Menjemput Masa Depan Pendidikan, FTK UIN Mataram Belajar Smart Class dan Kelas Internasional Ke FTIK Maulana Malik Ibrahim Malang

Rombongan FTK UIN Mataram berpose bersama Dekan FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Di tengah derasnya arus transformasi pendidikan global, perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan. Kampus kini dituntut menjadi pusat inovasi, tempat lahirnya generasi yang mampu berpikir global tanpa kehilangan identitas keilmuan dan nilai-nilai budaya. 

BidikNews.net,Malang - Kesadaran itulah yang tampak dalam langkah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram saat melakukan anjangsana studi tiru ke Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terkait perancangan dan pengelolaan Smart Class serta kelas internasional, pada Jum’at 22 Mei 2026.

Kunjungan akademik tersebut dipimpin langsung oleh Dekan FTK UIN Mataram, Prof. Dr. H. Maimun, M.Pd, didampingi Saiful Bahri, S.Sos bersama dua staf administrasi umum, Yasni, S.Sos dan Supiandi, SH. Kehadiran rombongan FTK UIN Mataram disambut hangat oleh Dekan FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, M.A, yang didampingi Wakil Dekan I, Wakil Dekan II, Wakil Dekan III, serta Kepala ICP (International Class Programme).

Pertemuan itu tidak sekadar menjadi forum silaturahmi antarlembaga pendidikan tinggi Islam, melainkan ruang bertemunya gagasan-gagasan besar tentang masa depan pendidikan. Di ruang diskusi tersebut, semangat perubahan terasa begitu hidup. Ada optimisme bahwa pendidikan Islam mampu berdiri sejajar dengan institusi global melalui inovasi pembelajaran dan penguatan internasionalisasi kampus.

Salah satu perhatian utama dalam kunjungan tersebut adalah pengelolaan Smart Class yang telah diterapkan di FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Berbeda dengan kelas konvensional yang umumnya menggunakan pola tempat duduk lurus seperti kursi dalam bus, Smart Class di kampus ini justru dirancang lebih fleksibel dan interaktif. Penataan ruang dibuat sedemikian rupa agar mendukung konsep blended learning, yakni perpaduan pembelajaran tatap muka dengan teknologi digital.

Tim FTK UIN Mataram diterima di ruang Dekan FITK UIN Maliki Malang
Tata ruang tersebut menghadirkan suasana belajar yang lebih cair dan kolaboratif. Mahasiswa tidak lagi hanya duduk pasif mendengarkan dosen, tetapi aktif berdiskusi, bertukar ide, dan membangun kerja sama akademik. Konsep ini menunjukkan bahwa ruang belajar modern sejatinya harus mampu membangun interaksi yang hidup, bukan sekadar tempat menyampaikan materi.

Nuansa modern semakin terasa dengan dukungan sound system yang memadai di setiap ruangan. Teknologi audio yang baik ternyata menjadi bagian penting dalam menciptakan pembelajaran yang efektif. Suara dosen terdengar jelas, presentasi multimedia berjalan optimal, dan suasana akademik menjadi lebih nyaman. Dalam dunia pendidikan masa kini, detail-detail seperti ini bukan lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar untuk menghadirkan kualitas pembelajaran yang maksimal.

Hal yang paling menarik perhatian rombongan FTK UIN Mataram adalah sistem penyimpanan seluruh materi ajar di smart TV yang tersedia di dalam kelas. Seluruh bahan perkuliahan, mulai dari awal hingga akhir semester, telah tersusun secara sistematis di perangkat tersebut. Dengan sistem ini, dosen yang masuk ke kelas tidak lagi disibukkan dengan urusan teknis seperti memasang perangkat atau mencari file presentasi. Mereka tinggal fokus mengajar, berdialog, dan membangun suasana akademik yang produktif.

Konsep ini mencerminkan bagaimana teknologi dimanfaatkan bukan sekadar untuk terlihat modern, tetapi benar-benar membantu efektivitas pembelajaran. Smart Class akhirnya bukan hanya soal ruang yang canggih, melainkan simbol perubahan paradigma pendidikan menuju sistem yang lebih efisien, adaptif, dan berorientasi masa depan.

Dekan FTK UIN Mataram menyampaikan maksud kunjungan di ruang meeting FITK UIN Maliki Malang
Selain Smart Class, perhatian besar juga tertuju pada pengelolaan kelas internasional yang di FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dikenal dengan istilah ICP (International Class Programme). Program ini dirancang secara serius di masing-masing program studi, dengan satu kelas khusus yang hanya berisi sekitar 20 orang mahasiswa.

Jumlah mahasiswa yang terbatas menjadi strategi penting untuk menjaga kualitas pembelajaran. Dengan kapasitas kecil, proses akademik berlangsung lebih intensif, interaktif, dan memungkinkan pengembangan kemampuan mahasiswa secara lebih maksimal. Setiap mahasiswa mendapat ruang yang luas untuk berkembang, baik dalam aspek intelektual maupun kemampuan komunikasi global.

Dalam kelas ICP, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Arab dan bahasa Inggris. Penggunaan dua bahasa internasional ini menjadi langkah strategis dalam membentuk mahasiswa yang mampu bersaing di tingkat global. Mereka tidak hanya belajar memahami teori, tetapi juga dibiasakan berpikir dan berdiskusi dalam atmosfer internasional.

Menariknya, mahasiswa ICP terdiri atas perpaduan mahasiswa reguler dan mahasiswa asing. Interaksi lintas budaya ini menciptakan ruang belajar yang kaya pengalaman dan perspektif. Mahasiswa belajar memahami perbedaan budaya, membangun komunikasi global, serta mengembangkan sikap toleran dan terbuka terhadap dunia internasional.

Namun, untuk menjadi bagian dari kelas ICP, mahasiswa reguler harus melewati proses seleksi yang sangat ketat. Tidak hanya kemampuan bahasa dan akademik yang diuji, tetapi juga kesiapan mental, kemampuan beradaptasi, hingga sikap internasional. Mahasiswa dituntut memiliki wawasan global dan kemampuan memahami budaya dunia.

Tukar menukar cendera mata dari Dekan FITK UIN Maliki Malang kepada Dekan FTK UIN Mataram 
Seleksi tersebut menunjukkan bahwa kelas internasional bukan sekadar program prestisius, tetapi ruang pembinaan generasi unggul yang benar-benar dipersiapkan untuk menghadapi kompetisi global. Kampus ingin memastikan bahwa mahasiswa ICP tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara karakter dan memiliki kemampuan komunikasi lintas budaya.

Hal yang sama juga berlaku bagi para dosen pengajar. FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memprioritaskan dosen yang memiliki pengalaman pendidikan di luar negeri untuk mengajar di kelas ICP. Pengalaman global dosen dianggap penting dalam membangun suasana akademik internasional yang autentik. Dengan wawasan global yang dimiliki, dosen dapat menghadirkan perspektif yang lebih luas dan relevan dengan perkembangan pendidikan dunia.

Salah satu program yang paling visioner dari ICP adalah kewajiban mahasiswa menjalani magang dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah internasional luar negeri. Program ini menjadi bukti nyata bahwa internasionalisasi pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Mahasiswa diberi kesempatan mengalami langsung budaya pendidikan global, memahami sistem pembelajaran internasional, sekaligus melatih kemampuan adaptasi di lingkungan multikultural.

Pengalaman semacam ini tentu akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya membawa pulang pengalaman akademik, tetapi juga jaringan internasional, kemampuan komunikasi lintas budaya, dan rasa percaya diri untuk tampil di panggung global.

Bagi FTK UIN Mataram, kunjungan ini menjadi momentum penting untuk membaca arah masa depan pendidikan tinggi Islam. Ada banyak inspirasi yang dapat diadaptasi dalam upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih modern, humanis, dan kompetitif.

Di balik kunjungan tersebut, sesungguhnya tersimpan pesan besar bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada rutinitas lama. Kampus harus terus bergerak, membuka diri terhadap perubahan, dan berani membangun inovasi. Sebab masa depan dunia pendidikan akan ditentukan oleh keberanian lembaga pendidikan dalam merancang ekosistem belajar yang relevan dengan perkembangan zaman.

Dari Malang, FTK UIN Mataram membawa pulang lebih dari sekadar hasil studi tiru. Mereka membawa pulang mimpi besar tentang ruang-ruang kelas yang hidup, teknologi yang memudahkan pembelajaran, dan generasi mahasiswa yang siap berdialog dengan dunia internasional tanpa kehilangan akar keislaman dan keindonesiaannya.

Pewarta: TIM







0 Komentar