Ada usia yang sekadar bertambah angka. Ada pula usia yang menuntut pertanggungjawaban sejarah. Enam puluh tujuh tahun Nusa Tenggara Barat berdiri sebagai daerah otonom—bukan waktu yang singkat untuk sekadar belajar berjalan. Ini usia yang seharusnya telah matang dalam berpikir, tegas dalam melangkah, dan jernih dalam menentukan arah. Namun justru pada titik inilah kita perlu berhenti sejenak, menunduk, dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: sudah sejauh apa NTB benar-benar bergerak untuk rakyatnya?
TEMA “Gerak Cepat NTB Hebat” terdengar gagah. Ia membangkitkan optimisme. Tetapi sejarah selalu mengajarkan satu hal penting: kecepatan tanpa kesadaran arah hanya akan membuat kita lebih cepat tersesat. Karena itu, peringatan hari jadi ini bukan sekadar panggung perayaan, melainkan ruang refleksi kolektif—antara harapan dan kenyataan, antara potensi besar dan hasil yang belum sepadan.
NTB: Tanah Kaya yang Terlalu Lama Diminta Bersabar
NTB dianugerahi alam yang nyaris sempurna. Gunung Rinjani dan Tambora berdiri anggun sebagai simbol keteguhan. Lautan membentang sebagai sumber kehidupan. Tanah-tanah subur menyimpan harapan pangan. Budaya dan nilai spiritual mengakar kuat dalam denyut masyarakatnya.
Namun di balik kekayaan itu, ada suara lirih yang terlalu sering diabaikan. Suara petani yang masih bergulat dengan harga yang tidak adil. Nelayan yang tergantung pada cuaca dan pasar yang tak berpihak. Pelaku usaha kecil yang bekerja keras, tetapi tersandung akses modal, pasar, dan pendampingan. Anak-anak muda cerdas yang menyimpan mimpi besar, namun tidak menemukan ruang untuk tumbuh di tanah kelahirannya sendiri.
"Di sinilah ironi itu terasa perih: rakyat diminta terus bersabar, sementara sistem terlalu lama belajar berubah."
Potensi Tanpa Keberanian Adalah Penundaan yang Mahal
Kita sering mendengar daftar panjang potensi NTB: pariwisata kelas dunia, kawasan ekonomi strategis, pertanian dan peternakan unggulan, perikanan melimpah, ekonomi kreatif yang menjanjikan, industri halal yang potensial mendunia.
Namun pertanyaannya sederhana tapi menohok: mengapa sebagian besar rakyat belum merasakan lompatan kesejahteraan yang signifikan?
Jawabannya tidak selalu pada kekurangan sumber daya, melainkan pada keberanian mengambil keputusan besar. Terlalu sering kebijakan berhenti di atas kertas. Terlalu sering inovasi terjebak di forum diskusi. Terlalu sering program berjalan rutin, tetapi kehilangan daya dobrak.
Kita harus berani mengakui: ✓Birokrasi masih terasa berat bagi rakyat kecil. Kebijakan belum sepenuhnya berpihak pada penciptaan nilai tambah lokal. Pembangunan belum sepenuhnya menumbuhkan kemandirian, melainkan ketergantungan.
"Kritik ini tidak lahir dari kebencian, tetapi dari cinta yang resah—cinta pada NTB yang seharusnya bisa jauh lebih hebat dari hari ini."
Gerak Cepat yang Dibutuhkan: Bukan Lebih Keras, Tapi Lebih Tepat
“Gerak Cepat” tidak berarti bekerja tergesa-gesa. Ia berarti memotong yang berbelit, menyederhanakan yang rumit, dan mengeksekusi yang sudah lama dipikirkan. Dunia bergerak cepat bukan karena mereka berlari tanpa arah, melainkan karena mereka berani meninggalkan pola lama yang tidak relevan.
NTB membutuhkan keberanian untuk: ✓Menggeser fokus dari serapan anggaran ke dampak nyata. ✓Mengganti budaya laporan dengan budaya hasil. Mengubah pola pikir “yang penting jalan” menjadi “harus berdampak”.
"Dan yang lebih penting: gerak cepat harus menyentuh akar persoalan rakyat, bukan hanya permukaan statistik."
Empati sebagai Fondasi, Ketegasan sebagai Jalan
Pemerintahan yang kuat bukanlah yang alergi kritik, tetapi yang mampu mendengarkan dengan empati dan bertindak dengan ketegasan. Rakyat tidak menuntut kesempurnaan. Mereka hanya ingin kejujuran arah dan konsistensi langkah.
Empati berarti memahami bahwa kemiskinan bukan sekadar angka, tetapi luka martabat. Bahwa pengangguran bukan hanya soal pekerjaan, tetapi kehilangan harapan. Bahwa keterbelakangan bukan karena malas, melainkan karena sistem yang belum memberi ruang.
"Namun empati tanpa ketegasan hanya akan melahirkan belas kasihan yang tidak mengubah nasib. Karena itu, komitmen membersamai rakyat harus diterjemahkan dalam kebijakan yang berani, tegas, dan berpihak."
Entrepreneurial Mindset Mainstreaming: Jalan Sunyi yang Menentukan
Inilah titik balik yang sering dihindari karena tidak instan: perubahan mindset. NTB tidak akan bangkit hanya dengan proyek, tetapi dengan mentalitas pencipta nilai.
Entrepreneurial mindset bukan berarti semua orang harus menjadi pengusaha. Ia adalah cara berpikir: ✓Melihat masalah sebagai peluang. ✓Mengubah keterbatasan menjadi inovasi. ✓Berani mencoba, gagal, belajar, dan bangkit kembali.
Mindset ini harus menjadi arus utama—diajarkan sejak dini, dihidupkan di kampus, dipraktikkan di birokrasi, dan difasilitasi oleh kebijakan. Pemerintah daerah harus menjadi inkubator harapan, bukan sekadar administrator anggaran.
Ketika entrepreneurial mindset menjadi budaya: ✓Rakyat tidak menunggu bantuan, tetapi mencipta solusi. ✓Pemerintah tidak menjadi pusat segalanya, tetapi penggerak ekosistem. ✓Pembangunan tidak rapuh, karena ditopang oleh kemandirian.
Menuju NTB Makmur dan Mendunia: Sebuah Janji Kolektif
Makmur bukan berarti tanpa masalah. Makmur berarti memiliki daya untuk mengatasi masalah. Mendunia bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi membawa nilai lokal ke panggung global dengan kepala tegak.
Di usia ke-67 ini, NTB dihadapkan pada pilihan sejarah: tetap nyaman dengan langkah kecil, atau berani melompat dengan kesadaran penuh. Tidak ada jalan tengah.
"Narasi ini bukan tuntutan dari luar, tetapi ikrar dari dalam—bahwa kita mencintai NTB terlalu dalam untuk membiarkannya berjalan setengah hati. Bahwa kita memilih untuk mengkritik karena ingin membersamai. Bahwa kita percaya NTB mampu bangkit, jika berani mengubah cara berpikir dan bertindak."
Selamat ulang tahun ke-67, Nusa Tenggara Barat. Semoga “Gerak Cepat NTB Hebat” bukan sekadar tema, melainkan kesadaran kolektif untuk bergerak, berubah, dan bertumbuh bersama—menuju NTB yang benar-benar makmur dan mendunia.
Penulis: adalah Warga NTB Penganjur Kemandirian | Penulis Mindset is Everything | CEO Kaffa Business Coach | The PIB President | Pendiri Islamic Lombok Forum | Departemen Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri, Pimpinan Wilayah DMI Provinsi NTB | owner biosamtung.com


0 Komentar