![]() |
| Hikmah Jum`at, 10 Oktober 2025 |
Ungkapan ini bukan sekadar metafora, melainkan cermin yang memantulkan wajah spiritual manusia masa kini yang tampak aktif secara fisik, namun pasif secara rohani. Ia mengajak kita menelusuri kembali makna sejati dari ibadah: bukan hanya rutinitas ritual, melainkan proses yang menghidupkan jiwa dan menumbuhkan kesadaran Ilahiah dalam setiap gerak kehidupan.
“Menjadi pengangguran dalam beribadah” merupakan refleksi yang tajam dan menyentuh tentang kondisi spiritual manusia modern. Ia menjadi sebuah kritik halus terhadap fenomena kemandekan rohani di tengah kesibukan lahiriah.
Banyak orang yang aktif bekerja, berprestasi, bahkan produktif dalam karier dan sosial, namun justru “menganggur” dalam urusan ibadah—tidak produktif secara spiritual, tidak menghasilkan “buah” ketaatan, dan tidak melahirkan makna ibadah dalam aktivitas hariannya.
Kata Rabindranath Tagore: ”Agama yang benar bukan yang membuat kita melihat Tuhan di langit, tetapi yang membuat kita melihat Tuhan dalam diri manusia lain”.
Ketika seseorang kehilangan semangat untuk mengingat Allah dalam setiap aktivitasnya, maka hidupnya perlahan berubah menjadi mekanis: bekerja tanpa niat ibadah, berbuat tanpa kesadaran makna, bahkan berdoa tanpa keintiman spiritual.
Padahal, dalam Islam, setiap aktivitas dapat bernilai ibadah bila diiringi niat yang benar dan kesadaran akan kehadiran Tuhan. ”Wa huwa ma‘akum aina mâ kuntum”. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (QS. Al-Ḥadīd: 4)
Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan semangat spiritual dalam setiap langkah kehidupan yang kita jalani. Namun ketika rasa hadir itu hilang, maka sujud pun berubah menjadi rutinitas kosong; gerakan ada, tetapi jiwa tidak ikut bersujud, padahal sujud adalah momen tertinggi manusia untuk berdekatan dengan Tuhannya—titik perjumpaan antara kerendahan makhluk dan keagungan Pencipta.
“Aqrabu mā yakūnu al-‘abdu min rabbihi wa huwa sājidun”.
Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud. (HR. Muslim)
Lebih jauh, ”menjadi pengangguran dalam beribadah” juga berarti kehilangan gairah untuk menumbuhkan amal sebagai wujud cinta kepada Sang Pencipta, sehingga ibadah itu tinggal nama, amal tinggal gerak, dan hati menjadi kering dari makna.
Karena itu, pernyataan “menjadi pengangguran dalam beribadah” sejatinya adalah ajakan untuk bangkit dari keletihan rohani. Ia mengingatkan kita bahwa ibadah bukan beban, melainkan pertemuan kasih sayang dengan Tuhan; bukan kewajiban yang memenjarakan, tetapi kesempatan untuk menghidupkan jiwa. Sebab ketika kita benar-benar hadir dalam setiap ibadah yang kita tunaikan, maka setiap napas, langkah, dan usaha menjadi dzikir yang menghidupkan, bukan sekadar rutinitas yang melelahkan.
Fenomena ini dapat dimaknai sebagai bentuk disorientasi spiritual, yakni ketika ibadah dipersempit hanya pada ritual tanpa kesadaran maknawi. Seorang yang “menganggur” dalam ibadah bukanlah orang yang berhenti salat atau puasa, melainkan mereka yang melaksanakan ibadah tanpa kehadiran hati. Mereka hadir secara jasmani, tetapi ruhnya absen. Seperti tubuh yang bergerak otomatis tanpa kesadaran, dan ibadah semacam itu tidak menghidupkan jiwa. Inilah yang diisyaratkan Al-Qur’an ketika mengingatkan kita:
“Fa wailul lil-mushallîn, alladzîna hum ‘an shalâtihim sâhûn”.
Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) yang lalai dari shalatnya. (QS. Al-Ma‘un: 4–5). Artinya, ada bentuk ibadah yang hanya berhenti pada gerak lahir, tanpa getaran makna batin.
Menjadi “pengangguran dalam beribadah” juga berarti kehilangan etos spiritual, yakni redupnya semangat untuk beramal dengan keikhlasan dan kesungguhan, sebagaimana seorang pekerja sejati tidak puas hanya duduk tanpa karya, seorang mukmin sejati mestinya tidak tenang tanpa amal saleh.
Rasulullah SAW menggambarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain—sebuah isyarat bahwa ibadah sejati harus produktif dan menebar manfaat sosial. Maka, pengangguran dalam ibadah bukan hanya orang yang malas berdoa, tetapi juga mereka yang tidak menjadikan ibadahnya sebagai sumber energi untuk berbuat baik di dunia nyata.
Dalam perspektif sufistik, menjadi pengangguran dalam ibadah berarti terputus dari kesadaran dzikir, kehilangan hubungan dengan Tuhan dalam ritme kehidupan. Imam Al-Ghazali menegaskan, bahwa dzikir sejati bukan hanya di lisan, melainkan juga dalam gerak pikiran, langkah kaki, dan keputusan moral.
Seorang yang bekerja dengan penuh kejujuran, menuntut ilmu dengan niat ibadah, atau menolong sesama karena Allah—semua itu termasuk bentuk “bekerja” dalam ibadah. Sebaliknya, jika seseorang beribadah tetapi hatinya lalai, maka ia seperti penganggur di hadapan Tuhan: hadir tanpa kontribusi, datang tanpa karya, sujud tanpa makna.
Sebagai catatan pinggir, bahwa ungkapan “menjadi pengangguran dalam beribadah” mengingatkan kita untuk menghidupkan dimensi batin dalam setiap bentuk ketaatan. Ibadah tidak boleh menjadi rutinitas yang mati, tetapi harus menjadi ladang produktivitas rohani—tempat tumbuhnya cinta, kesabaran, kejujuran, dan rasa syukur. Jangan sampai kita terlihat sibuk di dunia, tetapi kosong di sisi Allah; aktif bekerja untuk dunia, tetapi menganggur dalam urusan akhirat.
Sebab produktivitas sejati bukan diukur dari apa yang kita hasilkan di bumi, melainkan dari seberapa banyak amal yang bernilai langit.
Penulis: adalah Guru Besar dan Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri -UIN Mataram

0 Komentar