![]() |
| Hikmah Jum`at, 05 Juni 2026 |
DAHULU kala, di antara jalan sunyi yang menghubungkan Abiward dan Sarkhas, dua kota di daerah khurasan (wilayah bagian timur Iran), hiduplah seorang laki-laki, perompak tersohor bernama Al-Fudhail bin ‘Iyadh dan para musafir mengenalnya sebagai ahli maksiat.
Di masa silam, nama yang sangat harum itu tidak dikenal sebagai ulama, tidak dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi seorang yang membuat perjalanan terasa mencekam, menahan napas ketika mendengarnya, bahkan membuat gentar orang yang harus melewati wilayah tersebut.
Namun, siapa sangka namanya menjadi ulama yang begitu masyhur, justru hanya dimulai dari kejadian suatu malam.
Dikisahkan, Al-Fudhail pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan. Di suatu malam, dengan hati dipenuhi hasrat yang menggebu-gebu, dia memanjat dinding untuk menemui perempuan tersebut secara diam-diam. Langkah demi langkah, dinding demi dinding, hingga tiba-tiba… Di tengah malam yang begitu hening, dia mendengar seseorang melantunkan ayat suci Al-Qur’an :
“Alam ya’ni lilladzîna âmanû an takhsya‘a qulûbuhum lidzikrillâhi”. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah? (QS. al-Ḥadīd: 16)
Ayat itu sungguh menembus, bukan hanya telinga Fudhail, tetapi menyelinap jauh ke dalam jiwa Fudhail. Hatinya tersentuh, perasaannya terenyuh, seakan- akan ayat itu dibaca bukan untuk siapa pun, melainkan hanya untuk dirinya.
Al-Fudhail terhenti sejenak, ia termangu dalam diam. Dengan tangan yang masih menempel pada dinding, dari bibirnya perlahan terucap kalimat yang mengubah seluruh jalan hidupnya: ”Balā yā Rabbī, qad āna”. Benar wahai Tuhanku, sungguh waktunya telah tiba.
Gambar: Ilustrasi BidikNews.net
Hanya dengan satu ayat, tanpa dialog yang panjang, tanpa perdebatan yang berbelit-belit, dan tanpa khotbah atau ceramah. Bersamaan dengan hati yang akhirnya berani jujur, ia pun membatalkan niatnya untuk bermaksiat dan memilih untuk pergi.
Kemudian malam pun membawa dirinya singgah di sebuah bangunan yang hampir roboh, sementara di sana terdapat sekelompok musafir yang sedang beristirahat. Al-Fudhail hanya diam, dia tidak mengenalkan dirinya. Kemudian ia mendengar percakapan para musafir tersebut. Sebagian berkata: “Ayo kita lanjut perjalanan !.” Yang lain menolak: “Jangan sekarang, tunggu sampai pagi !. Karena Al-Fuḍhail sedang berada di jalan, nanti kita dirampok.”
Seketika nuansa dan hati Fudhail hening dan ucapan itu menusuknya seperti anak panah. Saat itu juga, akhirnya dia sadar, bahwa orang-orang yang bahkan tidak mengenal dirinya secara pribadi pun hidup dalam rasa takut hanya karena namanya. Lalu batinnya mulai bertanya kepada dirinya sendiri: “Aku mengarungi malam untuk bermaksiat kepada Allah, sementara di tempat ini ada kaum muslimin yang hidup dalam ketakutan karena ulahku. Tidaklah Allah mempertemukanku dengan mereka melainkan sebagai teguran agar aku menghentikan semua ini.”
Kemudian pada malam itu, sang penyamun tersohor mengangkat tangannya, bukan untuk merampas, akan tetapi untuk berdoa kepada Tuhan: “Allahumma innī qad tubtu ilaika, wa ja‘altu taubatī mujāwarata al-Baiti al-Harām.” Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu, dan aku jadikan taubatku dengan tinggal di dekat Baitul Haram.
Sejak itulah akhirnya sejarah mengenang, bukan sebagai Al-Fudhail sang penyamun, namun sebagai Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Seorang ahli ibadah, ulama besar, seorang yang dengan kata-katanya menggugah dan menghidupkan hati manusia.
Kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh di atas sesungguhnya bukan sekadar cerita tentang seorang perampok yang kemudian menjadi ulama besar. Kisah itu adalah cermin yang Allah hadirkan agar setiap manusia berani melihat dirinya sendiri secara jujur. Sebab pada hakikatnya, setiap orang memiliki “Al-Fudhail” di dalam dirinya; bagian dari diri yang pernah lalai, pernah tergelincir, pernah terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan tujuan hidup yang sebenarnya.
Kemudian ketika Al-Fudhail mendekati Baitullah dan mengucapkan do’a, “Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu, dan aku jadikan taubatku dengan tinggal di dekat Baitul Haram,” sesungguhnya ia sedang mengajarkan sebuah pelajaran besar tentang makna mendatangi Baitullah. Ia tidak datang untuk mencari kemuliaan di mata manusia, dan ia juga tidak datang untuk mendapatkan pengakuan sosial. Akan tetapi ia datang sebagai seorang pendosa yang ingin pulang kepada Tuhannya.
Bukankah itu pula yang membawa jutaan jamaah melangkahkan kaki menuju Tanah Suci? Di tengah padatnya kehidupan, kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, dan berbagai persoalan dunia, setiap manusia menyimpan beban yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah. Ada dosa yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun, ada penyesalan yang tersimpan dalam-dalam, ada air mata yang jatuh diam-diam di tengah malam, dan ada salat yang pernah dilalaikan, amanah yang pernah diabaikan, lisan yang pernah menyakiti, serta hati yang pernah terlalu mencintai dunia melebihi kecintaannya kepada Allah.
Maka ketika Allah memanggil seseorang ke Baitullah, sesungguhnya itu bukan sekadar panggilan perjalanan, melainkan panggilan kepulangan. Kepulangan seorang hamba kepada Rabb yang selama ini tidak pernah berhenti membuka pintu rahmat-Nya.
Di Arafah sebagai inti ibadah hajji, manusia akhirnya berdiri apa adanya. Tidak ada gelar yang bisa dibanggakan, tidak ada jabatan yang bisa ditunjukkan, dan tidak ada kekayaan yang bisa diandalkan. Yang ada hanyalah seorang hamba dengan seluruh dosa dan harapannya, di tempat itulah banyak orang menyadari bahwa selama ini yang paling dibutuhkannya bukanlah tambahan harta, bukan pula tambahan kedudukan, melainkan ampunan Allah.
Mungkin karena itulah air mata begitu mudah jatuh di Arafah. Bukan karena panasnya matahari atau beratnya perjalanan, tetapi karena hati akhirnya menemukan kejujuran yang selama ini tertutup oleh hiruk-pikuk kehidupan. Di hadapan Allah, manusia sadar betapa banyak nikmat yang telah diterima dan betapa sedikit syukur yang telah diberikan. Betapa luas rahmat Allah dibandingkan dosa yang telah diperbuat.
Kini, ketika para hujjaj mulai kembali ke tanah air, sesungguhnya yang dibawa pulang bukan hanya kenangan tentang Ka’bah, Multazam, Armuzna atau Raudhah. Yang jauh lebih penting adalah membawa pulang kesadaran baru tentang hidup, kesadaran bahwa umur tidak selamanya panjang, kesadaran bahwa dunia hanyalah tempat singgah, dan kesadaran bahwa pada akhirnya setiap manusia akan kembali menghadap Allah sebagaimana dahulu ia bertransaksi dengan Allah di Padang Arafah: ia hadir sendiri, tanpa jabatan, tanpa kekuasaan, tanpa apa pun kecuali amalnya.
Gambar: Ilustrasi BidikNews.net
Karena itu, pertanyaan terbesar setelah para hujjaj kembali ke tanah air bukanlah “Apa yang telah saya lihat di Makkah?” melainkan “Apa yang telah berubah dalam diri saya setelah dari Makkah?” Apakah hati menjadi lebih lembut? Apakah salat menjadi lebih hidup?. Sebab haji yang mabrur tidak diukur dari berapa kali seseorang mengunjungi Baitullah, tetapi dari seberapa jauh Baitullah berhasil mengubah hati yang mengunjunginya.
Demikian yang terjadi pada Al-Fudhail, ia tidak menjadi mulia karena pernah berada di dekat Ka’bah, akan tetapi ia menjadi mulia karena menjaga cahaya taubat yang diperolehnya di dekat Ka’bah. Demikian pula para hujjaj, kemabruran bukanlah kenangan tentang perjalanan ke Tanah Suci, melainkan kemampuan menjaga ruh perjalanan itu ketika kembali ke kehidupan sehari-hari.
Sebagai catatan pinggir, bahwa haji mengajarkan bahwa perjalanan terjauh bukanlah dari tanah air menuju Baitullah, melainkan perjalanan hati dari dosa menuju ampunan Allah. Sebagaimana Al-Fudhail bin ‘Iyadh yang datang mendekat ke Baitullah dengan membawa penyesalan dan pulang dengan cahaya taubat, demikian pula setiap haji sejatinya pulang bukan dengan kebanggaan karena telah melihat Ka’bah, tetapi dengan kerendahan hati karena telah merasakan luasnya rahmat dan ampunan Allah.
Prof. DR. H. Maimun Zubair, M.Pd : Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram

0 Komentar