BidikNews.net,Mataram — Inovasi pembelajaran tidak cukup hanya berhenti pada penciptaan sebuah produk. Sebuah inovasi harus terus diuji, dievaluasi, divalidasi, disempurnakan, diimplementasikan, dan dipastikan keberlanjutannya agar benar-benar memberikan dampak bagi dunia pendidikan. 
Ketua tim periset MoRA The AIR FundsProf. Dr. Bahtiar, M.Pd.Si. ketika menyampaikan pengantar dalam FGD didampingi anggota Tim periset lainnya.
Semangat inilah yang menjadi landasan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) hari pertama Evaluasi dan Penyempurnaan PHEDEVI EduTech yang dilaksanakan pada Selasa, 11 Agustus 2026, di Hotel Grand Madani Mataram.
FGD tersebut menjadi ruang akademik untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan perspektif para dosen bidang Fisika dan Kimia dari berbagai perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 14 orang dosen dari UIN Mataram, Universitas Mataram (Unram), dan Universitas Muhammadiyah Mataram hadir memberikan masukan terhadap produk pengembangan PHEDEVI EduTech (Physics Energy Digital Virtual).
Kegiatan ini merupakan bagian penting dari proses pengembangan PHEDEVI EduTech sebagai inovasi bahan ajar digital berbasis Virtual Laboratory dan Project-Based Learning (PjBL) yang bernuansa etnopedagogi, dengan mengintegrasikan konsep Photovoltaic Thermal untuk mendukung pengembangan kemampuan problem solving, literasi sains, dan kreativitas mahasiswa.
Dalam pengantar FGD, Prof. Dr. Bahtiar, M.Pd.Si. selaku ketua tim periset MoRA The AIR Funds, menegaskan bahwa forum tersebut tidak sekadar dimaksudkan untuk memperkenalkan produk yang telah dikembangkan, tetapi menjadi tahap penting untuk memastikan bahwa PHEDEVI EduTech memiliki kualitas akademik dan pedagogis yang memadai sebelum diimplementasikan secara lebih luas.
Menurutnya, terdapat empat agenda utama yang menjadi orientasi FGD, yakni evaluasi, validasi dan penyempurnaan, implementasi, serta keberlanjutan.
Empat Tahap Menuju Inovasi yang Berdampak
Tahap pertama adalah evaluasi. Pada tahap ini, PHEDEVI EduTech perlu dilihat secara kritis dari berbagai aspek, baik dari sisi substansi materi, desain pembelajaran, teknologi, kemudahan penggunaan, maupun relevansinya dengan kebutuhan mahasiswa dan dosen.
Evaluasi menjadi penting karena produk pendidikan yang baik bukanlah produk yang dianggap sempurna oleh pengembangnya, melainkan produk yang bersedia diuji dan dikritisi oleh para penggunanya.
Peserta FGD FGD PHEDEVI EduTech
Tahap kedua adalah validasi dan penyempurnaan. Masukan dari 14 dosen Fisika dan Kimia menjadi bagian penting untuk menguji ketepatan konsep, relevansi materi, desain aktivitas pembelajaran, kualitas virtual laboratory, serta keterkaitan antara teknologi yang digunakan dengan capaian pembelajaran.
Proses validasi tersebut diharapkan mampu menemukan berbagai aspek yang masih perlu diperbaiki. Dengan demikian, PHEDEVI EduTech tidak hanya menarik secara visual dan teknologis, tetapi juga kuat secara akademik, pedagogis, dan metodologis.
Tahap ketiga adalah implementasi. Produk yang telah dievaluasi dan disempurnakan harus mampu diterapkan dalam situasi pembelajaran nyata. Di sinilah PHEDEVI EduTech diuji apakah benar-benar dapat membantu dosen menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif, kontekstual, kolaboratif, dan berorientasi pada pemecahan masalah.
Melalui kombinasi bahan ajar digital, virtual laboratory, project-based learning, etnopedagogi, dan konsep energi terbarukan, PHEDEVI EduTech diarahkan untuk mengubah pengalaman belajar mahasiswa dari sekadar menerima informasi menjadi mengalami, mengeksplorasi, menganalisis, menciptakan, dan memecahkan persoalan.
Sementara itu, tahap keempat adalah keberlanjutan. Bagi tim pengembang, keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya diukur dari lahirnya produk, tetapi dari kemampuannya untuk terus digunakan, dikembangkan, direplikasi, dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Mempertemukan Akademisi dan Kebutuhan Pembelajaran dengan kehadiran para dosen dari tiga perguruan tinggi menjadi kekuatan tersendiri dalam FGD tersebut. Perbedaan lingkungan akademik, pengalaman mengajar, karakteristik mahasiswa, serta perspektif keilmuan memungkinkan PHEDEVI EduTech memperoleh masukan yang lebih beragam.
Forum FGD tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan inovasi pendidikan membutuhkan kolaborasi lintas perguruan tinggi. Inovasi tidak seharusnya dikembangkan dalam ruang yang tertutup, tetapi perlu dibuka untuk diuji oleh berbagai pihak agar kualitasnya semakin kuat.
PHEDEVI EduTech sendiri membawa gagasan yang cukup strategis dalam pembelajaran sains. Konsep energi terbarukan, khususnya Photovoltaic Thermal, tidak hanya ditempatkan sebagai materi fisika, tetapi dikaitkan dengan persoalan nyata mengenai energi, lingkungan, teknologi, dan kehidupan masyarakat.
Lebih menarik lagi, pengembangan tersebut dibingkai melalui pendekatan etnopedagogi lokal. Artinya, teknologi digital tidak dimaksudkan untuk menghilangkan konteks lokal, tetapi justru dapat menjadi instrumen untuk menghadirkan kekayaan lokal ke dalam ruang pembelajaran modern.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pebelajar yang mampu membaca persoalan di lingkungannya, menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan realitas kehidupan, serta menghasilkan gagasan dan solusi kreatif.
Dari Produk Digital Menuju Ekosistem Pembelajaran
FGD PHEDEVI EduTech pada akhirnya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar penyempurnaan sebuah platform atau bahan ajar digital. Forum ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pembelajaran sains yang relevan dengan tuntutan abad ke-21.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, mahasiswa membutuhkan pengalaman belajar yang tidak hanya menekankan penguasaan konsep, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, berkreasi, serta memiliki literasi sains yang kuat.
Tim Periset dan peserta FGD beropse bersama usai kegiatan
Karena itu, PHEDEVI EduTech diarahkan untuk mempertemukan teknologi, pedagogi, sains, energi terbarukan, dan kearifan lokal dalam satu pengalaman pembelajaran yang terintegrasi.
FGD yang berlangsung di Hotel Grand Madani Mataram tersebut menjadi momentum penting untuk memastikan bahwa inovasi yang telah dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan pembelajaran. Masukan dari para akademisi diharapkan menjadi energi baru bagi tim PHEDEVI EduTech untuk melakukan penyempurnaan sebelum memasuki tahap implementasi yang lebih luas.
Pada akhirnya, keberhasilan PHEDEVI EduTech bukan terletak pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi pada seberapa jauh teknologi tersebut mampu membuat mahasiswa belajar lebih bermakna, berpikir lebih kritis, memecahkan masalah lebih kreatif, memahami sains secara lebih mendalam, dan menghasilkan solusi bagi kehidupan nyata.
Dari Mataram, inovasi pembelajaran itu sedang dirawat: dievaluasi agar lebih kuat, divalidasi agar lebih tepat, diimplementasikan agar memberi dampak, dan dijaga keberlanjutannya agar manfaatnya tidak berhenti pada sebuah proyek, tetapi tumbuh menjadi gerakan pembelajaran yang berkelanjutan. (Humas-ppid UIN Mataram)
Pewarta: TIM

0 Komentar