Resiko Pemimpin, Rahmat atau Laknat

Gambar: Ilustrasi BidikNews.net
Pemimpin adalah bayangan amal rakyatnya. Jika mereka lurus, maka pemimpin mereka lurus. Jika mereka rusak, Allah kuasakan atas mereka pemimpin yang serupa dengan mereka.” - Ibn Taymiyyah 

BidikNews.net,NTB - Menjadi pemimpin itu berisiko rahmat atau laknat. Tergantung dari menunaikan amanat atau khianat. Dari berbagai sumber menyebutkan, Pemimpin harus betul memperhatikan kepentingan rakyat yang dipimpinnya bukan berorientasi pada kepentingan dirinya sendiri yang hanya untuk menumpuk kekuasaan atau kekayaan. Pemimpin demikian pasti dibenci oleh rakyat.

Fenomena pemimpin yang melaporkan rakyat ke pihak kepolisian sering kali menjadi perbincangan publik dan menimbulkan debat etika serta hukum. 

Kasus Terbaru April 2026, Gubernur NTB dilaporkan memolisikan seorang individu bernama Saraa Azahra terkait dugaan pelanggaran data pribadi.

Fenomena pejabat yang memolisikan warga sering dianggap sebagai bentuk tindakan defensif atau upaya memberikan efek jera, yang terkadang membuat masyarakat kesal karena dianggap sebagai pekerjaan tambahan bagi publik.

Islam memberikan peringatan keras bahwa pemimpin yang menzalimi rakyatnya akan dituntut di hari kiamat.

Pemimpin yang baik seharusnya bertindak demokratis, menerima saran dan kritik, serta menganggap bawahan/rakyat sebagai pihak yang termulia, bukan malah mencurigai atau menindas mereka.

Dalam konteks demokrasi, tindakan hukum oleh pemimpin terhadap rakyat sering kali dilihat sebagai indikator kedewasaan berpolitik, di mana pelaporan sebaiknya menjadi jalan terakhir setelah upaya klarifikasi (tabayyun) atau dialog.

Pemimpin dalam konsep Islam menjadi mutlak, dan karena itu wajib dihormati dan ditaati, karena tugas pemimpin tiada lain kecuali menyejahterakan umatnya. Adagium yang terkenal tentang kepemimpinan adalah Tindakan dan kebijakan terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. 

Sebuah negeri bisa bertahan dengan keadilan, sementara bisa hancur dengan kezaliman. Namun keadilan pemimpin tidak mungkin hadir tanpa ada kesadaran kolektif dari rakyat untuk menegakkan kebenaran. Dengan kata lain, rakyat dan pemimpin terikat dalam hubungan timbal balik yang tidak bisa dipisahkan.

"asyaddunnaasi 'adzaban yaumil qiyamati imamun ja-ir" (orang yang paling pedih siksa di hari kiamat adalah pemimpin yang zalim/curang)--HR Thabrani.

Allah SWT mengingatkan akan adanya pemimpin yang pura-pura bercitra baik, bahkan dalam beragama, sehingga orang pun kagum dan terkecoh, padahal dia orang yang paling keras dalam kezaliman.

"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, bahkan dipersaksikan kepada Allah, padahal ia adalah penentang (agama) yang paling keras" (QS Al Baqarah 204).

Oleh karenanya hendaklah pemimpin itu tidak bermain-main dalam melaksanakan peran kepemimpinannya. Adalah keliru untuk masa bodoh dengan kejengkelan atau kebencian rakyatnya.

Sadarlah bahwa semua amal bumi berdampak langit. Tuhan itu Maha Mendengar dan Maha Melihat. Adzab-Nya dapat datang dengan cepat dan tiba-tiba.

Pewarta: Dae Ompu



0 Komentar