Sebuah inovasi pendidikan tidak cukup hanya berhasil dikembangkan. Ia harus mampu melewati proses pengujian, mendapatkan pengakuan dari para pengguna, memberikan dampak nyata, dan memiliki masa depan yang jelas. 
Ketua Tim Periset Prof. Dr. Bahtiar, M.Pd.Si (tengah) , bersama Anggota Prof. Dr. H. Maimun, M.Pd, Dr. Muhammad Zohri, M.Si, dan Ibrahim, M.Pd.
BidikNews.net,Mataram — Semangat itulah yang menjadi pijakan Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi dan Penyempurnaan PHEDEVI EduTech pada hari kedua yang berlangsung di Hotel Grand Madani Mataram, Rabu, 12 Agustus 2026.
FGD yang mempertemukan 14 dosen bidang Fisika dan Kimia dari UIN Mataram, Universitas Mataram (Unram), dan Universitas Muhammadiyah Mataram tersebut menjadi ruang akademik untuk memberikan masukan secara lebih mendalam terhadap produk pengembangan PHEDEVI EduTech (Physics Energy Digital Virtual).
Jika FGD hari pertama diarahkan pada evaluasi, validasi, penyempurnaan, implementasi, dan keberlanjutan, maka pada hari kedua pembahasan bergerak lebih jauh: memastikan produk benar-benar layak digunakan, mampu memberikan dampak, dan dapat berkelanjutan.
Tim Periset yang terdiri dari Prof. Dr. Bahtiar, M.Pd.Si selaku Ketua Tim, bersama Anggota atas nama Prof. Dr. H. Maimun, M.Pd, Dr. Muhammad Zohri, M.Si, dan Ibrahim, M.Pd. Dalam pengantar awal, Prof. Dr. Bahtiar, M.Pd.Si selaku Ketua tim Periset menegaskan, bahwa FGD hari kedua ini diarahkan pada lima agenda utama, yaitu finalisasi, uji keterpakaian, kesiapan implementasi, pengukuran dampak, dan roadmap keberlanjutan.
Lima agenda tersebut menjadi tahapan penting untuk membawa PHEDEVI EduTech dari sebuah produk hasil penelitian menuju sebuah inovasi pembelajaran yang siap digunakan di lapangan.
Agenda pertama FGD adalah finalisasi. Pada tahap ini, berbagai masukan yang diperoleh dari FGD sebelumnya menjadi bahan untuk memastikan bahwa PHEDEVI EduTech telah memiliki bentuk dan substansi yang semakin matang. Finalisasi tidak hanya menyangkut aspek teknis atau tampilan digital, tetapi juga menyentuh kualitas konten, desain pembelajaran, aktivitas mahasiswa, instruksi penggunaan, serta keterkaitan antara teknologi dan tujuan pembelajaran.
PHEDEVI EduTech dikembangkan sebagai bahan ajar digital yang mengintegrasikan Virtual Laboratory, Project-Based Learning, etnopedagogi, dan konsep Photovoltaic Thermal. Karena itu, setiap komponen harus saling terhubung dan memberikan pengalaman belajar yang utuh bagi mahasiswa.
Tim Periset ketika FGD berlangsung di Hotel Grand Madani Mataram, Rabu, 12 Agustus 2026.
Agenda kedua adalah uji keterpakaian. Sebuah produk digital mungkin terlihat canggih dari sisi teknologi, tetapi belum tentu mudah digunakan oleh dosen dan mahasiswa. Karena itu, masukan para dosen dari tiga perguruan tinggi menjadi sangat penting untuk melihat PHEDEVI EduTech dari perspektif pengguna.
Apakah navigasinya mudah? Apakah instruksinya jelas? Apakah materi dapat dipahami mahasiswa? Apakah virtual laboratory memberikan pengalaman eksperimen yang bermakna? Apakah aktivitas proyek dapat dilaksanakan secara realistis?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa teknologi benar-benar hadir untuk memudahkan proses pembelajaran, bukan justru menambah beban pengguna.
Agenda ketiga adalah kesiapan implementasi. PHEDEVI EduTech tidak boleh berhenti sebagai produk yang selesai dikembangkan, tetapi harus memiliki skenario penggunaan yang jelas dalam pembelajaran nyata.
Pada tahap ini, pembahasan diarahkan pada bagaimana dosen dapat mengintegrasikan PHEDEVI EduTech ke dalam proses perkuliahan, bagaimana mahasiswa berinteraksi dengan bahan ajar digital dan virtual laboratory, bagaimana proyek pembelajaran dilaksanakan, serta bagaimana proses pembelajaran dan asesmen dirancang.
Dengan demikian, implementasi PHEDEVI EduTech diharapkan tidak sekadar berarti “menggunakan platform”, tetapi menghadirkan perubahan dalam pengalaman belajar mahasiswa. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya membaca dan menerima informasi, melainkan mengamati, mengeksplorasi, melakukan simulasi, menganalisis data, memecahkan masalah, mengembangkan proyek, dan menghasilkan gagasan kreatif.
Di sinilah kekuatan PHEDEVI EduTech sebagai inovasi pembelajaran mulai diuji.
Agenda keempat adalah pengukuran dampak. Produk pendidikan pada akhirnya harus menjawab pertanyaan paling penting: apa perubahan yang dihasilkan?
PHEDEVI EduTech diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap pengembangan problem solving, literasi sains, kreativitas, dan kemampuan berpikir mahasiswa. Oleh karena itu, keberhasilan implementasinya perlu diukur berdasarkan indikator yang jelas.
Para peserta FGD PHEDEVI EduTech
FGD menjadi momentum untuk memastikan bahwa instrumen dan indikator pengukuran dampak benar-benar mampu menangkap perubahan tersebut. Dengan demikian, keberhasilan PHEDEVI EduTech tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang menggunakan produk atau seberapa sering platform diakses, tetapi dari seberapa jauh penggunaannya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.
Agenda terakhir adalah penyusunan roadmap keberlanjutan. Inilah bagian yang menentukan apakah PHEDEVI EduTech akan berakhir ketika proyek penelitian selesai atau justru berkembang menjadi inovasi yang terus hidup.
Keberlanjutan membutuhkan strategi yang jelas, mulai dari pengelolaan platform, pembaruan konten, pengembangan fitur, peningkatan kapasitas dosen, perluasan pengguna, hingga kemungkinan replikasi di perguruan tinggi lain. Karena itu, PHEDEVI EduTech diarahkan bukan hanya sebagai sebuah produk penelitian, tetapi sebagai sebuah ekosistem pembelajaran digital yang dapat terus dikembangkan sesuai perkembangan teknologi, kebutuhan pembelajaran, dan tantangan pendidikan masa depan.
Keterlibatan 14 dosen Fisika dan Kimia dari tiga perguruan tinggi menjadi kekuatan penting dalam proses tersebut. Beragam pengalaman akademik dan perspektif keilmuan yang hadir dalam FGD memungkinkan produk diuji dari berbagai sudut pandang. Kritik, saran, dan rekomendasi yang diberikan bukan sekadar koreksi terhadap produk, tetapi menjadi bagian dari proses co-creation, yaitu membangun inovasi secara kolaboratif bersama calon pengguna.
Pada akhirnya, FGD hari kedua PHEDEVI EduTech membawa satu pesan penting: inovasi pendidikan tidak selesai ketika produknya selesai dibuat. Inovasi baru benar-benar dimulai ketika produk tersebut digunakan, dirasakan manfaatnya, diukur dampaknya, dan terus dikembangkan.
Peserta FGD berpose bersama
Karena itu, lima agenda FGD hari kedua—Finalisasi, Uji Keterpakaian, Kesiapan Implementasi, Pengukuran Dampak, dan Roadmap Keberlanjutan, merupakan jembatan yang menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan nyata dunia pendidikan.
PHEDEVI EduTech diharapkan mampu menjawab tantangan pembelajaran sains di era digital dengan mempertemukan teknologi, pedagogi, energi terbarukan, virtual laboratory, project-based learning, dan kearifan lokal dalam sebuah pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna.
Dengan demikian, tujuan akhir FGD ini bukan sekadar menghasilkan produk yang “selesai”, melainkan memastikan bahwa PHEDEVI EduTech layak digunakan, mampu memberi dampak, dan memiliki masa depan yang berkelanjutan. Dari ruang FGD inilah sebuah produk penelitian diharapkan bertransformasi menjadi inovasi pendidikan yang benar-benar hadir, digunakan, dirasakan, dan memberi manfaat bagi pembelajaran serta masa depan mahasiswa. (Humas-ppid UIN Mataram)
Pewarta: TIM
0 Komentar