BidikNews.net,NTB - Di saat sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpi, geliat kehidupan sudah dimulai di hamparan ladang Desa Bug-Bug. Mulai pukul 01.00 dini hari, cahaya lampu senter mulai berpendar di antara barisan tanaman kangkung, bayam, dan sawi.
Mereka adalah para pekerja wanita—sosok tangguh yang menjadi tulang punggung rantai pasok sayuran di wilayah ini.
Dedikasi di Bawah Langit Malam
Para wanita ini bekerja dengan ketelitian tinggi dalam kegelapan malam hingga pukul 08.00 pagi.
Dengan upah sebesar Rp25.000 per malam, mereka mampu menghasilkan rata-rata 8 bak sayuran segar dalam satu kali shift kerja.
Sistem distribusi di Desa Bug-Bug tergolong efisien; hasil panen yang baru saja dipetik tidak perlu menunggu lama untuk dipasarkan.
Para pengepul langsung mendatangi lokasi panen untuk mengambil sayuran tersebut, memastikan kualitas "hijauan" tetap segar saat sampai ke tangan konsumen di pasar.
Potensi besar ini menarik perhatian tim KKN PMD Universitas Mataram (Unram) Desa Bug-Bug periode 2025/2026. Tidak hanya sekadar melakukan observasi, para mahasiswa turun langsung ke ladang pada dini hari untuk membantu proses panen bersama warga.
"Kehadiran kami di sini adalah untuk merasakan langsung perjuangan para petani wanita sekaligus membantu mempublikasikan potensi luar biasa yang dimiliki Desa Bug-Bug," ujar salah satu perwakilan tim KKN.
Keterlibatan mahasiswa KKN ini bertujuan untuk memberikan sorotan lebih luas terhadap komoditas sayur mayur Desa Bug-Bug.
Melalui publikasi digital dan dokumentasi kegiatan, diharapkan masyarakat luas dapat lebih mengenal Desa Bug-Bug sebagai sentra sayuran berkualitas yang dikelola oleh tenaga kerja wanita yang berdedikasi.
Meski bekerja dalam sunyinya malam dengan upah yang tergolong sederhana, semangat para wanita Desa Bug-Bug menjadi bukti nyata bahwa ketahanan pangan daerah bermula dari kerja keras di tingkat desa.
Pewarta: Tim

0 Komentar