Yani Malhendo, Petinju Tangguh Asal Rato Sila Bima NTB Dijuluki “Monster” Asia Disegani Many Pacquiao

‎‎

Yani Malhendo ketika hendak dihadapkan dengan Many Pacquiao 
BidikNews.net,NTB - Desa Rato Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat ternyata memiliki Petinju tangguh yang dulu pernah berjaya di era tahun 90- an.

‎‎Dia adalah Yani Malhendo, pria kelahiran 8 September 1968.  Yani Malhendo tumbuh di tengah keluarga yang sederhana, tapi dengan tekad baja dia hijrah dari kampung yang kemudian berlabuh di olah raga tinju.

‎‎Dari sini lah ia mulai memperlugatkan kebolehannya mengaduk2 para petinju lainnya dari  ring yang satu ke ring tinju lainya yang bergengsi di kawasan Asia.

‎‎Di atas Ring  era 1990-an, nama Yani Malhendo merupakan petinju yang ditakuti para petinju di kelas terbang ringan. 

‎‎Ketika itu, Ia bukan sekadar bertarung—ia mengubah ring menjadi panggung kehormatan, tempat di mana semangat dan harga diri bangsa dipertaruhkan.

‎‎Tahun 1990, ia merebut gelar Juara Indonesia kelas terbang ringan (48,988 kg). Setahun kemudian, 1991, ia mengukuhkan dominasinya dengan menyandang gelar juara nasional kelas terbang (50,802 kg).

‎‎Laju prestasinya tak berhenti di situ, Yani menembus level internasional menjadi  Juara IBF Inter-Continental Light Flyweight (1995) dan Juara WBC International Super Flyweight (1998).

‎‎Dengan gaya bertarung southpaw (kidal) yang lincah, stamina tinggi, dan kombinasi pukulan cepat, Yani Malhendo dikenal sebagai petarung ulet dengan gaya inside fighter sejati. 

‎‎Ia bukan tipe yang menunggu kesempatan KO spektakuler, tetapi ia mampu menghancurkan lawan pelan tapi pasti, dengan disiplin, ketenangan, dan determinasi yang keras kepala.

‎‎Namun di balik semua itu, hidup Yani tak seindah sabuk emas yang pernah ia kenakan. Seiring waktu, sorotan lampu ring perlahan memudar. 

‎‎Dari tempat tinggalnya di Surabaya, sang legenda kini hidup jauh dari perhatian publik dan pemerintah daerah yang dulu berbangga atas prestasinya. Dalam suara yang tenang namun sarat kekecewaan, ia berkata:

‎‎ “Saya prihatin, sampai sekarang belum ada satu pun petinju asal Bima yang bisa melanjutkan kiprah saya di dunia tinju.” ujarnya lirih.

‎‎Meski demikian, bara semangat itu belum padam. Ia masih bermimpi mendirikan sasana tinju di Bima, tempat anak-anak muda bisa dilatih bukan hanya untuk bertarung, tetapi untuk bermimpi.


‎‎Namun, keterbatasan dana dan dukungan membuat cita-cita itu belum juga terwujud. Dengan nada penuh harap, ia berkata:

‎‎“Kalau Pemkab Bima mau memfasilitasi, saya siap pulang dan mengabdi dengan tulus.” ujarnya pelan.

‎‎Ada satu kisah menarik yang kerap jadi bisik-bisik di kalangan penggemar tinju Asia.

‎‎Pada awal karier Manny “Pac-Man” Pacquiao, sempat direncanakan duel antara Pacquiao muda dan Yani Malhendo. 

‎‎Tapi kabarnya, setelah menonton rekaman pertandingan Yani, kubu Pacquiao memilih mundur. Mereka menilai petinju asal Bima itu terlalu berbahaya.

‎‎Entah fakta,  kisah ini sekaligus menegaskan satu hal bahwa Yani Malhendo bukan nama sembarangan di ring Asia.

‎‎Kini, di usia yang tak muda lagi, Yani bukan lagi mengejar sabuk juara. Ia mengejar sesuatu yang lebih berharga: warisan semangat juang.

‎‎Baginya, tinju bukan sekadar adu fisik—melainkan simbol harga diri bangsa. Ketika bendera dikibarkan dan lagu kebangsaan berkumandang, itulah momen di mana martabat Indonesia berdiri tegak.

‎‎Dan dari balik kesunyian, sang legenda yang nyaris terlupakan itu masih menyuarakan pesan sederhana namun kuat:

‎‎ “Mari kita bangkitkan kembali semangat tinju di Bima dan NTB umumnya, untuk berikhtiar, tidak ada kata terlambat.” katanya yakin.

‎‎Yani Malhendo, nama yang sempurna dan "Malhendo" adalah panggilan akrab sang Bunda Tercinta di desa Rato Sila Bolo Bima  merpupakan keluarga sederhana.

‎‎Seperti ditulis Koko Herii melalui akun Fbnya menyebtkan bahwa, Yani Malhendo adalah pejuang dari  ring tinju ke ring tinju lainnya, yang kini berdiri sebagai pengingat, bahwa kejayaan bukanlah soal sorotan, melainkan tentang semangat yang tidak pernah padam.

“Saya Hidup dari Tinju untuk Tinju”

Yani Malhendo sang Legenda Tinju asal Rato Sila Bolo Bima NTB
Yani Malhendo, 49 tahun, telah memberikan hampir seluruh hidupnya untuk tinju. Dimulai sebagai pemain tinju, kemudian pelatih, dan pengurus. Semua sudah dikerjakannya. Sudah lengkap.

Yani, asli southpaw, menjadi petinju Indonesia pertama yang pernah terikat kontrak non gelar kelas terbang 10 ronde melawan Manny Paqcuiao, yang 15 Juli 2018 di Kuala Lumpur, Malaysia, menjatuhkan Lucas Mathysse pada ronde 7 untuk kembali menjadi juara dunia.

“Kejadian itu paling melekat dalam ingatan saya,” kata Yani. “Waktu itu kami sudah selesai timbang badan dan selesai pemeriksaan kesehatan. Menjelang pertandingan dinyatakan batal. Pacquiao sakit perut, itu kata promotor di Filipina.”

Kecewa. Tetapi, Yani tetap bangga melihat perjalanan Pacquiao, bisa menjadi juara dunia.

Sekarang Yani hidup dari tinju untuk tinju. “Mau apa lagi? Ya sudah, di sini saja. Saya hidup dari tinju untuk tinju. Kalau dulu petinju, sekarang pelatih,” kata Yani Malhendo di Surabaya, Jawa Timur, tulis Rondeaktual,jakarta Juli 2018 lalu

Yani seorang kidal, pernah juara Indonesia kelas terbang ringan dan kelas terbang. Pernah juara IBF Inter-Contonetal kelas terbang ringan dan juara WBC Inter-Continental kelas terbang super. “Saya pertama juara, kalau tidak salah, 17 April 1990.”

Nama Yani Malhendo cukup kuat di percaturan tinju Tanah Air. Ia mengawali perantauannya dari tempat kelahirannya Bima, Nusa Tenggara Barat, menuju Malang, Jawa Timur. Yani lahir 8 September 1968.

Di Malang ia berlatih tinju dan bertemu dengan pembina tinju seorang tentara bernama (almarhum) FK Sidabalok. Yani di awal karirnya bertanding di kelas terbang ringan, membawa nama Sidabalok Boxing Camp Malang.

Tahun 1986, pria kelahiran Bima ini masuk Pirih Boxing Camp, Jalan Nginden Kota, Surabaya. Tak lama Yani Malhendo merebut sabuk juara Indonesia kelas terbang ringan. 

Kemudian merebut sabuk juara Indonesia kelas terbang. Yani gagal merebut sabuk juara Indonesia kelas bantam yunior, menyusul kekalahan angka 12 ronde melawan Hengky Wuwungan.

Untuk Indonesia, Yani adalah juara dua kelas dan menjadi juara tiga kelas jika digabung dengan gelar WBC Inter-Continental kelas terbang super yang direbutnya.

“Saya terakhir tanding di Thailand, 16 tahun yang lalu. Waktu itu umur sudah 34 dan saya memutuskan menggantungkan sarung tinju untuk selamanya.”

Berhenti tinju, Yani meneruskan karir sebagai pelatih.

Yani malhendo bersama Istri tercinta
”Saya lama berdiri di sudut ring ketika petinju Pirih Boxing Camp Surabaya bertanding. Bisa dibilang waktu itu ada era emas tinju pro kita. Hampir setiap minggu ke Jakarta mendampingi petinju Pirih bertanding. Di masa itu masih ada Om A Seng. Setelah Om A Seng tidak ada, sasana tinju perlahan-lahan habis. Semua gulung tikar.”

Sebelum gulung tikar, Yani masih sempat sebagai pelatih di Sidoarjo, bersama pemilik sasana Damianus Wera. Setelah itu, melalui KONI Jawa Timur, Yani dipercaya mengurus petinju khusus menghadapi PON XIX/2016 Jawa Barat.

Habis PON habis kontrak. 

“Sekarang saya tidak ke mana-mana, tetapi saya bisa berada di mana-mana. Saya tetap untuk tinju, sampai kapanpun.”

Yani mengaku selalu berpikir bagaimana cara menghidupkan kembali tinju Tanah Air. Tinju amatir dan tinju pro sama tidak ada prestasi.

Ketika Rondeaktual.com bertanya tentang pekerjaan, Yani Malhendo bilang begini: “Pekerjaan saya rahasia, itu tidak bisa diutarakan.” Yani pernah memperoleh bantuan rumah dari pemerintah.

Tentang pertanian? Ini kata Yani Malhendo: “Kadang kalau musim mangga, saya petik dua atau tiga biji. Saya makan di situ, rasanya senang sekali. Semua hasilnya untuk orang yang menjaga tanah. Satu sen pun tidak pernah saya nikmati. Biarlah, yang penting bisa membantu orang.”

‎‎Pewarta: Dae Ompu


0 Komentar