
Hikmah Jum`at, 30 januari 2026
Dalam banyak momen, kita sering merasa sedang bertindak atas nama kebaikan dan keadilan, padahal yang terjadi kadang hanya reaksi spontan terhadap sikap orang lain. Kita tersenyum karena dipuji, marah karena diremehkan, dan berubah sikap sesuai dengan situasi yang menekan perasaan kita.
Sebelum menguari tentang kehidupan yang didekte oleh orang lain, sebaiknya kita renungkan kisah berikut:
SUATU ketika seorang laki-laki beserta anaknya membawa seekor keledai untuk dijual di pasar. Di tengah jalan beberapa orang melihat mereka dan tertawa kecil, “Lihatlah orang tua itu dia membiarkan anaknya yang masih kecil berjalan sementara ia duduk enak di atas keledai itu”.
Laki-laki itu mendengar perkataan orang tersebut. Ia lalu meminta anaknya untuk naik ke atas keledai. Tak berapa lama berjalan, seorang perempuan melihat mereka, dan berkata, “Sudah terbalik dunia ini! sunguh anak tidak tahu diri! ia enak-enakan di atas keledai sedangkan ayahnya yang tua dibiarkan berjalan.” Kali ini sang anak pun turun dari punggung keledai dan membiarkan ayahnya yang menaiki keledai tersebut. Beberapa saat kemudian mereka berpapasan dengan seorang gadis muda, lantas ia pun berkata kepada orang tua itu, “Mengapa kalian berdua tidak menaiki keledai itu bersama-sama?”.
Mereka menuruti nasihat gadis muda itu. Tidak lama kemudian sekelompok pemuda melewati ayah dan anak ini lantas mereka pun berkata “Binatang malang, ia menanggung beban 2 orang gemuk tak berguna, ternyata masih ada orang sekejam itu di dunia ini!”. Sampai di sini, ayah dan anak itu sudah muak dengan perkataan semua orang yang mereka dengar sepanjang perjalanan, lantas sang ayah pun berkata, manusia-manusia ini tidak akan pernah berhenti berbicara walaupun keledai ini sudah kita panggul.
Kisah sederhana tentang ayah, anak, dan keledai ini bukan sekadar dongeng perjalanan, melainkan cermin jujur tentang bagaimana manusia kerap kehilangan arah ketika hidupnya terlalu peka terhadap penilaian orang lain. Setiap perubahan sikap dalam kisah tersebut, lahir bukan dari prinsip, melainkan dari respons atas komentar yang terus berganti. Dari titik inilah uraian di dalam artikel ini ditulis, untuk menelusuri bagaimana kehidupan manusia perlahan kehilangan eksistensinya ketika keputusan, sikap, dan nilai hidup lebih banyak ditentukan oleh suara di luar dirinya daripada kompas moral dan kesadaran batin yang ia miliki sendiri.
Sering kali kita merasa telah hidup dengan benar dan memilih jalan sendiri, padahal tanpa sadar arah hidup dan sikap kita kadang justru sedang digerakkan oleh orang lain. Ketahuilah bahwa “Jika kita berbuat baik kepada orang lain karena orang itu telah berbuat baik kepada kita, atau jika kita berbuat buruk kepada orang lain karena orang itu telah berbuat buruk kepada kita, maka hidup kita sesungguhnya sedang didikte oleh orang lain.” Statemen ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik yang sangat tajam terhadap cara kita menjalani hidup, mengambil keputusan, dan menata sikap moral.
Tanpa disadari, kita hidup bukan sebagai manusia yang merdeka, melainkan sebagai reaksi dari respons spontan terhadap perlakuan orang lain. Jika dipuji, kita merasa menjadi orang baik. Jika disakiti, kita merasa harus membalas. Jika dihormati, kita merasa berkewajiban untuk santun. Jika diremehkan, kita merasa pantas untuk berubah kasar. Maka pada titik ini, sungguh arah hidup kita bukan ditentukan oleh prinsip yang kita ciptakan sendiri, melainkan oleh perilaku orang di sekitar kita.
Hidup yang bermartabat bukanlah hidup yang reaktif, melainkan yang reflektif. Hidup reaktif adalah hidup yang dikendalikan dari luar—emosi, sikap, bahkan keputusan moral kita bergantung pada apa yang dilakukan orang lain. Dalam kondisi ini, kita seolah kehilangan kedaulatan diri. Orang lain—tanpa kita sadari—menjadi “sutradara” bagi perilaku kita.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa manusia yang paling lemah adalah mereka yang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Dalam Ihya’ Ulumuddin, ia menjelaskan bahwa salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah ketika manusia menggantungkan ketenangan batinnya pada sikap manusia lain, bukan pada prinsip kebenaran dan merasakan kehadiran Allah. Orang semacam ini akan selalu gelisah, sebab dunia tidak pernah konsisten memperlakukannya dengan adil.
Hidup yang dikendalikan oleh reaksi juga membuat kita mudah lelah secara emosional, karena terus-menerus berada dalam mode “membalas”: membalas kebaikan, membalas keburukan, membalas penghinaan, membalas luka.
Tanpa sadar, hidupnya habis untuk merespons, bukan untuk mengarahkan.
Ingatlah bahwa Islam membawa pesan pembebasan—membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia menuju penghambaan yang murni kepada Tuhan. Ketika seseorang hanya tunduk pada nilai Ilahiah, ia tidak lagi mudah didikte oleh manusia. “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Ma’idah: 8).
Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan—dan secara lebih luas, kebaikan—tidak boleh bergantung pada perlakuan orang lain. Bahkan kebencian sekalipun tidak boleh menggeser kompas moral seorang mukmin. Artinya, nilai hidup seorang beriman harus lebih kuat daripada emosinya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menegaskan bahwa kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya menjaga sikap yang benar, bahkan ketika situasi mendorongnya untuk tergelincir. Menurutnya, orang yang membalas keburukan dengan keburukan, sejatinya hanya mengikuti dorongan nafsu, bukan cahaya akal dan iman.
Berbuat baik karena orang lain berbuat baik adalah hal yang wajar, tetapi jika itu menjadi satu-satunya alasan kita berbuat baik, maka kebaikan itu rapuh. Ia akan runtuh ketika apresiasi berhenti. Ia akan lenyap ketika sikap orang lain berubah.
Ingatlah, bahwa kebaikan sejati lahir bukan dari timbal balik sosial, melainkan dari kesadaran nilai dan orientasi ilahiah. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan” (QS. An-Nahl: 90).
Perintah ini bersifat mutlak, tanpa syarat. Allah tidak mengatakan “berbuat baiklah jika orang lain baik kepadamu”, tetapi berbuat baiklah karena itu adalah nilai yang benar.
Rabi’ah al-Adawiyah bahkan membawa pesan ini ke tingkat yang lebih dalam. Baginya, kebaikan dan ibadah tidak boleh didasarkan pada harapan balasan atau ketakutan hukuman, apalagi sekadar respons sosial. Jika seseorang berbuat baik hanya karena diperlakukan baik, maka pusat hidupnya bukanlah Tuhan atau nilai, melainkan manusia.
Salah satu ajaran paling revolusioner dalam Islam adalah perintah untuk membalas keburukan dengan kebaikan: “Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik” (QS. Fussilat : 34).
Ayat ini bukan sekadar tuntutan moral, tetapi strategi pembebasan jiwa. Ketika kita memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, kita sedang menarik kembali kendali hidup kita dari tangan orang lain. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Jangan jadikan orang lain sebagai ukuran dalam menentukan kondisi dirimu.” Ungkapan ini menegaskan bahwa martabat manusia terletak pada konsistensi nilai, bukan pada reaksi emosional.
Membalas kebaikan dengan kebaikan memang mudah. Tetapi membalas keburukan dengan kebaikan membutuhkan kematangan spiritual. Namun justru di situlah letak kebebasan sejati: ketika seseorang tetap baik bukan karena dunia bersikap adil kepadanya, tetapi karena ia memilih kebaikan sebagai jalan hidupnya.
Umar bin Khattab pernah berpesan, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Introspeksi ini bukan sekadar evaluasi dosa, tetapi juga evaluasi motivasi. Tanpa kesadaran ini, manusia mudah mengira dirinya bermoral, padahal ia hanya sedang mengikuti arus emosi dan situasi.
Sebagai catatan pinggir, bahwa menjadi manusia merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja, melainkan bebas dari dikte emosi, reaksi, dan tekanan sosial. Orang yang merdeka adalah mereka yang tetap berbuat baik meski tidak dihargai, tetap adil meski disakiti, dan tetap tenang meski diperlakukan tidak adil.
Ketika kita berbuat baik bukan karena orang lain telah berbuat baik kepada kita, dan menahan diri dari keburukan meski orang lain menyakiti, saat itulah kita sedang menegaskan kedaulatan jiwa. Kita tidak lagi hidup sebagai bayangan orang lain, tetapi sebagai manusia yang berjalan di atas prinsip yang tegas.
Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd :
Guru Besar dan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram

0 Komentar