Memilukan, “Murahnya Harga Nyawa” di Bima

Foto: Ilustrasi BidikNews.net
Nyawa itu adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidup manusia. Untuk itu tujuan terbesar dari agama adalah menjaga nyawa, terlebih nyawa manusia yang merupakan makhluk paling dimuliakan di atas muka bumi ini. Begitu pula tujuan Negara, yaitu menjaga nyawa dan memberikan hak hidup warga negaranya. 

BidikNews.net,BimaAkhir-akhir ini kita menyaksikan peristiwa yang membuat hati miris. Banyak penghilangan nyawa manusia tanpa alasan yang benar. Baik itu didorong oleh motif kemarahan, kebencian, dendam, atau hal lain, tetap semua itu tidak dapat dibenarkan. Dalam hitungan hari, nyawa-nyawa itu terkubur. Bersama mereka, terkubur pula tawa keluarga, harapan dan doa-doa yang tak sempat dijawab.

Kata-kata murah,,murah,,murah,,kini rupanya layak bukan hanya milik pedagang tapi sepertinya pantas pula dilontarkan di daerah Bima yang cenderung harga sebuah nyawa manusia sudah begitu sangat murahnya.  Murahnya harga nyawa manusia di daerah Bima sudah tak sebanding lagi dengan naiknya harga sembako kebutuhan sehari-hari. 

Memperhatikan waktu dengan kejadiannya, melayangnya nyawa manusia yang waktunya relatif singkat, sudah layakkah kiranya jika kita katakan harga nyawa manusia di Bima  ini sangat,, sangat murah? 

Semoga murahnya harga nyawa manusia di Bima ini segera bisa diakhiri, sehingga lontaran kata-kata murah,,murah,,murah hanya layak dilontarkan para pedagang saja.

Hilangnya nyawa seseorang merupakan tragedi yang sangat memprihatinkan. Tak hanya itu, berbagai peristiwa yang berujung pembunuhan menunjukkan betapa mudahnya nyawa melayang di daerah Bima, membuat hilangnya rasa aman di tengah–tengah masyarakat.

Dalam menyikapi kasus-kasus yang seperti ini Ketua Umum Rukun Keluarga Bima pulau Lombok (RKBPL) DR. H. Muhammad Irwan mengajak semua pihak agar tingkatkan kembali rasa humanitas, toleransi, integritas, religi dan kesadaran yang mendalam dalam diri kita masing-masing, mematuhi etika, tata cara berbicara dan bertingkah laku tanpa melupakan sikap Maja labo Dahu. 

Selain itu, Kasama weki Kaneo matani dengan mengedepankan perbuatan yang baik kata DR. H. Muhammad Irwan adalah kearifan lokal yang sejatinya menjadikan masyarakat Mbojo dapat hidup nyaman dan bahagia saling menyayangi dan tidak saling memusuhi serta tidak saling acuh tak acuh satu dengan lainnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat mbojo agar menjadi  orang yang bijak, berlaku sopan terhadap seseorang, menjaga perkataan dan lisan, jangan sampai dengan perkataan dan lisan kita membuat orang sakit hati dan merasa dendam, sehingga menyebabkan kejadian yang tidak kita inginkan seperti pembunuhan dan lain-lain tidak terulang.

Tokoh Bima lainnya, DR. H. Arsyad Gani, dalam sebuah pesan singkatnya namun penuh makna dengan tegas mengatakan “ Peristiwa ini tak boleh dibiarkan terus terjadi ”.

Pesan yang disampaikan tokoh panutan Bima ini patut untuk difahami sebagai ungkapan tulus yang menginginkan masyarakat Bima bisa hidup tenang dan nyaman tanpa dibayangi rasa takut. Pesan tegas Tokoh Bima ini sebagai isyarat kepada para pemangku kepentingan di daerah Bima agar peristiwa pembunuhan tidak terulang kembali. 

“Peristiwa ini tak boleh dibiarkan terus terjadi ”. yang disampaikan DR. H. Arsyad Gani ini sebuah pesan tegas sekaligus mengingatkan bahwa degradasi moral yang terjadi pada remaja bima menjadi masalah bagi orang tua dan masyarakat. Kasus-kasus yang pelakunya sebagian besar remaja menjadi salah satu bukti adanya degradasi moral. 

Ini menandakan bahwa para remaja telah mengalami kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan. Kemerosotan itu dapat dilihat dengan banyaknya remaja yang terjerat kasus kriminal seperti, penggunaan narkoba, penganiayaan, pembunuhan, pornografi, dan lain-lain. 

Hal itu tentu tidak bisa dipandang sebelah mata, pemerintah, aparat dan orang tua sebagai orang-orang terdekat turut andil dalam pembentukan nilai-nilai kemanusiaan pada diri mereka.

Kutipan pernyataan DR. H. Arsyad Gani tersebut mengajak seseorang agar menghormati orang lain karena manusia diciptakan dengan hak dan kodrat yang sama. 

Penegasan Tokoh panutan Bima ini mengingatkan bahwa dalam Islam juga memandang bahwa nyawa manusia itu amat sangat berharga. Firman Allah SWT dalam Surat Al Maidah ayat 32 yang artinya: 

“… barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya …”

Ayat ini memuat sebuah  prinsip bahwa bila seseorang membunuh orang lain tanpa alasan yang benar, maka pada hakikatnya dia telah membunuh manusia-manusia lain yang tak berdosa. 

Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan perlindungan jiwa manusia dan menganggap membunuh seorang manusia, sama dengan membunuh sebuah masyarakat. Lebih-lebih nyawa seorang muslim, tak ternilai harganya. 

Allah SWT dengan tegas mengancam pelaku pembunuh seorang mukmin dengan ancaman yang sangat keras dalam Surat An Nisa’ ayat 93: 

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah neraka jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

Dengan demikian, beratnya ancaman bagi pelaku yang menghilangkan nyawa seorang mukmin dengan sengaja tanpa alasan yang benar menunjukkan bahwa perbuatan tersebut merupakan dosa besar.

Dalam Islam, nyawa merupakan sesuatu yang sangat berharga. Islam memberikan serangkaian hukum sebagai wujud penjagaan atas nyawa manusia layaknya sesuatu yang sangat berharga.

Syariat Islam telah mengatur untuk menjaga nyawa, kehormatan, dan darah manusia. Agar jangan sampai karena persoalan sepele, sehingga tega melakukan menyakiti dan menghilangkan nyawa saudaranya. Karena nyawa manusia cuma satu satunya maka tak ternilai harganya.

Pewarta: Dae Ompu






0 Komentar