Ada banyak dari kita yang meninggalkan kampung halaman untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, entah itu untuk mendapatkan pendidikan atau lainnya, yang paling banyak untuk bekerja mencari nafkah. Tetapi tak sedikit pula yang pulang kampung untuk mengabdi pada tempat kelahiran.
Bagi Ilyas, pulang ke kampung halaman bukan sekadar perjalanan fisik tetapi adalah ziarah batin, pengingat tentang dimana dirinya mulai hadir ke dunia.
BidikNews.net,NTB - Pulang kampung untuk mengabdi adalah wujud nyata kontribusi perantau membangun daerah asal dengan keahlian, pengalaman, atau sumber daya yang dimiliki.
Langkah ini sering dilakukan melalui inisiatif menjadi Kepala Desa Bupati Gubernur dan anggota DPRD guna meningkatkan kesejahteraan dan memajukan kampung halaman.
Hal ini juga yang menjadi pemantik nurani seorang Ilyas Yasin yang kini tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti pesta demokrasi pemilihan Kepala Desa di tempat kelahirannya, Desa Timu Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Mendapat pengalaman hidup di Kota Mataram (Ibukota Provinsi NTB), tempat di mana banyak orang daerah lain bermimpi untuk kehidupan nan lebih baik.
Namun setelah melewati berbagai pengalaman itu seakan ada bisikan yang memanggil seorang Ilyas Yasin untuk pulang. Panggilan itu pun semakin lantang ketika tercetus keinginan mengabdi kepada masyarakat untuk menjadi Kepala Desa.
Saya merasa seperti punya tanggung jawab untuk bisa berkontribusi pada kampung halaman. Meski sedikit. ” Kata Ilyas kepada media ini singkat.
Kerinduan untuk pulang itu ternyata tanpa disengaja justru membuat saya menelisik kampung halaman lebih dalam.” Ujar Ilyas.
Muncul begitu banyak pertanyaan dari dalam diri yang menimbulkan kegelisahan. Saya melihat Desa Timu memiliki 2 sisi di mana terdapat potensi yang dapat bermanfaat untuk masyarakat tetapi tidak luput dari sejumlah permasalahan di tengahnya.
Belum lagi dengan jumlah pemuda yang banyak memiliki potensi besar untuk terus berkembang, ditunjang kondisi pertanian yang memadai sehingga membutuhkan perhatian besar agar nantinya memperoleh hasil yang berlimpah yang mengantarkan masyarakat semakin makmur.
Kondisi itu membuat Ilyas berusaha hadir bersama masyarakat dengan segala kemampuan untuk memberikan solusi-solusi alternatif pada masyarakat Desa Timu.
Namun keputusan saya untuk hidup baru di kampong halaman bukannya tanpa tantangan. Saya harus terus-menerus meyakinkan keluarga dan diri sendiri bahwa saya bisa berbuat dan berbhakti untuk kampung.
Perjalanan menebarkan kesadaran pada masyarakat di desa kelahiran tentang permasalahan di dalamnya juga tidak semudah membalik telapak tangan. Tentu saja saya tidak mau menambah masalah baru atau menjadi bagian dari masalah itu apabila saya berusaha mengubah kebiasaan mereka.” Kata Ilyas.
Oleh sebab itu saya berupaya untuk mendapatkan kepercayaan mereka terlebih dahulu dengan cara-cara yang sederhana dan kontekstual.” Ujar pria yang memiliki jiwa sosial tinggi itu.
Kampung halaman identik dengan masa kecil, kesederhaan, dan kehangatan keluarga, sahabat. Maka itu, kampung halaman selalu terasa spesial, disaat kita kembali berkumpul bersama.
Saya ingin kembali karena saya merindukan masa kecil bersama mereka, rindu pada mereka yang tua-tua, rindu pada sahabat dan keluarga dan saya berkeyakinan bahwa belajar bagaimana melakukan sesuatu di kampung halaman adalah hal yang paling penting dengan membuat segalanya lebih baik, " kata Ilyas dengan nada yakin.
Kampung halaman adalah tempat cerita dimulai, dan niat untuk pulang kampun sekaligus merawat rindu yang tak pernah pudar,” ujarnya tersenyum.
Saya lahir dan tumbuh di di desa Timu kecamatan Bolo kabupaten Bima, sebuah desa yang penuh kenangan yang senantiasa menjaga ketenangan hidup warganya.
Kenyataan itu saya sikapi dengan rasa syukur sebagai kehendak Tuhan yang terbaik untuk diri saya. Saya bangga dan cinta kampung halaman sebagai ibu yang harus saya cintai.
Namun, takdir mengarahkan saya untuk meninggalkan tanah itu saat kelas empat sekolah dasar. Pindah ke Lombok, dengan napas yang lebih cepat, mengajarkan saya banyak hal tentang dunia, tetapi sekaligus memahatkan rindu yang tak pernah benar-benar sembuh di hati pada kampung halaman.
Meski lama meninggalkan kampung halaman, namun cinta kepada kampung halaman tak pernah pudar. Ia tak bisa tergantikan, tak lekang oleh waktu. Bahkan setelah puluhan tahun merantau, rasa cinta itu tetap mengakar, menembus jarak dan tahun.” Ucap Ilyas penuh romantis.
Ada sesuatu yang hilang jika setahun berlalu tanpa kepulangan ke kampung haklaman. Jiwa ini seakan mengering, seperti tanah yang lama tak tersentuh hujan.
Kehidupan di perantauan bisa saja menawarkan kenyamanan material, tetapi kampung halaman adalah rumah bagi rasa—tempat di mana jiwa menemukan pelabuhan damai.
Pulang adalah menyalakan kembali pelita yang nyaris padam, mengisi ruang kosong dalam hati yang terasa hampa.” Tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Yang paling saya rindukan tentu rumah orang tua. Rumah itu, dengan tiang kayunya yang kokoh dan atapnya yang melindungi, adalah saksi bisu dari cerita masa kecil.
Melangkah masuk ke sana, saya selalu disergap rasa hangat, seolah dipeluk oleh kenangan yang tak pernah memudar. Lalu ada makam ibu, tempat saya bersimpuh, merajut doa, dan mengenang kehangatan kasihnya.
Tak kurang pentingnya adalah keindahan alamnya. Sawah yang luas membentang, hijau seperti permadani surga. Melihat tempat-tempat itu, waktu seakan melipat diri sendiri.
Saya merasa kembali ke masa kecil, saat tawa dan kebebasan adalah teman sehari-hari. Rindu ini adalah lorong waktu, mengantarkan saya pada momen-momen kecil yang membentuk siapa saya hari ini.
Bagi Ilyas, pulang ke kampung halaman bukan sekadar perjalanan fisik tetapi adalah ziarah batin, pengingat tentang dimana dirinya mulai hadir ke dunia.
“Dari kampung halaman, saya belajar bahwa hidup ini adalah perjalanan, dan setiap langkah yang telah diambil adalah pelajaran.” Kata Ilyas.
Di sanalah nantinya tempat saya merenung, menyusun agenda hidup, dan memastikan langkah ke depan lebih terarah bersama masyarakat yang saya rindukan.
Rindu kepada kampung halaman bagi seorang Ilyas adalah tali yang mengikat diri pada akar. Ia adalah benang merah yang menjahit seluruh cerita hidup, dari masa lalu hingga masa kini.
Setiap kali saya kembali ke kampung halaman, saya seperti menemukan diri saya yang sejati. Di sana, saya tidak hanya pulang ke kampung halaman. Saya pulang ke hati saya sendiri,” tutup Ilyas.
Pewarta: Dae Ompu

0 Komentar