Futurolog terkenal Alvin Toffler pernah menggambarkan perubahan zaman sebagai gelombang besar yang terus bergerak. Gagasannya mengingatkan kita bahwa setiap peradaban akan diuji oleh perubahan yang diciptakannya sendiri. Seolah-olah beliau sedang bertanya kepada kita: "Ketika badai perubahan datang begitu ganas, apakah kita memilih hanyut mengikuti arus, atau tetap berdiri teguh menghadapi badai?"
Hikmah Jum`at, 03 Juli 2026
ADA satu ketakutan yang seharusnya mulai kita khawatirkan dan antisipasi bersama, bukan ketakutan bahwa teknologi akan semakin canggih hingga melampaui kemampuan berpikir kita, akan tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan di era teknologi saat ini, di mana manusia masih tampak utuh secara fisik, tetapi sesungguhnya telah kehilangan dirinya sendiri.
Raganya masih manusia; Jantungnya masih berdetak, matanya masih melihat, tangannya masih bergerak, namun jiwanya telah dikendalikan algoritma. Pikirannya dipenuhi rekomendasi mesin; hatinya bergerak mengikuti notifikasi, kebahagiaannya ditentukan oleh jumlah “like”, penghargaan dirinya bergantung pada komentar orang lain, dan keputusan-keputusan hidupnya lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang sedang viral daripada oleh nilai yang diyakininya.
Inilah ironi terbesar zaman digital. Manusia tidak lagi diperbudak oleh rantai besi, melainkan oleh layar yang selalu berada dalam genggamannya. Tidak lagi dipaksa dengan cambuk, tetapi dipikat dengan kenyamanan. Tidak lagi dikurung di balik tembok, tetapi tanpa sadar mengurung dirinya sendiri di dalam ruang digital yang nyaris tak pernah ia tinggalkan.
Teknologi memang memudahkan kehidupan. AI, termasuk ChatGPT, sangat membantu manusia belajar lebih cepat, bekerja lebih efisien, dan menciptakan berbagai inovasi luar biasa. Kita patut bersyukur atas semua itu. Namun sejarah selalu mengajarkan bahwa setiap kemajuan memiliki sisi yang harus diwaspadai.
Teknologi tidak pernah mengambil kemanusiaan kita secara paksa. Ia mengambilnya sedikit demi sedikit. Dimulai dari waktu yang hilang. Lalu perhatian yang terpecah. Kemudian kemampuan berpikir yang melemah. Setelah itu kepekaan yang memudar. Dan akhirnya, identitas diri yang perlahan menghilang.
Hari ini banyak orang tidak lagi bertanya, “Apa yang benar?” Mereka lebih sibuk bertanya, “Apa yang sedang ramai?” Tidak lagi bertanya, “Apa yang bermanfaat?” Melainkan, “Apa yang paling banyak ditonton?” Ukuran kebenaran bergeser menjadi popularitas. Ukuran kebijaksanaan berubah menjadi viralitas. Ukuran nilai digantikan oleh angka.
Inilah saat ketika manusia mulai kehilangan ruang dirinya. Padahal Allah Swt. telah memberikan peringatan yang sangat dalam: “Wa lâ takûnû kalladzîna nasullâha fa ansâhum anfusahum.” Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. (QS. Al-Hasyr: 19)
Perhatikan kalimat di dalam ayat di atas. Bukan hanya “melupakan Allah”, tetapi akibatnya adalah lupa kepada dirinya sendiri.
Betapa dahsyatnya ayat ini jika dibaca dalam konteks era digital. Seseorang bisa mengetahui semua berita dunia, tetapi tidak mengenali isi hatinya sendiri. Ia hafal tren terbaru, tetapi lupa tujuan hidupnya. Ia mengenal ribuan wajah di media sosial, tetapi asing terhadap jiwanya sendiri. Ia mampu berbicara dengan mesin selama berjam-jam, tetapi tidak pernah berbincang dengan nuraninya.
Inilah yang disebut kehilangan ruang diri. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)
Coba kita perhatikan baik-baik hadis di atas, Rasulullah tidak mengatakan bahwa orang cerdas adalah yang paling banyak mengetahui informasi, melainkan yang mampu mengendalikan dirinya. Pengendalian diri menjadi kemewahan yang semakin langka di era digital, karena hampir semua aplikasi dirancang untuk merebut perhatian kita. Semakin lama kita menatap layar, semakin besar keuntungan mereka. Sementara semakin lama kita kehilangan perhatian terhadap diri sendiri, semakin miskin kehidupan batin kita.
Futurolog terkenal Alvin Toffler pernah menggambarkan perubahan zaman sebagai gelombang besar yang terus bergerak. Gagasannya mengingatkan kita bahwa setiap peradaban akan diuji oleh perubahan yang diciptakannya sendiri. Seolah-olah beliau sedang bertanya kepada kita: “Ketika badai perubahan datang begitu ganas, apakah kita memilih hanyut mengikuti arus, atau tetap berdiri teguh menghadapi badai?”
Pertanyaan ini sangat relevan saat ini. Gelombang digital tidak mungkin dihentikan. AI tidak mungkin ditolak. Teknologi tidak mungkin diputar kembali. Tetapi kita masih memiliki pilihan; Apakah kita menjadi nahkoda yang mengendalikan kapal, atau justru menjadi penumpang yang terseret ombak? Apakah kita menguasai teknologi, atau teknologi yang menguasai kita?
Di sinilah letak perjuangan generasi masa kini. Musuh terbesar bukan lagi kebodohan, melainkan kehilangan kesadaran. Bukan kurangnya informasi, melainkan hilangnya perenungan diri. Bukan lemahnya jaringan internet, melainkan putusnya hubungan manusia dengan hati nuraninya.
Al-Ghazali mengingatkan bahwa hati manusia laksana cermin. Semakin banyak debu yang menutupinya, semakin sulit ia memantulkan cahaya kebenaran. Debu-debu zaman sekarang bukan kesombongan atau hawa nafsu, tetapi banjir informasi yang tidak disaring, kebisingan digital yang tidak pernah berhenti, dan budaya serba cepat yang membuat manusia lupa menikmati keheningan.
Kita mulai kehilangan kemampuan untuk diam—Padahal dalam diam akan lahir kebijaksanaan. Kita kehilangan kemampuan untuk menunggu—Padahal dalam menunggu akan tumbuh kesabaran. Kita kehilangan kemampuan untuk merenung—Padahal dalam perenungan akan melahirkan keputusan-keputusan besar untuk kehidupan.
Ironisnya, AI kini mampu menulis puisi, menyusun pidato, bahkan memberi saran kehidupan. Tetapi kita harus segera menyadari bahwa AI tidak memiliki hati, AI tidak mengenal air mata, AI tidak pernah merasakan getaran doa. Semua itu hanya dimiliki manusia. Karena itu, jangan sampai kita justru kehilangan keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada kita. Jangan sampai suatu hari nanti kita menyaksikan generasi yang raganya manusia, tetapi jiwa, pikiran, dan hatinya adalah digital.
Mereka berpikir seperti algoritma, bereaksi seperti mesin, mencintai berdasarkan tren, marah karena provokasi, dan mengambil keputusan bukan karena hikmah, tetapi karena rekomendasi sistem.
Maka itulah, merebut ruang diri bukan berarti memusuhi teknologi, akan tetapi mengembalikan manusia kepada hakikat dirinya. Memberi waktu bagi hati untuk berdzikir. Memberi kesempatan bagi akal untuk berpikir kritis. Memberi ruang bagi jiwa untuk beristirahat dari hiruk-pikuk dunia digital. Memberi kesempatan kepada keluarga untuk berbicara tanpa gangguan layar. Memberi peluang kepada anak-anak untuk memandang langit, menikmati hijaunya semesta, menyentuh tanah, membaca buku, dan merasakan kehidupan yang nyata.
Ingatlah, bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh manusia yang selalu menundukkan kepala pada layar, tetapi oleh manusia yang mampu mengangkat pandangannya ke langit, menatap masa depan dengan ilmu, dan menjejak bumi dengan nilai.
Sebagai catatan pinggir, Mari kita rebut ruang diri yang sudah separuhynya hilang, mari kita ambil ruang diri itu sebelum ruang itu sepenuhnya diambil oleh algoritma, sebelum hati kita lebih akrab dengan layar daripada dengan literasi, sebelum pikiran kita lebih percaya kepada mesin daripada kepada hikmah, dan sebelum tiba suatu masa ketika manusia masih terlihat seperti manusia, tetapi telah kehilangan yang paling hakiki dari kemanusiaannya, yakni jiwa yang merdeka, hati yang hidup, dan kesadaran untuk memilih jalan yang diridhai Allah Swt.
Prof. H. Maimun Zubair, M. Pd – Dekan FTK UIN Mataram
0 Komentar