Manusia hadir ke bumi secara turun temurun mewarisi amanah yang telah diterima oleh nenek moyangnya, manusia pertama yang diutus ke bumi yaitu Adam dan Hawa. Tujuan dihadirkannya ke bumi selain sebagai khalifah juga melakukan ibadah, mengabdi kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta, berdasarkan ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan.
IBADAH yang dilakukan dapat dijalankan dengan baik, manakala dalam kehidupannya dapat memenuhi berbagai kebutuhan baik yang bersifat ruhaniah (non materi) maupun material. Kedua kebutuhan ini, ada yang bersifat wajib untuk dipenuhi dan yang bersifat sunah, dan keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Jika salah satu kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi, dipastikan perjalanan kehidupan manusia berjalan pincang dan tidak seimbang.
Khusunya pemenuhan kebutuhan yang bersifat materi, manusia harus mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam yang tersedia, baik berada di atas permukaan bumi maupun yang berada di perut bumi. Hampir semuanya masih dalam keadaan asli, sehingga manusialah yang akan mengelola dan menciptakannya untuk menjadi barang maupun jasa yang menjadi kebutuhannya.
Manusia yang telah dibekali akal, dipergunakannya untuk memikirkan apa yang dibutuhkan (what), bagaimana cara memperolehnya (how), berapa banyak yang harus dihasilkan (how much), untuk siapa dan jenis apa saja (for who), kapan dihasilkan (when) dan dimana tempat dihasilkan atau diproduksi (where). Semua itu dapat dijawab dan diwujudkan ketika akal telah mampu mengidentifikasi dan memahami tekniknya.
Kebutuhan ini wajib dijaga dan dipelihara dengan baik agar proses kehidupan di dunia berjalan dengan baik meskipun banyak tantangan yang menghalanginya. Banyak onak/duri yang menusuk, ada tembok kokoh yang harus diterjang, ada liang dan lobang yang harus dilewati dan aneka hambatan lainnya.
Memenuhi kebutuhan hidup manusia, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu (1) memanfaatkan harta alami yang telah dimiliki dan dikuasai; (2) dengan berusaha (bekerja).
(1) Memanfaatkan Harta.
Harta merupakan sejumlah sumber daya yang dimiliki dan dikuasai oleh seseorang yang diperoleh dari berbagai sumber. Meski harta berada di bawah kekuasaan mutlaknya, namun tidak dapat bersifat permanen, karena sebahagiannya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga harus didistribusikan.
Oleh karenanya, supaya harta tidak berkurang, maka sumber-sumber harta harus dialokasikan secara teratur, dikelola dengan baik, supaya kelestariannya dapat terjaga, bersifat berkesinambungan, agar dapat dirasakan oleh generasi berikutnya.
Harta kekayaan yang disediakan Allah di bumi cukup banyak, dan manusia tinggal berusaha dan berkorban untuk mendapatkannya dan menguasainya. Sumber harta kekayaan alami yang dapat memenuhi kebutuhan hidup adalah di sektor pertanian secara luas dan peternakan. Sedangkan di lautan ada sektor perikanan dan kandungan kekayaan aneka jenis di bawahnya.
Sumber daya yang berada di kandungan bumi melimpah, tak terhitung bobotnya, setelah diolah berubah menjadi harta, sebahagiannya disimpan, yang lainnya menjadi sumber pendatapan, dipergunakan pula untuk membeli harta yang lain.
Siapa yang memberi semuanya itu. Insan beriman dan berakal pasti menjawab bersumber dari Sang Maha Pencipta, ia tidak hadir sendiri dan otomatis, pasti Allah SWT yang menciptakan , dan sebahagiaan besar dalam keadaan asli.
Pertanyaan lebih lanjut, apakah semuanya dibeli atau dibayar. Jawabannya pasti tidak, semuanya diperoleh secara gratis untuk manusia. Tugas manusia adalah bagaimana mengolah menjadi barang yang bernilai ekonomi, bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Pada saat inilah manusia melakukan pengorbanan baik dari tenaga maupun biaya.
Sebagai insan yang beriman dan yang memiliki akal, mampu menghadirkan pikiran yang rasional, menyadari bahwa semua yang telah Allah ciptakan tidak ada yang sia-sia, dan selalu memuji dan berterima kasih kepadaNya. Dia selalu meminta perlindungan kepada Allah, menjadi orang yang terus mensyukuri nikmat dan bukan orang yang mengingkarinya.
Disadarinya bahwa harta yang dimilikinya, meski diraih dengan pengorbanan, namun tidak semua menjadi miliknya. Disadarinya ada hak orang lain yang harus dipenuhi dan harus didistribusikannya. Dia tidak menunda menanti waktu yang tepat untuk mengeluarkannya, harta yang ada sekarang mungkin dibutuhkan untuk dimanfaatkan sekarang juga.
Dengan cara ini ia telah menjadi manusia yang berkualitas, telah mampu membebaskan dirinya dari golongan orang yang kikir dan pelit sekaligus rakus dan tamak. Dia telah mampu membebaskan dirinya dari kemiskinan jiwa yang menggerogoti diri, dia telah menempatkan diri sebagai manusia dermawan dan terlepas dari ciri manusia yang tidak berkualitas yaitu bebas dari manusia terhina sebagaimana untaian doa yang selalu diucapkannya.
Dia telah mampu memenuhi kebutuhan hidup di dunia sekaligus menghmpun kebutuhan hidup akhiratnya. Ia telah mampu meraih golongan manusia beruntung, yaitu orang yang menafkahkan rejeki yang Allah berikan dengan berdistribusi harta baik berupa Zakat, harta, Infaq maupun jenis lainnya.
Dia juga telah mampu membebaskan dirinya dari golongan orang yang mendustakan agama sebagaimana firman Allajh dalam surat Al-Ma-un. Melalui harta yang dimiliki ia gunakan untuk menyantuni anak yatim disertai dengan kata-kata indah, sejuk dan tidak menghardiknya. Ia membebaskan dirinya dari orang yang menahan memberi makan orang miskin.
Insan berkualitas semakin melekat dalam dirinya, ketika disadari bahwa semua muamalah di atas merupakan implementasi interaksi dengan sesama manusia. Ia tidak mau semua yang dilakukannya sia-sia dan tak bermakna bila interaksi dengan Allah SWT tidak dilakukan dengan bersinambungan.
Hubungan langsung dengan Allah adalah melakukan interaksi wajib melalui sholat selama lima kali dalam sehari ditambah dengan sholat-sholat sunat. Ia tidak ingin interaksi dengan Allah dilupakan dan dilalaikan, terlebih ada unsur ria di dalamnya. Ia sangat takut dengan ancaman Allah, akan mendapatkan neraka wail bila lalai melaksanakan sholat.
Ia membebaskan dirinya dari orang yang dicap sebagai orang tidak mau memberi dengan mengeluarkan zakat padahal sudah memenuhi syarat ketentuan zakat. Sesegera mungkin zakat ini dikeluarkannya, agar jiwanya bersih dan membantu orang yang membutuhkan.
Insan berkualitas adalah insan yang mampu menghadirkan kedamaian dan ketentraman kehidupan di dunia. Sumber daya alam yang dimanfaatkan tidak dibiarkan rusak sehingga berdampak luas bagi orang lain. Ia berusaha melestarikan untuk menghadirkan kembali segala bentuk tumbuhan dan hewan yang telah dimanfaatkan agar tidak punah.
Bujukan dan rayuan nafsu dikalahkan dengan pikiran rasional dan tidak mau kalah berperang melawan nafsu yang selalu mengarah pada kehidupan yang mencintai dunia.
Insan berkualitas adalah yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia sekaligus memupuk dan menghimpun kebutuhan hidup di akhirat. Itulah kebutuhan hidup yang ideal,
Sebagaimana Allah berfirman : “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada oran lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (Al-Qashah, 77).
Implementasi dari doa yang sering diucapkan “Ya Allah, anugerahkanlah kami kehidupan yang baik di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksaan api neraka”.
Rasulullah SAW telah bersabda “Rusak binasalah orang-orang yang memperbanyak harta. Kecuali orang yangmenghususkannya (membelakanjakannya) untuk kepentingan hamba-hamba Allah, sedemikian dan sedemikian, tetapi sedikit yang berbuat semacam itu (HR. Bukhari dan Muslim).
“Manusia dalam menjalani tugas dan kemanusiannya (insaniyah) tidak berjalan bebas tanpa kendali, bergerak ke segala arah tanpa petunjuk, serta memenuhi berbagai kebutuhan hidup tanpa ada yang mengaturnya” (M. Irwan dan M. Salahudin, 2022). Bersambung……


0 Komentar