mesir, |
Pandangan Abduh ini lahir dari kesadaran bahwa kemunduran umat Islam kala itu bukan semata disebabkan oleh lemahnya ekonomi atau politik, melainkan karena rapuhnya fondasi pendidikan. Guru dengan integritas, keikhlasan, dan kecakapanlah yang mampu menyalakan obor peradaban, menanamkan nilai agama, ilmu, dan akhlak mulia.
Statemen Abduh ini sekaligus menjadi kritik sosial, bahwa membangun bangsa tidak cukup dengan infrastruktur fisik, melainkan harus dimulai dari pembangunan manusia melalui pendidikan yang bermutu dan guru yang berjiwa pengabdian. Dalam kerangka ini, guru bukan hanya profesi, tetapi pilar peradaban yang menentukan maju mundurnya sebuah umat.” Jelas Guru Besar UIN Mataram ini.
Di Indonesia, seorang Ulama Kharismatik KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim tutur Wakil Rektor II UIN Mataram ini mengingatkan bahwa guru harus meneladani keikhlasan para ulama terdahulu dan pentingnya adab murid dan masyarakat dalam menghormati guru, termasuk dalam memperhatikan kesejahteraannya.
Guru dalam pandangan KH. Hasyim Asy‘ari kata Prof. Maimun adalah penjaga ilmu yang harus menjaga kemurnian niat dan keluhuran akhlak, sebab dari merekalah lahir generasi penerus umat yang berkualitas.
KH. Hasyim Asy‘ari juga mengingatkan bahwa tanggung jawab memuliakan ilmu bukan hanya berada pada guru, melainkan juga pada murid dan masyarakat. Murid dituntut beradab dalam menuntut ilmu, menghormati guru, dan menjaga hubungan spiritual dengannya. Sementara masyarakat memiliki kewajiban memperhatikan martabat serta kesejahteraan guru, agar mereka dapat menjalankan tugas mulia tanpa beban hidup yang menghambat.” Kata Prof. Maimun Zubair.
![]() |
| KH. Hasyim Asy‘ari, toko kharismatik NU |
Dengan demikian, terbangunlah sebuah harmoni di mana guru berjuang dengan ikhlas, murid beradab dalam belajar, dan masyarakat hadir sebagai penopang kesejahteraan, sehingga ekosistem pendidikan dapat melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak.” Jelas Guru Besar UIN Mataram ini.
Jika dilihat dari perspektif hadis Nabi SAW, ajaran al-Ghazālī, pemikiran Syekh Muhammad Abduh, dan nasihat KH. Hasyim Asy‘ari, ujar Prof. Maimun Zubair maka, guru tidak semata agen transfer ilmu, melainkan pewaris para nabi, penjaga ilmu, penuntun jiwa, dan pilar peradaban.” Katanya.
Prof. Maimun Zubair menegaskan, keikhlasan guru tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk mengabaikan hak kesejahteraannya, justru sebagaimana diingatkan oleh para ulama, keseimbangan harus dijaga—guru beramal dengan niat ikhlas dan penuh pengabdian, sementara masyarakat dan negara berkewajiban memberikan penghormatan dan kesejahteraan yang layak.” Ujarnya.
Dengan harmoni ini, profesi guru akan menjelma menjadi pelita kehidupan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk jiwa dan mengarahkan umat menuju peradaban yang beradab dan bermartabat.” Tutup Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd.
Pewarta: Dae Ompu




0 Komentar