BidikNews.net, Mataram - Untuk merespon masalah tersebut, Tim Peneliti MoRA The AIR Funds Kementerian Agama RI-LPDP dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram melaksanakan Training of Trainer (TOT) Pengasuhan Transformatif Gender Berbasis Kearifan Lokal untuk Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Mataram, Prof. Dr. Kadri, M.Si., yang membuka sekaligus memberi arahan, menegaskan pentingnya hasil riset perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memberi dampak nyata, baik melalui riset maupun pengabdian kepada masyarakat.
Prof Kadri menekankan bahwa isu kekerasan terhadap anak yang marak terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) membutuhkan solusi kontekstual, nyata dan kongkrit. Hasil penelitian ini dinilai sangat tepat waktu dan aplikatif untuk menjawab tantangan tersebut.
"Kami sangat mengharapkan masukan membangun dari para peserta TOT dan fasilitator yang sudah berpengalaman di lapangan. Hasil riset ini harus aplikatif dan menjadi solusi nyata," tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa semangat penelitian ini sejalan dengan program Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) UIN Mataram yang konsisten mengusung gagasan Desa Ramah Perempuan dan Anak. Ia juga menyoroti pentingnya menggeser narasi publik dari sekadar memberitakan bad news menjadi penonjolan praktik baik (best practice).
Riset yang diketuai oleh Prof. Mohamad Abdun Nasir, MA dari UIN Sunan Ampel Surabaya pada saat sekarang telah memasuki tahun kedua pelaksanaan kegiatan.
Pada tahap ini, riset berfokus menguji coba modul pengasuhan anak yang telah disusun pada tahun pertama dan diperkenalkan kepada para calon pelatih (trainer), sebelum nantinya mereka akan mensosialisasikan dan menguji-cobakan pada sampel-sampel komunitas di kalangan masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo-Dompu.
TOT berlangsung selama dua hari pada Rabu–Kamis (22–23/7/2026) di Fave Hotel Mataram ini menjadi langkah krusial sebelum uji coba modul secara langsung di tengah masyarakat.
Ia menambahkan bahwa modul ini telah melalui serangkaian review dan pendalaman dalam forum Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapat kritik, masukan dan revisi hingga siap pakai. Meski begitu, perbaikan dinamis akan tetap dilakukan secara berkala seiring masukan-masukan baru dari lapangan selama masa sosialisasi dan uji coba.
Modul Pola Asuh Transformatif sebagai Solusi
Melalui riset ini, para peneliti MORA AIRFUNDS membuktikan komitmennya untuk menghadirkan langkah konkrit pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap anak di daerah.
Anggota Tim Peneliti, Dr. Baiq Ratna Mulhimmah, M.H., menyampaikan apresiasi yang mendalam atas hadirnya Ketua LP2M UIN Mataram beserta seluruh peserta TOT. Ia menjelaskan proses penyusun modul dari awal, proses revisi sampai draf terakhir yang sekarang siap disosialisasikan.
Gagasan, ide maupun temuan riset yang baik perlu dituangkan dalam pedoman lugas dan aplikatif agar lebih mudah dipakai sebagai rujukan dan diterapkan.
"Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari riset tahun pertama. Sebelumnya, tim peneliti telah mengumpulkan data dari 29 titik lokasi di wilayah Suku Sasak, Samawa, dan Mbojo-Dompu. Dari penggalian data empiris tersebut, lahirlah panduan pengasuhan transformatif gender yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal," ujar Dr. Baiq Ratna.
Kegiatan diikuti oleh para trainer yang telah berpengalaman dalam berbagai kegiatan terkait tema penelitian serta telah mengenal baik wilayah sasaran sosialisasi dan uji coba modul sehingga menjadi modal dasar untuk kesuksesan kegiatan.
Materi TOT terdiri dari modul pola asuh dan buku pedoman pola asuh yang disusun untuk masing-masing suku di NTB yang menjadi subyek riset. Kegiatan training direncanakan akan dilakukan secara bertahap dan mencakup perwakilan seluruh wilayah NTB.
Pewarta: TIM



0 Komentar