Enam dekade bukan sekadar hitungan usia, melainkan perjalanan panjang tentang pengabdian, perjuangan, dan dedikasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Semangat itulah yang mewarnai Sidang Senat Terbuka Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram dalam rangka Dies Natalis ke-60, yang diselenggarakan pada Senin, 26 Oktober 2026.
BidikNews,Mataram - Momentum bersejarah ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang institusi, sekaligus peneguhan tekad untuk membawa UIN Mataram melangkah lebih jauh sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing internasional.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Mataram menegaskan bahwa perjalanan enam puluh tahun universitas ini merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan pendidikan tinggi Islam di Nusa Tenggara Barat dan kawasan Indonesia bagian Timur.
Berawal dari IAIN Mataram yang memiliki akar historis sebagai cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya, lembaga ini tumbuh melalui berbagai fase perkembangan hingga bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri Mataram pada tahun 2017.
Perubahan status tersebut bukan sekadar pergantian nama atau perluasan kelembagaan, melainkan tonggak penting dalam memperluas cakrawala keilmuan, memperkuat kualitas pendidikan, dan meningkatkan kontribusi perguruan tinggi Islam bagi masyarakat.
Enam puluh tahun perjalanan itu menyimpan cerita tentang ketekunan para pendiri, perjuangan para pendidik, serta harapan masyarakat yang menjadikan pendidikan sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
UIN Mataram hadir dan berkembang di tengah kebutuhan masyarakat terhadap sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam akhlak, matang dalam spiritualitas, dan memiliki kepedulian sosial.
Dalam konteks inilah, UIN Mataram menempati posisi strategis sebagai salah satu fondasi penting pengembangan pendidikan Islam di kawasan Bali dan Nusa Tenggara (Bali Nusra).
Rektor menekankan bahwa pendidikan tinggi Islam memiliki tanggung jawab yang jauh melampaui ruang-ruang perkuliahan. Kampus harus menjadi tempat lahirnya generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai keislaman. Ilmu pengetahuan harus melahirkan kemaslahatan, teknologi harus memperluas peluang kemajuan, dan pendidikan harus membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak.
Dengan semangat tersebut, UIN Mataram terus berupaya mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern dalam menghadapi dinamika masyarakat yang semakin kompleks.
Memasuki usia ke-60, UIN Mataram juga menunjukkan perkembangan sumber daya akademik yang semakin kuat. Saat ini, UIN Mataram memiliki 73 Guru Besar dan 174 doktor. Capaian ini menjadi modal strategis bagi penguatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan budaya akademik yang produktif dan kompetitif.
Di balik angka-angka tersebut terdapat tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa keunggulan akademik tidak berhenti pada gelar dan jabatan, tetapi menjelma menjadi karya ilmiah, inovasi, pemikiran kritis, dan solusi nyata bagi persoalan masyarakat.
Kehadiran para Guru Besar dan doktor di lingkungan UIN Mataram diharapkan semakin memperkokoh tradisi akademik yang terbuka, dinamis, dan berorientasi pada kemajuan.
Mereka memiliki peran penting dalam membimbing generasi muda, mengembangkan riset yang relevan, memperluas jejaring keilmuan, serta memperkuat posisi universitas dalam percaturan akademik nasional maupun internasional. Dengan demikian, kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi utama bagi perjalanan UIN Mataram menuju universitas yang semakin diperhitungkan.
Pada bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi ilmiah, UIN Mataram terus membangun kontribusi yang memberi warna terhadap perkembangan institusi. Produktivitas akademik dosen menjadi salah satu unsur penting dalam memperkuat reputasi universitas, memperluas diseminasi pengetahuan, dan meningkatkan keterlihatan karya ilmiah di tingkat global.
Dalam sambutannya, Rektor menempatkan kontribusi tersebut sebagai bagian dari perjalanan UIN Mataram dalam memperkuat posisi dan daya saing di tengah perkembangan pemeringkatan perguruan tinggi, seperti Webometrics Ranking of World Universities, QS World University Rankings, Times Higher Education (THE) World University Rankings, serta berbagai pemeringkatan akademik lainnya.
Upaya memperkuat reputasi internasional tentu membutuhkan kerja yang berkelanjutan. Publikasi ilmiah yang berkualitas, penelitian kolaboratif, pengabdian berbasis kebutuhan masyarakat, tata kelola yang profesional, dan jejaring kemitraan global harus terus dikembangkan secara terintegrasi.
Pemeringkatan bukanlah tujuan akhir, melainkan salah satu instrumen untuk mengevaluasi perkembangan institusi, mengukur keterlihatan akademik, dan mendorong peningkatan mutu secara konsisten. Esensi kemajuan tetap terletak pada kemampuan universitas menghadirkan pendidikan bermutu dan menghasilkan pengetahuan yang memberikan manfaat luas.
Langkah internasionalisasi UIN Mataram juga tercermin dari kehadiran 43 mahasiswa asing yang berasal dari 10 negara. Kehadiran mahasiswa internasional tersebut menjadi penanda semakin terbukanya ruang perjumpaan lintas bangsa dan budaya di lingkungan kampus.
Mereka bukan sekadar bagian dari statistik penerimaan mahasiswa, tetapi juga menjadi jembatan dialog antarbudaya, pertukaran pengalaman, dan penguatan pemahaman terhadap Islam yang ramah, moderat, serta menghargai keberagaman.
Keberadaan mahasiswa asing memberikan peluang bagi UIN Mataram untuk membangun lingkungan akademik yang lebih kosmopolitan, memperluas perspektif pembelajaran, dan meningkatkan interaksi global. Dalam ruang kampus, perbedaan bahasa, budaya, dan pengalaman hidup dapat menjadi sumber pembelajaran yang memperkaya wawasan seluruh sivitas akademika.
Dari Mataram, nilai-nilai keislaman, kebijaksanaan lokal, dan semangat persaudaraan dapat dipertemukan dengan masyarakat dunia melalui pendidikan dan pertukaran pengetahuan.
Komitmen terhadap internasionalisasi tersebut semakin diperkuat melalui proses akreditasi internasional oleh Acquin terhadap 30 program studi. Langkah ini merupakan bagian penting dari ikhtiar meningkatkan kualitas dan pengakuan internasional terhadap penyelenggaraan pendidikan di UIN Mataram.
Akreditasi internasional mendorong program studi untuk terus mengevaluasi kurikulum, proses pembelajaran, tata kelola akademik, layanan mahasiswa, serta relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja.
Proses tersebut sekaligus menjadi momentum untuk membangun budaya mutu yang tidak bersifat seremonial, tetapi hadir dalam praktik keseharian. Mutu harus tercermin dalam kualitas pembelajaran, ketajaman penelitian, kompetensi lulusan, integritas akademik, dan kemampuan institusi beradaptasi terhadap perubahan.
Dengan penguatan standar pendidikan dan evaluasi berkelanjutan, UIN Mataram berupaya memastikan bahwa transformasi kelembagaan benar-benar berjalan seiring dengan peningkatan kualitas layanan akademik.
Di tengah berbagai capaian tersebut, Dies Natalis ke-60 menjadi pengingat bahwa keberhasilan institusi bukan semata-mata diukur dari usia, jumlah guru besar, publikasi ilmiah, mahasiswa internasional, atau pengakuan eksternal.
Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana universitas mampu menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat, melahirkan lulusan yang berintegritas, memperkuat moderasi beragama, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan untuk membangun peradaban yang lebih adil dan bermartabat.
Karena itu, perjalanan menuju usia ke-60 harus dibaca sebagai titik tolak untuk melangkah lebih jauh. Tantangan transformasi digital, perubahan kebutuhan dunia kerja, persaingan global, persoalan lingkungan, dan dinamika sosial-keagamaan menuntut universitas untuk terus berinovasi.
UIN Mataram perlu memperkuat kolaborasi, mengembangkan riset unggulan, meningkatkan kualitas publikasi, memperluas kemitraan internasional, dan menghadirkan inovasi pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan masa depan tanpa meninggalkan akar nilai keislaman dan kearifan lokal.
Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-60 ini pada akhirnya menjadi momentum untuk menyatukan ingatan tentang masa lalu, kesadaran atas pencapaian masa kini, dan optimisme terhadap masa depan.
Enam puluh tahun perjalanan telah membuktikan bahwa institusi pendidikan dapat tumbuh bersama harapan masyarakat, berkembang melalui kerja kolektif, dan memperluas pengaruhnya melalui pengabdian yang berkelanjutan.
Dari jejak sejarah IAIN Mataram hingga transformasinya menjadi UIN Mataram, terbentang perjalanan panjang yang patut disyukuri sekaligus dilanjutkan dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Dengan kekuatan 73 Guru Besar, 174 doktor, kehadiran 43 mahasiswa asing dari 10 negara, serta langkah akreditasi internasional bagi 30 program studi, UIN Mataram memiliki modal penting untuk memperkuat kualitas dan reputasinya.
Enam puluh tahun UIN Mataram adalah kisah tentang ilmu yang tumbuh, pengabdian yang berakar, dan cita-cita yang terus menyala.
Dari tanah Lombok, UIN Mataram meneguhkan komitmennya untuk menjadi universitas yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga kuat dalam karakter, luas dalam pergaulan global, dan nyata dalam memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Sebab, universitas besar bukan hanya universitas yang dikenang karena panjang usianya, melainkan universitas yang terus menghadirkan harapan dan meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi yang akan datang.
Pewarta: TIM








0 Komentar