
Pengukuhan Guru Besar ke 66, 67, 68, 69 UIN Mataram pada Hari Rabu, 7 Januari 2026 berlangsung Khidmat
Pengukuhan Guru Besar UIN Mataram merupakan tonggak bersejarah yang menegaskan kematangan dan keluasan khazanah keilmuan kampus ini sebagai pusat keunggulan akademik yang berakar pada tradisi keilmuan Islam dan berorientasi pada masa depan.
BidikNews.net,Mataram — Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram kembali menorehkan tonggak penting dalam perjalanan akademiknya. Pada Rabu, 7 Januari 2026, Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag secara resmi mengukuhkan Guru Besar ke-66, 67, 68, dan 69, sebuah capaian yang tidak hanya menandai prestasi individual para profesor, tetapi juga menunjukkan kematangan institusional UIN Mataram sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam yang dinamis dan relevan dengan zaman.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag menekankan bahwa keberhasilan para Guru Besar yang dikukuhkan hari ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia secara khusus menyampaikan apresiasi mendalam kepada para istri hebat yang berdiri di balik capaian akademik tersebut.
Menurut Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag, dukungan para istri tidak semata dalam bentuk tenaga dan pikiran, tetapi juga doa-doa yang melangit, yang menjadi energi spiritual dalam perjalanan panjang meraih jabatan akademik tertinggi.
Rektor UIN Mataram juga menegaskan bahwa keberhasilan menjadi Guru Besar bukanlah capaian individual semata, melainkan hasil dari ekosistem kebersamaan. Ada motivasi dari sahabat sejawat, masukan kritis dari rekan akademisi, doa tulus dari keluarga, serta harapan dan doa khalayak jamaah yang terus mengiringi. Semua entitas pendukung tersebut berpadu membentuk fondasi kokoh bagi lahirnya seorang profesor.
“Mencapai Guru Besar itu tidak mudah,” tegas Rektor. Oleh karena itu, ia mengajak para Guru Besar yang dikukuhkan untuk bersyukur secara mendalam, karena telah sampai pada capaian yang luar biasa, yang menuntut ketekunan intelektual, konsistensi karya ilmiah, dan ketangguhan spiritual dalam waktu yang panjang.
Lebih jauh, Rektor menyampaikan optimisme terhadap masa depan UIN Mataram. Dengan jumlah Guru Besar yang kini mencapai 69 orang, UIN Mataram, menurutnya, akan terus berupaya menambah deretan profesor.

Dekan FTK UIN Mataram, Prof,. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd bersama Guru Besar lainnya ketika berlangsung prosesi Pengukuhan 4 Guru Besar UIN Mataram pada Rabu, 7/1/26
Dalam Sambutannya, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag menggunakan metafora yang puitis dan inspiratif: “Langit UIN Mataram masih sangat luas untuk menampakkan cahaya bintang para Guru Besar. Langit ini bahkan mampu menampung ratusan bintang.” Karena itu, ia mengajak seluruh dosen UIN Mataram untuk bahu-membahu dan saling menguatkan dalam meraih jabatan akademik tertinggi tersebut.
Namun demikian, Rektor mengingatkan bahwa Guru Besar tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari realitas sosial. Guru Besar, menurutnya, harus hadir di tengah masyarakat, berkiprah nyata, dan memberi pencerahan melalui keilmuan yang dimiliki, sehingga ilmu tidak berhenti di ruang kelas atau jurnal, tetapi hidup dalam denyut kehidupan umat.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga mengomentari orasi ilmiah para Guru Besar yang dikukuhkan, yakni Prof. Dr. H. Sainun, M.Ag (kepakaran Antropologi Hukum Islam), Prof. Dr. H. Fathurrahman Mukhtar, M.Ag (Pendidikan Agama Islam Kontemporer), Prof. Dr. H. Muhammad Taufiq, Lc., M.H.I (Ilmu Tafsir), dan Prof. Dr. H. Subki, M.Pd.I (Manajemen Pendidikan Islam).
Rektor menyatakan bahwa pengukuhan Guru Besar ke-66, 67, 68, dan 69 UIN Mataram bukan sekadar penambahan angka dalam deretan profesor, melainkan tonggak bersejarah yang menegaskan keluasan, kedalaman, sekaligus integrasi khazanah keilmuan yang tumbuh dan bersemi di kampus ini.

Keluarga turut hadiri menyaksikan pengukuhan 4 Guru Besar UIN Mataram
Kepakaran Antropologi Hukum Islam dipandang memiliki peran strategis dalam menjembatani nilai-nilai normatif syariat dengan realitas sosial dan budaya masyarakat yang beragam, sehingga hukum Islam tidak hadir secara kaku, tetapi hidup, membumi, dan kontekstual. Sementara itu, Pendidikan Agama Islam Kontemporer menegaskan komitmen UIN Mataram dalam merespons dinamika zaman dengan pendekatan yang moderat, dialogis, dan transformatif—mendidik generasi yang beriman, berpikir kritis, serta mampu berinteraksi secara arif di tengah kompleksitas masyarakat modern.
Di sisi lain, kepakaran Ilmu Tafsir menjadi penopang fundamental bagi pengembangan keilmuan Islam, dengan menghidupkan Al-Qur’an tidak hanya sebagai teks suci yang dibaca, tetapi sebagai sumber inspirasi intelektual, etika sosial, dan peradaban yang terus relevan lintas ruang dan waktu.
Adapun Manajemen Pendidikan Islam memperlihatkan keseriusan UIN Mataram dalam memperkuat tata kelola pendidikan yang profesional, akuntabel, dan berdaya saing, tanpa kehilangan ruh nilai-nilai keislaman.
Rektor menegaskan bahwa keseluruhan kepakaran tersebut saling melengkapi dan membentuk satu ekosistem keilmuan yang utuh, menjadikan UIN Mataram bukan hanya sebagai pusat produksi pengetahuan, tetapi juga sebagai pusat pencerahan, pengabdian, dan transformasi sosial yang berorientasi pada masa depan.
“Keseluruhan kepakaran ini,” ujar Rektor, “menjadi peneguh peran UIN Mataram sebagai pusat keunggulan akademik yang berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam, sekaligus berorientasi ke masa depan.”
Pengukuhan ini pun disambut hangat oleh sivitas akademika dan para tamu undangan, sebagai penanda bahwa UIN Mataram terus melangkah mantap menebarkan cahaya ilmu, menghadirkan bintang-bintang akademik yang menerangi kampus, masyarakat, dan peradaban. (Humas UIN Mataram)
Pewarta: TIM


0 Komentar