Hikmah Jum`at : Peduli, Energi dan Busana Kehidupan

Oleh : Prof. DR. H. Maimun Zuibair, M. Pd,

PEDULI merupakan sikap dasar dan esensial yang seharusnya melekat sebagai bagian dari diri dan menjadi salah satu ciri khas yang membedakan kita dari makhluk lain. Sikap peduli adalah kemampuan untuk merasakan empati yang termanifestasi dalam berbagai bentuk partisipasi kemanusiaan berupa kepekaan, perhatian, atau respons terhadap apa saja dan siapa saja dalam ranah kebutuhan, penderitaan, atau pun kesejahteraan.

Peduli itu mencerminkan adanya kearifan dan kesadaran diri akan keterkaitan dan rasa tanggung jawab moril untuk harmonisasi, bahwa diri ini bagian dari makrokosmos. Saat kita memahami dan merespon siapa dan apa saja, sesungguhnya kita sedang menciptakan saling pengertian dan dukungan sebagai bentuk perhatian positif.

Sikap peduli menjadi pilar moral yang memantik tidak hanya respon secara fisik, tetapi juga menciptakan ikatan emosional dan kepekaan yang dapat membuka ruang empati, adil, dan manusiawi dalam diri.

Kemuliaan seseorang yang memiliki sikap peduli terletak pada pilihan yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi memilih untuk empati dan peka terhadap apa dan siapa saja di luar dirinya. Ia akan senantiasa melakukan sesuatu dalam berbagai bentuk, termasuk dukungan moral, bantuan fisik, atau pun pengorbanan waktu dan pikiran. Selain itu, kemuliaan juga nampak jelas dari kemampuan melihat nilai dan potensi yang menyebabkannya tidak memandang rendah dan remeh terhadap siapa dan apa saja.

Intinya, kemuliaan orang yang peduli bukan karena rangsangan reputasi atau pujian dari luar dirinya, akan tetapi lebih merupakan hasil dari integritas dan dedikasi untuk membuat kehidupan ini menjadi tempat yang sangat baik bagi siapa dan apa saja.

Kemampuan untuk merasakan peduli juga akan membentuk kesadaran diri bahwa kita tidak hanya menjalani kehidupan sendiri, tetapi ada keterhubungan dengan siapa dan apa saja melalui ikatan emosional dan moral.

Foto : Repro BidikNews.net

Sebagai makhluk yang tercipta dengan sebaik-baik penciptaan, kita mempunyai tanggung jawab untuk keberlanjutan kehidupan generasi demi generasi, yang hanya dapat dilakukan dengan menjadikan peduli sebagai energi kehidupan. Ketika kita sanggup untuk peduli, sesungguhnya kita sedang menegaskan diri untuk mencontoh sifat Tuhan yang Maha Kasih dan Maha Peduli terhadap makhluk-Nya dengan penuh rasa cinta, kebaikan, dan perhatian (Perhatikan makna dari penegasan Tuhan yang diulang sebanyak 31 kali di surah Ar Rahman yang menandai betapa Tuhan sangat peduli, “Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban”. Terjemahannya: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan).

Ketika kita menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap siapa dan apa saja, itu sejalan dengan nilai-nilai kasih sayang yang diajarkan Tuhan dalam sepak terjang-Nya. Ketika kita peduli terhadap ciptaan-Nya, kita ikut berperan menjadi mitra Tuhan dalam menjaga harmoni dan keseimbangan di alam semesta ini.

Jadi, ketika kita menunjukkan kepedulian, kita tidak hanya membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik untuk semua (oikos), tetapi juga meresapi nilai-nilai yang dihargai dan dicintai oleh Tuhan.

Sikap peduli memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan hidup. Ketika kita peduli terhadap lingkungan, sosial, dan kemanusiaan, kita secara efektif ikut berkontribusi pada upaya menciptakan kehidupan yang berkelanjutan. Sikap peduli terhadap lingkungan berarti kita menyadari dampak aktivitas kita terhadap ekosistem, turut berperan dalam melindungi dan menjaga keseimbangannya.

Demikian pula sikap peduli terhadap orang-orang di sekitar kita, dengan melibatkan diri dalam kegiatan kemanusiaan dan membangun hubungan yang positif dapat mewujudkan keharmonisan dan kesejahteraan bersama.

Foto : Repro BidikNews.net

Mengadopsi sikap peduli, kita tidak hanya berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan kemanusiaan, akan tetapi juga menciptakan pola pikir kolektif tentang pentingnya kepekaan diri. Setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan kehidupan yang berkelanjutan, dan sikap peduli merupakan landasan yang kuat untuk mewujudkannya. 

Jadi peduli itu seperti baju yang kita kenakan sehari-hari. Saat kita memilih untuk peduli, seakan-akan kita mengenakan pakaian yang mencirikan kita sebagai makhluk terbaik. Saat kita peduli, maka orang-orang bisa melihat bahwa kita adalah individu yang memilih untuk memikirkan tidak hanya diri sendiri.

Perhatikan sindiran Tuhan agar hamba-Nya senantiasa peduli,  “Waltakum mingkum ummatuy yad’ụna ilal-khairi wa ya`murụna bil-ma’rụfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulā`ika humul-mufliḥụn”. Terjemahannya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. ( QS. Ali Imran  ayat 104).

Peduli merupakan kunci untuk menciptakan kondisi dunia yang lebih baik. Kita senantiasa harus menyadari bahwa setiap tindakan kita memiliki dampak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menjadi manusia yang peduli berarti kita telah memikirkan bagaimana agar tindakan kita dapat memberi pengaruh positif. 

Cobalah untuk melihat dunia dari luar sudut pandang diri sendiri, maka kita pasti akan berempati dan merespon sesuatu dengan yang lebih baik. Ingatlah, bahwa kepedulian adalah investasi untuk kedamaian di masa depan. Dengan kepedulian, secara tidak sadar kita telah merancang perubahan positif dalam kehidupan nyata.

Sebagai sesuatu yang niscaya, peduli merupakan fondasi etika dan moralitas. Keberadaannya memperkaya nilai-nilai individu dan sosial. Ketika kita secara sadar memilih untuk peduli, kita berinvestasi dalam kualitas kehidupan bersama dan menciptakan kehidupan yang indah dan lebih baik bagi semua. Maka senantuiasalah kita untuk menjadikan peduli sebagai identitas diri terhadap siapa

Foto : Repro BidikNews.net

saja, apa saja dan di mana saja, maka kehidupan ini akan terasa lebih mudah, lebih damai, lebih indah, dan tentunya lebih menyenangkan. 

Penulis : adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri –UIN Mataram 


0 Komentar