Bagi seorang penulis, jari bukan sekadar anggota tubuh yang menari di atas papan ketik atau pena yang menorehkan kata-kata, namun lebih dari itu, ia adalah saksi perjalanan ide, penyalur gagasan, dan penghubung antara hati, pikiran, serta dunia. Setiap huruf yang lahir dari jemari seorang penulis, bisa menjadi benih kebaikan yang tidak pernah mati. Demikian pengantar tulisan Guru Besar dan Wakil Rektor II UIN Mataram, Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd
Hikmah Jum`at, 19 September 2025
SEMINGGU yang lalu, tepatnya tanggal 8 September dietetapkan sebagai hari literasi oleh badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yakni UNESCO.
Hari literasi Internasional sebuah momen yang mengingatkan kita bahwa setiap huruf yang kita baca dan setiap kata yang kita tulis adalah langkah kecil menulis masa depan. Literasi bukan hanya tentang membuka buku, tetapi juga tentang menggerakkan jemari untuk menulis, menuangkan ide, merangkai cerita, dan meninggalkan jejak pengetahuan bagi generasi yang akan datang.
Sarlito Wirawan Sarwono (Psikolog ternama Indonesia) mengatakan, ”Bacalah karya generasi terdahulu dan tinggalkanlah bahan bacaan untuk generasi yang akan datang.”
Jemari yang menulis bukan sekadar menggoreskan tinta, tetapi juga menggoreskan sejarah dan sekaligus menjadi saksi perjalanan pemikiran, perasaan, dan peradaban manusia.
![]() |
| Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd, Wakil Rektor II UIN Mataram |
Bagi seorang penulis, jari bukan sekadar anggota tubuh yang menari di atas papan ketik atau pena yang menorehkan kata-kata, namun lebih dari itu, ia adalah saksi perjalanan ide, penyalur gagasan, dan penghubung antara hati, pikiran, serta dunia. Setiap huruf yang lahir dari jemari seorang penulis, bisa menjadi benih kebaikan yang tidak pernah mati.
Tulisan ibarat mata air yang tak pernah kering, mengalir ke banyak jiwa dan menghidupi generasi. Satu kalimat penuh hikmah yang ditulis dan terbaca hari ini, mungkin baru dipetik manfaatnya puluhan tahun mendatang, di situlah letak keajaiban tulisan, ia adalah amal jariyah yang terus hidup meski sang penulis telah tiada.
Penulis yang sadar akan hal ini pasti akan menimbang setiap kata yang ia lahirkan, tidak menulis sekadar untuk memenuhi halaman, melainkan untuk meninggalkan jejak kebaikan. Bahkan jari yang menorehkan tulisan bisa menjadi saksi yang memberatkan amal, atau menjadi ladang pahala yang terus bertumbuh.
Maka itulah, jangan pernah remehkan kekuatan tulisan, sebaliknya mari kita gunakan jari ini sebagai jalan kebaikan, karena siapa tahu, satu kalimat sederhana yang kita pernah tulis, bisa menjadi cahaya bagi jiwa pembacanya yang hampir padam. Kata Edward Bulwer-Lytton, “The pen is mightier than the sword”. Bahkan pena lebih tajam daripada pedang.
Nabi dalam salah satu hadisnya mengatakan, “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631)
Menulis adalah bagian dari “ilmu yang bermanfaat.” Setiap ilmu, nasihat, atau hikmah yang dituangkan dalam tulisan lalu dibaca orang lain, maka pahalanya terus mengalir kepada penulisnya, bahkan setelah ia wafat.
Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd, Guru Besar UIN Mataram
Ayat pertama dari Surat Al-Qalam “Nûn, wal-qalami wa mâ yasthurûn.” Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Merupakan sumpah agung sekaligus isyarat bahwa tulisan memiliki kedudukan penting dalam peradaban dan menjadi media penjaga ilmu.
Ayat ini seakan mengingatkan kita bahwa setiap kata yang ditulis memiliki nilai, setiap huruf yang tercetak adalah saksi, dan setiap goresan pena bisa menjadi cahaya yang menuntun atau sebaliknya, bisa menjerumuskan. Maka marilah menggunakan pena dan jemari hari ini sebagai sarana kebaikan, pencerahan, dan warisan ilmu yang bermanfaat.
Imam Syafi‘i pernah berpesan, “Jika engkau bukan anak seorang raja, dan bukan pula anak seorang hartawan, maka jadilah engkau seorang penulis.” Kalimat ini seakan menegaskan bahwa kejayaan dan kemuliaan tidak selalu diwariskan oleh garis keturunan atau harta, melainkan bisa dibangun dengan ilmu yang diabadikan dalam tulisan.
Seorang raja bisa dikenang karena kekuasaannya, seorang hartawan karena kekayaannya, tetapi seorang penulis dikenang karena ilmu yang dibagi lewat tulisan yang tetap hidup dan mengalir dari generasi ke generasi.
Dalam kesempatan yang lain Imam Syafi‘i juga pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang sangat mendalam: “Midadal-‘ulama khairun min dimā’i asy-syuhadā’.” Tinta para ulama lebih baik daripada darah para syuhada.
Sekilas, ungkapan ini terasa mengejutkan, bukankah syahid di jalan Allah adalah derajat yang begitu tinggi? Benar, syahid adalah kemuliaan yang luar biasa. Namun Imam Syafi‘i ingin menekankan dimensi lain, betapa besarnya nilai ilmu dalam menjaga agama, menuntun umat, dan menerangi peradaban.
Syuhada menjaga agama dengan pengorbanan fisik mereka, sementara para ulama menjaga agama dengan ilmu yang mereka wariskan. Darah syuhada mungkin kering setelah peperangan berakhir, tetapi tinta ulama tetap hidup, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia menghidupi akal, membangunkan hati, dan menuntun jiwa untuk beribadah dengan benar.
Inilah mengapa tinta ulama dikatakan lebih baik dari darah syuhada, sebab syuhada melindungi umat dengan pengorbanan jiwa, tetapi ulama melindungi agama dengan ilmu yang menjadi cahaya sepanjang zaman. Maka ungkapan Imam Syafi‘i ini adalah panggilan bagi para penulis, pendidik, dan pencari ilmu untuk senantiasa menggunakan tinta sebagai jariyah. Sebab setiap kata yang lahir dari ilmu yang bermanfaat bisa menjadi warisan pahala abadi, menuntun umat menuju kebenaran, bahkan setelah penulisnya tiada.
Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd
Sebagai catatan pinggir bahwa Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 September adalah pengingat bahwa membaca dan menulis merupakan dua pilar utama peradaban. Jemari yang menulis bukan sekadar menggoreskan tinta, tetapi meninggalkan warisan kebaikan lintas generasi.
Menulis adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, bahkan setelah penulisnya tiada, maka semangat menulis hendaknya berbanding lurus dengan semangat membaca, itu amanah dari firman Allah yang turun pertama kepada baginda Nabi SAW, meski hanya satu kalimat sederhana.
Menulislah, karena siapa tahu kata-kata yang kita torehkan hari ini menjadi cahaya bagi jiwa yang nyaris padam, menjadi inspirasi bagi generasi mendatang, dan menjadi penuntun umat menuju kebaikan.
Penulis: adalah Guru Besar dan Wakil Rektor II UIN Mataram

0 Komentar