‎KPK RI Ajak Sivitas Akademika UIN Mataram Wujudkan Integritas dari Nilai Menjadi Aksi Nyata Pencegahan Korupsi

Rektor UIN Mataram, Prof. H. Masnun, M.Ag, ketika mengikuti Kuliah umum Anti korupsi
BidikNews.net,Mataram – Semangat membangun generasi berintegritas dan berkarakter anti korupsi menggema di Auditorium Kampus 2 Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram pada Kamis (11/6/2026). 

‎Sekitar 500 peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta unsur pimpinan universitas mengikuti kuliah umum yang menghadirkan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia, Ibnu Basuki Widodo, S.H., M.H. 

‎Kegiatan ini mengangkat tema “Menjaga Integritas: Dari Nilai ke Aksi Nyata Pencegahan Korupsi”, sebuah tema yang relevan dengan tantangan bangsa dalam membangun budaya kejujuran dan tata kelola yang bersih.

‎Kuliah umum tersebut menjadi momentum penting bagi UIN Mataram dalam memperkuat komitmen membangun budaya akademik yang berlandaskan integritas, profesionalisme, dan nilai-nilai keislaman. 

‎Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter kuat dan keberanian moral untuk menolak segala bentuk penyimpangan.

Pimpinan (KPK) Republik Indonesia, Ibnu Basuki Widodo, S.H., M.H. ketika memberikan kuliah umum
Dalam pemaparannya, Ibnu Basuki Widodo menegaskan bahwa pencegahan korupsi tidak dapat hanya mengandalkan penegakan hukum. 

‎Upaya yang jauh lebih penting adalah membangun karakter dan kesadaran masyarakat sejak dini agar memiliki ketahanan moral terhadap berbagai godaan penyimpangan.

‎Menurutnya, korupsi bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Korupsi sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dianggap sepele, seperti ketidakjujuran, pelanggaran aturan, atau sikap permisif terhadap kecurangan. 

‎Oleh karena itu, pendidikan karakter dan penanaman nilai integritas menjadi fondasi utama dalam membangun bangsa yang bersih dari praktik korupsi.

‎Pada kesempatan tersebut, Rektor UIN Mataram, Prof. H. Masnun, M.Ag, menyampaikan apresiasi dan menyambut baik kehadiran Pimpinan KPK RI di kampus UIN Mataram. 

‎Menurutnya, kuliah umum ini merupakan bagian penting dari ikhtiar bersama dalam membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya integritas di lingkungan pendidikan tinggi. 


Ia menegaskan bahwa UIN Mataram berkomitmen untuk terus memperkuat budaya akademik yang menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, transparansi, dan akuntabilitas.

‎Rektor juga mengajak seluruh sivitas akademika UIN Mataram untuk senantiasa menjaga diri dari segala bentuk tindakan, perbuatan, maupun transaksi yang berbau korupsi. 

‎Menurutnya, korupsi tidak hanya merugikan negara secara material, tetapi juga merusak kepercayaan publik dan menghancurkan sendi-sendi moral masyarakat. Karena itu, nilai-nilai integritas harus menjadi bagian dari karakter setiap warga kampus.

‎“Kita ingin membangun lingkungan kampus yang bersih dan berintegritas. Oleh sebab itu, seluruh sivitas akademika harus selalu mengingatkan diri untuk tidak melakukan tindakan, perbuatan, maupun transaksi yang berbau korupsi dalam bentuk apa pun. Integritas harus menjadi budaya, bukan sekadar slogan,” tegasnya.

‎Lebih lanjut, Pimpinan KPK RI menjelaskan bahwa integritas merupakan keselarasan antara pola pikir, perasaan, ucapan, dan perilaku yang sesuai dengan hati nurani serta norma yang berlaku. 


Integritas tidak diukur dari apa yang dilakukan seseorang ketika dilihat banyak orang, melainkan dari kemampuannya tetap berbuat benar ketika tidak ada yang mengawasi.

‎Menurut Ibnu Basuki Widodo, orang yang berintegritas akan tetap memilih jalan yang jujur dan etis meskipun memiliki kesempatan untuk melakukan penyimpangan. 

‎Integritas merupakan fondasi utama dalam membangun kepercayaan, baik dalam kehidupan pribadi, dunia pendidikan, dunia kerja, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

‎Dalam kuliah umum tersebut, ia memaparkan sembilan nilai integritas yang menjadi dasar pendidikan anti korupsi yang dikembangkan oleh KPK. 

‎Kesembilan nilai tersebut merupakan benteng utama dalam mencegah munculnya perilaku koruptif.

‎Nilai pertama adalah jujur, yaitu memiliki hati yang lurus, tulus, dan tidak curang. Kejujuran merupakan fondasi dari seluruh perilaku baik dan menjadi syarat utama lahirnya kepercayaan.

‎Nilai kedua adalah peduli, yaitu memiliki kepekaan terhadap kondisi lingkungan dan orang lain. Kepedulian akan mendorong seseorang untuk tidak membiarkan terjadinya ketidakadilan atau penyimpangan di sekitarnya.

‎Nilai ketiga adalah mandiri, yaitu kemampuan mengelola diri dan tidak bergantung secara berlebihan kepada orang lain. Kemandirian membantu seseorang mengambil keputusan yang benar tanpa intervensi kepentingan tertentu.

‎Nilai keempat adalah disiplin, yakni menghargai waktu dan menaati aturan yang berlaku. Menurut KPK, pelanggaran besar sering kali berawal dari pengabaian terhadap aturan-aturan kecil.


Nilai kelima adalah tanggung jawab, yaitu sikap amanah dan berani menerima konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan. Orang yang bertanggung jawab tidak akan lari dari kesalahan ataupun melemparkan beban kepada orang lain.

‎Nilai keenam adalah kerja keras, yaitu kesungguhan dalam mencapai tujuan secara benar dan pantang menyerah. Kerja keras menjadi lawan dari budaya instan yang sering kali mendorong seseorang mencari jalan pintas yang melanggar aturan.

‎Nilai ketujuh adalah sederhana, yakni hidup secara wajar dan tidak berlebihan. Gaya hidup sederhana diyakini dapat mengurangi dorongan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan secara tidak sehat.

‎Nilai kedelapan adalah berani, yaitu keberanian untuk mempertahankan kebenaran serta melaporkan berbagai bentuk penyimpangan dan kecurangan. Dalam konteks pencegahan korupsi, keberanian moral menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan.

‎Sedangkan nilai kesembilan adalah adil, yaitu memberikan hak kepada yang berhak dan memperlakukan setiap orang secara proporsional tanpa diskriminasi.

‎“Jika sembilan nilai ini benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, maka sesungguhnya kita telah membangun benteng yang sangat kuat untuk mencegah korupsi,” ujar Ibnu Basuki Widodo di hadapan para peserta.

‎Suasana kuliah umum berlangsung interaktif. Para mahasiswa tampak antusias mengikuti pemaparan yang diselingi berbagai contoh kasus dan pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

‎KPK mengingatkan bahwa kampus harus menjadi tempat lahirnya budaya integritas, bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan.

‎Dalam konteks dunia pendidikan tinggi, Ibnu Basuki Widodo menyoroti pentingnya aksi nyata pencegahan korupsi melalui penolakan terhadap berbagai bentuk kecurangan akademik. 

‎Menurutnya, praktik-praktik seperti mencontek, plagiarisme, penggunaan joki tugas atau joki ujian, manipulasi data penelitian, hingga titip absen merupakan bentuk ketidakjujuran yang tidak boleh dianggap biasa.

‎Ia menegaskan bahwa perilaku koruptif sering kali tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dianggap sepele. Karena itu, mahasiswa harus berani menolak dan melaporkan berbagai bentuk kecurangan yang terjadi di lingkungan kampus.

‎“Jangan pernah menganggap plagiarisme atau penggunaan joki sebagai hal yang wajar. Integritas dibangun dari hal-hal kecil. Ketika mahasiswa terbiasa jujur dalam proses belajar, maka mereka sedang membangun karakter yang akan menjaga mereka ketika kelak memegang amanah besar di tengah masyarakat,” jelasnya.

‎Ia juga mengajak mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mampu menebarkan nilai-nilai integritas di tengah masyarakat. Mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi insan yang cerdas secara akademik, tetapi juga menjadi teladan dalam kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian menyuarakan kebenaran.

‎Kuliah umum ini sekaligus menegaskan bahwa perang melawan korupsi bukan semata-mata tugas aparat penegak hukum. 

‎Pencegahan korupsi adalah tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, hingga masyarakat luas. Semakin kuat budaya integritas yang dibangun, semakin kecil ruang bagi praktik korupsi untuk tumbuh dan berkembang.

‎Menutup kuliah umumnya, Ibnu Basuki Widodo mengajak seluruh peserta menjadikan integritas sebagai identitas diri dan pedoman dalam menjalani kehidupan. 

‎Menurutnya, bangsa yang maju bukan hanya dibangun oleh orang-orang yang pintar, tetapi juga oleh orang-orang yang jujur, amanah, dan dapat dipercaya.

‎“Mulailah dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, dan dari sekarang. Karena perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika integritas menjadi budaya, maka korupsi akan kehilangan ruang untuk tumbuh,” pungkasnya.

‎Tepuk tangan panjang dari ratusan peserta menandai berakhirnya kuliah umum tersebut. Lebih dari sekadar forum akademik, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia yang bersih dan berkeadilan hanya dapat diwujudkan melalui komitmen bersama untuk menjaga integritas. 

‎Dari kampus inilah diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas dan kompeten, tetapi juga berkarakter kuat, berani menegakkan kebenaran, dan menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan korupsi. 


Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Martaram Prof.DR.H.Maimun Zubair, M.Pd yang turut hadir dalam kegiatan itu mengatakan, Korupsi tidak selalu bermula dari pelanggaran besar, melainkan sering diawali oleh kompromi kecil terhadap hati nurani. 

‎Karena itu, kata H.Maimun Zubair bahwa pencegahan korupsi harus dimulai dari keberanian untuk jujur, amanah dalam menjalankan tugas, disiplin dalam menggunakan wewenang, serta konsisten antara ucapan dan perbuatan.

‎Ketika integritas tumbuh menjadi budaya, bukan hanya individu yang terlindungi dari penyimpangan, tetapi juga tercipta lingkungan yang bersih, terpercaya, dan berkeadilan. Integritas yang dijaga hari ini adalah fondasi bagi masa depan yang lebih bermartabat dan bebas dari korupsi." Tutup Guru Besar UIN Mataram ini.

‎Pewarta: TIM

0 Komentar