Bagai Tukang Sapu di Atas Kanvas Oleh Prof. H. Maimun, M. Pd

Hikmah Jum`at, 07 Agustus 2026
Ada seorang pelukis yang sedang berdiri di depan sebuah kanvas putih. Di tangannya bukan sapu biasa, melainkan kuas yang setiap goresannya akan menentukan keindahan lukisan. 

Sebelum kuas itu menyentuh kanvas, ia tidak tergesa-gesa. Ia berpikir panjang. Ia membayangkan komposisi warna, keseimbangan bentuk, arah cahaya, dan pesan yang ingin disampaikan. Ia sadar bahwa satu goresan yang keliru bisa merusak harmoni yang telah dibangun berjam-jam. Karena itu, setiap sapuan kuas dilakukan dengan penuh kesadaran, ketelitian, dan cinta.

Sesungguhnya hidup yang kita jalani tidak jauh berbeda dengan pelukis. Setiap hari hakikatnya kita sedang menyapu kanvas kehidupan. Setiap keputusan yang kita ambil adalah sapuan kuas yang kita goreshkan. Setiap ucapan yang kita katakana adalah cat warna yang kita torehkan. Setiap tindakan yang kita lakukan adalah guratan yang akan membentuk lukisan tentang siapa diri kita sebenarnya.

Pertanyaannya, apakah kita sedang melukis kehidupan dengan kesadaran seorang seniman, atau sekadar menggores tanpa arah dan tujuan yang jelas?

Pelukis sejati berpikir keras sebelum menyapu kuasnya. Ia tidak bekerja berdasarkan emosi sesaat. Ia memahami bahwa karya besar selalu lahir dari perenungan yang panjang. Begitulah seharusnya sikap kita dalam hidup ini. Banyak persoalan muncul bukan karena kita kurang cerdas, tetapi karena terlalu cepat mengambil keputusan.

Betapa banyak persahabatan rusak hanya karena satu kalimat yang diucapkan tanpa dipikirkan. Betapa banyak keluarga retak karena keputusan yang diambil dalam kemarahan dan emosi. Betapa banyak organisasi kehilangan kepercayaan karena pemimpinnya bertindak tanpa pertimbangan.

Allah SWT mengingatkan: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 36).

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap langkah harus didasarkan pada pengetahuan, pertimbangan, dan tanggung jawab. Hidup bukan sekadar bergerak, tetapi bergerak ke arah yang benar.

Seorang pelukis dalam melukis juga sangat teliti. Ia tahu bahwa keindahan bukan hanya ditentukan oleh goresan yang besar, tetapi juga oleh detail-detail kecil yang sering tidak diperhatikan orang lain. 

Demikian pula kehidupan yang kita jalani. Integritas tidak dibangun oleh keputusan-keputusan besar yang sesekali kita ambil, tetapi oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita ulang setiap hari—Tepat waktu, menepati janji, berkata jujur, menghormati orang lain, menjaga amanah—semuanya adalah sapuan-sapuan kecil yang perlahan membentuk lukisan karakter.

Aristoteles pernah mengatakan, “We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act but a habit.” Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang. Keunggulan bukanlah sebuah tindakan sesaat, melainkan sebuah kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.

Maksudnya, lukisan kehidupan yang indah tidak lahir dari satu goresan spektakuler, tetapi dari ribuan goresan kecil yang dilakukan dengan terus menerus dan konsisten.

Pelukis juga selalu berusaha menghasilkan karya terbaik. Ia tidak pernah berkata, “Cukuplah asal selesai.” Ia terus memperbaiki, menyempurnakan, dan mengevaluasi hasil karyanya. Dalam Islam, semangat ini dikenal dengan konsep ihsan, yaitu melakukan sesuatu sebaik mungkin karena merasa selalu diawasi.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (HR. al-Baihaqi).

Bayangkan jika setiap guru mengajar seperti seorang pelukis yang ingin menghasilkan karya terbaik. 

Bayangkan jika setiap dokter merawat pasien seperti sedang melukis mahakarya. Bayangkan jika setiap dosen membimbing mahasiswa dengan kesungguhan seorang seniman. 

Bayangkan jika setiap pemimpin mengambil keputusan dengan ketelitian seorang pelukis. 

Bayangkan jika setiap petani mengolah sawah dan menanam benih dengan kesabaran seperti pelukis yang melukis harapan masa depan. 

Bayangkan jika setiap pebisnis dan pedagang menjalankan usahanya dengan kejujuran, integritas, dan komitmen, seolah-olah pelukis yang sedang membentuk lukisan peradaban. 

Dan bayangkan pula jika semua kita menjalani setiap amanah dengan sepenuh hati, bekerja bukan sekadar menggugurkan kewajiban, sebagaimana seorang pelukis yang mempersembahkan karya terbaik sebagai bentuk pengabdiannya. Niscaya Dunia ini akan menjadi tempat yang paling indah.

Dalam melukis, seorang pelukis juga memilih warna yang paling mendekati warna aslinya. Ia tidak asal mencampur warna. Ia memahami bahwa sedikit saja kesalahan akan mengubah makna seluruh lukisan. Begitulah seharusnya kita sebagai manusia, memilih nilai-nilai dalam hidup. Seperti kejujuran harus tetap jujur, tidak dicampur dengan sedikit kebohongan. Amanah harus tetap amanah, tidak dicampur dengan sedikit pengkhianatan. Keadilan harus tetap adil, tidak dicampur kepentingan pribadi. Sebab satu warna yang salah dapat merusak keseluruhan lukisan.

Kemudian pelukis juga menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya demi menghasilkan karya terbaik. Tidak ada mahakarya yang lahir dari kemalasan. Semua karya besar lahir dari disiplin, kesabaran, dan pengorbanan. Kesuksesan bukanlah hadiah, tetapi hasil dari ribuan keputusan untuk tetap berjuang ketika orang lain menyerah.

Thomas Alva Edison pernah berkata, “Genius is one percent inspiration and ninety-nine percent perspiration.” Kejeniusan adalah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen kerja keras.

Keberhasilan lebih banyak dibangun oleh kerja keras daripada bakat semata. Bahkan lukisan terindah pun lahir dari tangan yang lelah.

Namun, ada satu hal yang paling menarik dari seorang pelukis. Ia tidak melukis agar dirinya dipuji, tetapi agar siapa pun yang memandang karyanya berdecak kagum. Ia ingin menghadirkan keindahan yang menggetarkan hati.

Begitulah seharusnya kita dalam menjalani hidup. Sedapat mungkin meninggalkan manfaat bagi orang lain, dan menjadikan hidup sebagai karya yang menginspirasi.

Albert Einstein pernah mengatakan, “Try not to become a person of success, but rather try to become a person of value.” Jangan hanya berusaha menjadi orang yang sukses, tetapi berusahalah menjadi orang yang bernilai. Atau dalam bahasa yang lebih populer: “Kesuksesan membuat orang dikenal, tetapi kebermanfaatan membuat orang dikenang. Jangan hanya mengejar prestasi untuk diri sendiri, tetapi jadilah pribadi yang memberi manfaat bagi sesama.”

Makna kutipan ini sangat mendalam. Kesuksesan sering diukur dengan jabatan, kekayaan, gelar, atau popularitas. Namun, semua itu bisa bersifat sementara. Sebaliknya, menjadi pribadi yang bernilai berarti hidup kita membawa manfaat, memberi inspirasi, menolong orang lain, menebarkan ilmu, dan meninggalkan warisan kebaikan yang tetap hidup meskipun kita telah tiada.

Pesan ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama).

Juga sejalan dengan firman Allah SWT: “…Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195).

Bagi siapa pun kita, kutipan ini mengajarkan bahwa tujuan hidup bukan sekadar menjadi orang penting (important person), tetapi menjadi orang yang membawa arti (valuable person). Sebab, jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, tetapi nilai, ilmu, dan manfaat yang kita wariskan akan terus hidup dalam hati dan kehidupan orang lain. Jangan hanya berusaha menjadi orang sukses, tetapi jadilah orang yang bernilai.

Pada akhirnya, kita semua adalah pelukis. Bedanya, kanvas kita bukan kain putih, melainkan usia yang Allah titipkan. Kuas kita adalah pilihan-pilihan hidup. Warna yang kita pilih adalah akhlak. Dan setiap hari tanpa kita sadari sesungguhnya sedang membentuk lukisan hidup kita sendiri.

Kelak ketika usia berakhir, kita tidak lagi dapat menghapus goresan yang telah dibuat. Kanvas kehidupan yang kita lukis saat ini, pada waktunya nanti akan diserahkan kembali kepada Pemilik kehidupan. Saat itulah kita berharap bahwa lukisan hidup kita dipenuhi warna-warna kejujuran, kasih sayang, ilmu, pengabdian, dan amal saleh.

Allah SWT berfirman, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8).

Ingatlah bahwa di hadirat Sang pemilik kehidupan, tidak ada satu pun sapuan jejak lukisan kita yang hilang. Tidak ada satu pun warna yang luput dari penilaian-Nya. Semua akan menjadi bagian dari lukisan kehidupan yang kita pertanggungjawabkan.

Sebagai catatan pinggir, sebelum menambah goresan baru pada kanvas kehidupan kita, berhentilah sejenak seperti seorang pelukis. 

  • Berpikirlah sebelum bertindak. 
  • Telitilah sebelum memutuskan. 
  • Pilihlah warna-warna terbaik berupa kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang. 
  • Curahkan tenaga dan pikiran untuk menghasilkan karya terbaik dalam profesi apa pun yang kita jalani. 

Dan jangan pernah puas hanya menjadi manusia yang selesai menjalani hidup; jadilah manusia yang meninggalkan lukisan kehidupan yang indah, sehingga ketika nama kita kelak hanya tinggal kenangan, orang-orang masih dapat melihat jejak kebaikan kita dan berkata, “Ia telah melukis hidupnya dengan sangat indah.” 

"Itulah mahakarya yang sesungguhnya—bukan yang dipajang di dinding, melainkan yang terukir di hati manusia dan bernilai di sisi Tuhan."

Prof. H. Maimun, M. Pd : Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram


 

0 Komentar