Di antara surah paling pendek dalam Al-Qur’an, ada satu surah yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya memuat pesan kemanusiaan yang sangat besar, yaitu Surah Al-Kautsar. Hanya tiga ayat, sangat singkat, mudah dihafal oleh anak-anak, tetapi kedalaman maknanya seakan tidak pernah habis digali. Dalam surah itu, Allah memberikan dua amanah besar sekaligus: salat dan qurban.
Hikmah Jum`at, 22 Mei 2026
“Innâ a‘thainâkal-kautsar. fa shalli lirabbika wan-ḫar”.Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. (QS. Al Kautsar : 1-2)
Mengapa hanya dua itu? Mengapa setelah Allah menyebut nikmat yang melimpah, Allah tidak memerintahkan manusia mengejar kekayaan, jabatan, atau popularitas? Mengapa justru salat dan qurban yang dipilih menjadi inti pesan?
Barangkali di situlah rahasia besar yang ingin Allah tanamkan kepada kita, bahwa hidup tidak akan pernah sehat tanpa hubungan yang baik dengan Tuhan dan tanpa kepedulian terhadap sesama. Salat adalah jalan menjaga hati agar tetap hidup di hadapan Allah, sedangkan qurban adalah jalan menjaga hati agar tetap hidup di hadapan manusia.
Di era sekarang, mungkin banyak orang masih mau salat, tetapi belum tentu mau berqurban. Banyak yang rajin membangun simbol-simbol kesalehan pribadi, tetapi berat mengeluarkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain. Padahal dalam surah Al-Kautsar, Allah seakan sengaja menyandingkan salat dan qurban agar manusia memahami bahwa spiritualitas sejati tidak boleh berhenti pada sajadah, tetapi harus turun menjadi kasih sayang sosial.
Salah satu penyakit yang paling berbahaya dalam kehidupan modern adalah “keras sosial.” Keras sosial adalah keadaan ketika hati manusia tidak lagi mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Ia mungkin masih bisa tertawa di rumah mewahnya, tetapi tidak lagi peduli pada tetangga yang kesulitan makanan. Ia mungkin masih rajin beribadah, tetapi kehilangan empati terhadap jeritan kaum dhuafa. Hatinya menjadi tumpul dan nuraninya membeku. Dan salah satu tanda keras sosial itu adalah enggan berqurban padahal dia mampu.
Keengganan berqurban itu bukan karena tidak punya harta, tetapi karena terlalu mencintai hartanya. Bukan karena tidak mampu membeli hewan qurban, tetapi merasa sayang jika hartanya “berkurang” karena diberikan untuk orang lain. Dalam kondisi seperti ini, sesungguhnya yang sedang dipertahankan bukan uang, melainkan ego dan rasa kepemilikan yang berlebihan.
Ketika seseorang rela membeli hewan qurban lalu membagikannya kepada masyarakat, sesungguhnya ia sedang dididik menjadi manusia yang tidak diperbudak oleh dunia. Ia sedang belajar bahwa harta hanyalah titipan dan sedang melatih jiwanya agar tidak menjadi keras. Karena itu, qurban sebenarnya sedang menyembelih sifat rakus, cinta dunia yang berlebihan, dan ketidakpedulian sosial.
Mungkin inilah sebabnya mengapa setelah perintah salat di dalam surat al-Kautsar, Allah langsung memerintahkan qurban. Seolah Allah ingin mengatakan: “Jangan biarkan ibadahmu hanya berhenti di langit, tetapi turunkanlah ia menjadi rahmat di bumi.”
Sebab ada orang yang lama sujudnya, tetapi pendek kasih sayangnya. Ada yang rajin ke masjid, tetapi tidak pernah berpikir tentang dapur orang miskin. Ada yang fasih berbicara agama, tetapi hatinya dingin terhadap penderitaan sosial.
Mari kita bayangkan suasana Idul Adha di kampung-kampung kecil. Ada anak-anak yang menunggu pembagian daging dengan penuh kegembiraan. Ada keluarga dhuafa yang mungkin hanya sekali setahun menikmati masakan daging. Ada wajah-wajah sederhana yang bersinar karena merasa diperhatikan. Dalam momen itulah qurban berubah menjadi bahasa cinta sosial yang sangat nyata.
Dan ironisnya, di tengah suasana seperti itu, masih ada orang yang sebenarnya mampu berqurban tetapi memilih menahan hartanya demi kepentingan pribadi yang tidak terlalu penting. Di sinilah qurban menjadi cermin: apakah hati seseorang masih hidup atau mulai mengeras?
Keras sosial tidak selalu tampak dalam bentuk kebencian. Kadang ia hadir dalam bentuk ketidakpedulian. Tidak marah kepada orang miskin, tetapi juga tidak pernah tergerak membantu mereka. Tidak membenci kaum lemah, tetapi juga tidak merasa perlu berbagi.
Padahal Islam tidak hanya mengajarkan hubungan spiritual dengan Allah, tetapi juga menanamkan sensitivitas sosial yang tinggi. Dalam banyak ayat, Allah selalu mengaitkan ibadah dengan kepedulian terhadap sesama. Bahkan dalam Al-Qur’an, pendusta agama digambarkan sebagai orang yang menghardik anak yatim dan tidak tergerak hatinya untuk memberi makan orang miskin.
Artinya, ukuran keberagamaan seseorang bukan hanya pada ritualnya, tetapi juga pada kelembutan sosialnya. Karena itu, qurban sesungguhnya adalah terapi hati. Ia mengobati penyakit cinta dunia, ia membersihkan jiwa dari sifat individualistik, dan ia mengajarkan bahwa kebahagiaan terbesar bukan terletak pada apa yang kita kumpulkan, tetapi pada apa yang bisa kita bagikan.
Dalam kehidupan modern saat ini, manusia sering berlomba memperbesar rumah, kendaraan, dan gaya hidup, tetapi lupa memperbesar empati. Akibatnya lahirlah masyarakat yang maju secara teknologi, tetapi miskin kasih sayang. Orang semakin pintar otaknya, tetapi semakin dingin hatinya. Semakin terkoneksi lewat media sosial, tetapi semakin jauh dari kepedulian sosial.
Sebagai catatan pinggir, bahwa di tengah dunia yang moderen ini, pesan surah Al-Kautsar terasa sangat relevan. Allah seakan sedang mengingatkan kita semua: jika ingin hidupmu berkah, maka jangan hanya membangun hubungan dengan Tuhan melalui salat, tetapi bangun juga hubungan kemanusiaan melalui qurban, sebab manusia yang dekat kepada Allah seharusnya semakin lembut kepada sesama.
Mungkin itulah rahasia terdalam dari dua amanah besar dalam surah Al-Kautsar. Salat menjaga manusia agar tidak sombong di hadapan Tuhan, sedangkan qurban menjaga manusia agar tidak keras di hadapan manusia. Dan salah satu alasan mengapa Allah sangat memuliakan orang yang berqurban adalah karena mereka sedang berusaha menyelamatkan hatinya sendiri—agar tidak berubah menjadi hati yang keras sosial, hati yang hidup untuk dirinya sendiri, tetapi mati terhadap penderitaan sesama.
Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd : Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram
0 Komentar