Isra Mikraj dan Kesadaran Kosmik: Perjalanan Spiritual untuk Relasi Manusia dan Alam, Oleh Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd

Hikmah Jum`at, 9 Januari 2026

SETIAP 
peringatan Isra’ dan Mi‘raj, umat Islam kerap larut dalam kisah keagungan perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus ruang dan waktu. Kita membayangkan malam yang sunyi, Buraq yang melesat cepat, dan lapisan-lapisan langit yang terbuka satu per satu. Namun, di balik kisah spektakuler itu, ada pesan yang sering luput dari perenungan kita: Isra’ dan Mi‘raj bukan hanya tentang perjalanan ke langit, tetapi juga tentang bagaimana manusia seharusnya berpijak di bumi.

Di tengah krisis ekologi global—banjir, kekeringan, perubahan iklim, dan rusaknya ekosistem—peristiwa Isra’ dan Mi‘raj justru terasa semakin relevan. Ia bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan narasi spiritual yang menata ulang relasi manusia dengan alam semesta.

Perjalanan Malam dan Bumi yang Diberkahi

Al-Qur’an membuka kisah Isra’ dengan kalimat yang sangat kuat: ”Subḫânalladzî asrâ bi‘abdihî lailam minal-masjidil-ḫarâmi ilal-masjidil-aqshalladzî bâraknâ ḫaulahû linuriyahû min âyâtinâ…” Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya… (QS. Al-Isra’: 1)

Kata “diberkahi sekelilingnya” jarang dibaca sebagai pesan ekologis. Padahal, keberkahan dalam Al-Qur’an sering kali terkait langsung dengan kesuburan tanah, keseimbangan alam, dan kelangsungan hidup makhluk. Masjidil Aqsha dan wilayah sekitarnya bukan hanya suci secara teologis, tetapi juga kaya secara ekologis.

Isra’ mengajarkan bahwa tempat-tempat suci dalam Islam tidak pernah terpisah dari alam. Kesakralan tidak berdiri di ruang hampa; ia tumbuh bersama pepohonan, tanah, air, dan udara. Dengan kata lain, merusak lingkungan di sekitar ruang-ruang suci berarti mencederai makna kesucian itu sendiri.

Mi‘raj dan Kesadaran Kosmik

Jika Isra’ menghubungkan bumi-bumi yang diberkahi, maka Mi‘raj memperkenalkan manusia pada tatanan kosmos. Nabi Muhammad SAW diperlihatkan langit berlapis-lapis, bertemu para nabi, hingga mencapai Sidratul Muntaha—batas pengetahuan makhluk.

Mi‘raj menyampaikan satu pesan penting: alam semesta tidak berjalan secara acak. Ia tunduk pada hukum, ukuran, dan keseimbangan yang ditetapkan Allah. Al-Qur’an menyebut keseimbangan itu sebagai mīzān:“was-samâ’a rafa‘ahâ wa wadla‘al-mîzân, a llâ tathghau fil-mîzân”. Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia letakkan keseimbangan, agar kamu tidak merusak keseimbangan itu. (QS. Ar-Rahman: 7–8)

Krisis lingkungan hari ini sejatinya adalah krisis pelanggaran terhadap mīzān. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, laut dieksploitasi berlebihan, dan udara dicemari tanpa tanggung jawab, manusia sedang bertindak seolah-olah alam tidak memiliki hukum. Mi‘raj mengingatkan: bahwa melanggar keseimbangan alam sama seriusnya dengan melanggar hukum moral.

Dalam karyanya yang berpengaruh, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man, Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr, menegaskan bahwa ketika manusia memutus hubungan spiritualnya dengan alam, maka alam kehilangan kesuciannya dan berubah menjadi komoditas semata. Isra’ dan Mi‘raj, dalam pandangan kosmologi Islam yang ia tawarkan, justru mengembalikan manusia pada posisi aslinya sebagai ‘abd dan khalifah—hamba yang tunduk kepada Tuhan dan penjaga keseimbangan kosmos. Perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus lapisan-lapisan langit bukanlah legitimasi untuk menaklukkan alam, melainkan penyingkapan hierarki wujud yang menuntut manusia bersikap rendah hati dan bertanggung jawab terhadap bumi.

Lebih jauh, dalam Religion and the Order of Nature, Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr menegaskan bahwa setiap tradisi agama yang otentik selalu mengandung etika ekologis implisit, karena alam dipandang sebagai manifestasi keteraturan ilahi. 


Dalam kerangka ini, Mi‘raj tidak dapat dilepaskan dari Isra’: kenaikan spiritual ke hadirat Tuhan harus berujung pada komitmen etis saat kembali ke bumi. Maka, merawat lingkungan bukanlah agenda sekuler yang ditempelkan ke dalam agama, tetapi konsekuensi langsung dari kesadaran spiritual yang utuh.

Salat: Ibadah Langit yang Membumi

Puncak Mi‘raj bukanlah panorama langit, melainkan perintah salat. Menariknya, ibadah yang diterima di langit justru harus dikerjakan di bumi, lima kali sehari.

Secara ekologis, salat adalah latihan kesadaran lingkungan. Salat membutuhkan air yang bersih untuk bersuci, tempat yang bersih untuk sujud, serta ketepatan waktu yang selaras dengan pergerakan matahari. Semua ini mengajarkan bahwa ibadah tidak pernah terlepas dari ekologi.

Seseorang yang benar salatnya akan sulit bersikap serampangan terhadap alam. Ia sadar bahwa air adalah amanah, tanah adalah tempat sujud, dan waktu adalah bagian dari keteraturan kosmik.

Salah satu akar krisis ekologi modern adalah cara pandang antroposentris—manusia merasa sebagai pusat dan penguasa mutlak alam. Isra’ dan Mi‘raj justru menghancurkan cara pandang ini.

Dalam peristiwa itu, Nabi Muhammad SAW disebut sebagai ‘abd (hamba), bukan sebagai penguasa. Ia menembus langit bukan untuk menaklukkannya, tetapi untuk menyaksikan kebesaran Tuhan. Ini adalah pesan teologis yang sangat ekologis: manusia bukan pemilik bumi, melainkan tamu yang diberi amanah.

Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas:“Dhaharal-fasâdu fil-barri wal-baḫri bimâ kasabat aidin-nâsi”. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia… (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini bukan sekadar peringatan moral, tetapi juga diagnosis ekologis yang sangat akurat.

Di tengah kegelisahan ekologis, Isra’ dan Mi‘raj dapat dibaca sebagai narasi penyembuhan (eco-healing). Perjalanan Nabi SAW adalah perjalanan pemulihan: dari tekanan sosial di bumi menuju penguatan spiritual di langit, lalu kembali lagi ke bumi dengan misi yang lebih matang.

Pesannya jelas, bahwa penyembuhan bumi harus dimulai dari penyembuhan kesadaran manusia. Tidak ada solusi ekologis yang murni teknis tanpa transformasi spiritual.


Pada akhirnya, Isra’ dan Mi‘raj mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada langit, tetapi diuji di bumi. Merawat lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial atau ekologis, melainkan bukti keberhasilan perjalanan spiritual. Jika Isra’ dan Mi‘raj hanya kita peringati sebagai kisah menakjubkan tanpa mengubah cara kita memperlakukan alam, maka kita kehilangan inti pesannya. Langit telah memberi pelajaran; kini bumi menunggu tanggung jawab kita.

Sebagai catatan pinggir, bahwa Isra’ dan Mi‘raj adalah undangan ilahi untuk melihat dunia dengan cara yang lebih utuh—spiritual sekaligus ekologis. Ia mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak pernah menjauh dari bumi, melainkan justru melewatinya dengan penuh tanggung jawab.

Menjaga bumi, dalam kerangka Isra’ dan Mi‘raj, bukan pilihan tambahan—melainkan bagian dari perjalanan iman itu sendiri. Artinya Isra’ dan Mi‘raj tidak hanya mengajarkan kedekatan spiritual kepada Allah, tetapi juga menegaskan tanggung jawab etis manusia sebagai khalifah di bumi. Isra’ melambangkan perjalanan di ruang duniawi, sementara Mi‘raj merepresentasikan kenaikan spiritual; keduanya menyatu dalam satu kesadaran iman yang utuh. 

Karena itu, menjaga bumi bukan sekadar aktivitas sosial atau ekologis, melainkan manifestasi konkret dari iman yang hidup—sebab spiritualitas yang benar tidak hanya mengarah ke langit, tetapi juga berpijak dan merawat bumi sebagai amanah ilahi.

Prof. DR. H. Maimun Zubair adalah: 
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan- UIN Mataram


0 Komentar