![]() |
BidikNews.net,Mataram – Sabtu, 27 Juni 2026, menjadi momentum bersejarah bagi keluarga besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram.
Lebih dari 500 alumni dari berbagai angkatan hadir dalam kegiatan Temu Alumni FTK UIN Mataram 2026, sebuah ajang silaturahmi, refleksi, sekaligus penguatan komitmen untuk terus berkontribusi bagi masyarakat dan almamater.
Dengan mengusung tema “Alumni Berdampak: Dari Refleksi ke Kontribusi”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi reuni biasa. Pertemuan tersebut menghadirkan ruang dialog yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan para alumni dalam satu semangat: menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian dan kebermanfaatan.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III UIN Mataram, Prof. Dr. H. Jumarim, M.H.I., yang hadir mewakili Rektor UIN Mataram. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas antusiasme para alumni yang datang dari berbagai daerah. Kehadiran ratusan alumni menunjukkan bahwa ikatan emosional terhadap almamater tetap terpelihara dengan baik meskipun telah lama meninggalkan bangku perkuliahan.
Menurutnya, alumni merupakan aset strategis perguruan tinggi. Keberhasilan sebuah universitas tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana para alumninya mampu memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Karena itu, sinergi antara kampus dan alumni harus terus diperkuat agar mampu melahirkan berbagai program yang berdampak bagi pembangunan bangsa.
Sementara itu, Dekan FTK UIN Mataram, Prof. Dr. H. Maimun, M.Pd., menjelaskan bahwa tema “Alumni Berdampak: Dari Refleksi ke Kontribusi” dipilih sebagai pengingat bahwa perjalanan seorang alumni tidak berhenti ketika memperoleh ijazah. Justru setelah meninggalkan kampus, tantangan sesungguhnya dimulai.
“Refleksi mengajarkan kita mengenal diri, sedangkan kontribusi membuktikan nilai diri. Jadilah alumni FTK UIN Mataram yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat, menginspirasi perubahan, dan mengharumkan almamater melalui karya serta pengabdian nyata,” ungkapnya.
![]() |
| Dekan FTK UIN Mataram, Prof. Dr. H. Maimun, M.Pd., dan Wakil Rektor III UIN Mataram, Prof. Dr. H. Jumarim, M.H.I., |
Beliau juga menegaskan bahwa alumni FTK memiliki tanggung jawab moral yang besar. Sebagai lulusan lembaga pendidikan, alumni tidak hanya dituntut menjadi tenaga profesional, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun karakter, memperkuat pendidikan, serta menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif, dan berkemajuan.
Suasana temu alumni semakin hidup ketika sesi seminar inspiratif menghadirkan Dr. Fachruddin Faiz dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai narasumber utama. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan reflektif, beliau mengajak seluruh peserta memahami tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks.
Menurutnya, manusia hari ini hidup di zaman yang penuh dinamika.
“Kita hidup di zaman yang ramai, ruet, sibuk, dan rumit. Informasi datang tanpa henti, tuntutan semakin tinggi, sementara waktu terasa semakin sempit. Jika tidak memiliki kesadaran untuk mengelola diri, manusia mudah kehilangan arah,” paparnya.
Menghadapi kondisi tersebut, beliau menawarkan tiga langkah penting yang harus dilakukan setiap orang.
Pertama adalah refresh atau recharge, yaitu mengisi ulang energi fisik, mental, dan spiritual. Dalam kehidupan yang serba cepat, manusia membutuhkan jeda agar tidak kehilangan kejernihan berpikir. Beristirahat, mendekatkan diri kepada Allah, membaca, berdialog, maupun berkumpul dengan orang-orang yang positif merupakan bentuk recharge yang sangat diperlukan.
Kedua adalah reset, yakni keberanian untuk mengulang dari awal ketika menyadari ada kesalahan dalam cara berpikir maupun bertindak. Menurutnya, banyak orang gagal berkembang bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena enggan mengakui bahwa dirinya perlu memperbaiki cara pandang.
Ketiga adalah reinstall, yaitu keberanian memulai kembali dari nol. Dalam dunia teknologi, ketika sebuah sistem mengalami banyak gangguan, terkadang solusi terbaik adalah menginstal ulang seluruh sistem.
Demikian pula kehidupan manusia, ada kalanya seseorang perlu membangun ulang orientasi hidupnya agar kembali menemukan makna dan tujuan yang benar.
Pandangan tersebut kemudian diperkuat melalui pemikiran filsuf Muslim besar, Ibnu Sina, yang menurut Dr. Fachruddin Faiz masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan zaman.
Prinsip pertama adalah epistemic humility (tawadhu'), yaitu kerendahan hati dalam ilmu pengetahuan. Semakin banyak seseorang belajar, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Sikap tawadhu' membuat seseorang terus belajar tanpa merasa paling benar.
Prinsip kedua adalah existential courage (syaja'ah), yakni keberanian untuk memulai. Banyak orang memiliki kemampuan luar biasa, tetapi tidak pernah melangkah karena takut gagal, takut dikritik, atau terlalu lama menunggu kondisi ideal. Padahal perubahan hanya lahir dari keberanian mengambil langkah pertama.
Prinsip ketiga adalah in-between mentality, yaitu kesadaran bahwa kehidupan selalu berada dalam proses perubahan. Tidak ada kondisi yang benar-benar tetap. Karena itu, manusia dituntut memiliki kemampuan beradaptasi, terus belajar, dan tidak terjebak pada zona nyaman.
Prinsip keempat adalah active patience, yaitu kesabaran yang aktif. Kesabaran bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan terus bergerak, memperbaiki diri, dan bekerja dengan konsisten meskipun hasil belum segera terlihat. Kesabaran seperti inilah yang akan melahirkan perubahan besar dalam kehidupan.
Paparan tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta. Banyak alumni merasa materi yang disampaikan tidak hanya memberikan inspirasi, tetapi juga menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja, pendidikan, maupun kehidupan sosial.
![]() |
| Alumni FTK UIN Mataram |
Semangat kebersamaan yang terbangun diharapkan mampu melahirkan kolaborasi-kolaborasi baru dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pemberdayaan umat.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, alumni FTK UIN Mataram diharapkan tidak hanya menjadi saksi perubahan, tetapi menjadi pelaku utama yang menghadirkan solusi. Sebab, sebagaimana tema yang diusung tahun ini, refleksi hanya akan menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam kontribusi nyata.
Temu Alumni FTK UIN Mataram 2026 pun menjadi penanda bahwa almamater bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan rumah besar yang terus menyatukan langkah para lulusannya untuk berkarya, mengabdi, dan memberi dampak bagi masyarakat.
Dari refleksi lahir kesadaran, dan dari kontribusi lahir kebermanfaatan. Itulah warisan terbaik yang dapat dipersembahkan alumni bagi almamater, bangsa, dan kemanusiaan.
Pewarta: TIM




0 Komentar